You are here
Home > Berita Pilihan Editor > An Inconvenient Sequel: Truth To Power, Dampak Nyata Perubahan Iklim Dunia

An Inconvenient Sequel: Truth To Power, Dampak Nyata Perubahan Iklim Dunia

Amanda Katili saat memberikan sambutan sebelum film dimulai – (DG/Wawan Akuba)

DeGorontalo – Sejumlah komunitas di Gorontalo menggagas pemutaran film An Inconvenient Sequel: Truth To Power di Bioskop Gorontalo, pada 8 Agustus kemarin.

Film yang merupakan sekuel dari An Inconvenient Truth yang dirilis pada 2006 silam itu, membahas perubahan iklim yang semakin mengancam kehidupan manusia, juga dampaknya yang sudah dapat dirasakan saat ini.

Disutradarai Bonni Cohen dan Jon Shenk, film ini memperlihatkan bagaimana peran Al Gore, mantan Wakil Presiden Amerika Serikat di era Bill Clinton tersebut, mendorong masyarakat untuk bisa mandiri menggunaan energi terbarukan dan meninggalkan energi fosil untuk menghindari ancaman perubahan iklim.

Penonton yang menunggu jam tayang film An Inconvenient Sequel: Truth To Power – (DG/Wawan Akuba)

Ketua Omar Niode Foundation, Amanda Katili, saat diwawancarai mengatakan, film ini patut ditonton karena menyangkut fenomena global yang dampaknya juga dirasakan secara global. Ia mengharapkan para penonton dapat menyikapi hal ini sesuai dengan bidangnya.

“Seniman misalnya, ia bisa membuat sebuah karya yang terinsipirasi dari film ini, sehingga orang yang melihat dapat memahami hal ini (perubahan iklim) dari karya yang ia buat,” katanya, di lokasi pemutaran.

Menurutnya, Indonesia sudah terkena dampak perubahan iklim ini. Semisal adanya penelitian dari para ilmuwan tentang suhu bumi yang meningkat drastis, selain itu juga terjadi hal-hal ekstreme seperti kepunahan hewan dan kekeringan hampir di semua daerah.

“Meskipun tidak semua permasalahan itu diakibatkan oleh perubahan iklim, tetapi setidaknya perubahan iklim ini memperparah keadaan yang ada,” katanya.

Baca Juga :

Namun menurut Amanda, satu hal yang menggembirakan di Indonesia karena masyarakatnya tidak menentang kebijakan-kebijakan pemerintah tentang pencegahan perubahan iklim.

“Di Amerika itu, justru banyak masyarakanya yang menolak kebijakan pemerintah di sana, jadi di Indonesia terbilang baik untuk kebijakan-kebijakan tentang perubahan iklim ini.”

Ian Morse, salah satu penerima beasiswa Fullbright US Student yang saat ini menjadi Asisten Pengajar Bahasa Inggris, di salah satu sekolah menengah atas di Batudaa, Kabupaten Gorontalo, mengapresiasi apa yang dilakukan oleh Al Gore untuk bumi. Menurutnya semangat semacam itu perlu ditiru untuk misi penyelamatan bumi.

Selain itu, ia sebagai warga Amerika menyayangkan apa yang dilakukan Donald Trump. Menurutnya, Trump adalah sebuah ancaman besar untuk bumi itu sendiri.

“Saya tidak suka dengan kebijakan Donald Trump, terlebih tentang penolakan terhadap usaha mencegah perubahan iklim. Ia menjadi seperti sebuah ancaman,” katanya.

Ketua Forum Komunitas Hijau (FKH), Rahman Dako, ditemui usai pemutaran film mengatakan, yang paling penting selain beberapa masalah yang digambarkan dalam film, seperti masalah ekonomi dan tarik menarik kebijakan, adalah bagaimana perubahan iklim yang terjadi ini berdampak pada masyarakat kecil, atau setidaknya mereka yang paling kesulitan dalam menangani dampaknya.

“Di Gorontalo dampaknya sudah mulai terasa, frekuensi banjir yang terus menerus, gelombang besar, angin ribut dan bencana-bencana ekologis lainnya. Lebih parah, kita bahkan tidak dapat memprediksi kapan bencana bencana itu datang,” katanya.

Ia mengatakan film yang diputar sangat inspiratif. Ia berharap para pengambil kebijakan dapat dengan khusuk menonton.

“Gubernur, wali kota, instansi terkait, dan masyarakat secara luas saya rasa perlu didorong untuk menonton film semacam ini,” katanya.

Pemutaran film ini merupakan kerja sama antara Climate Reality Project, Omar Niode Foundation, Lamahu, Forum Komunitas Hijau, Japesda, AJI Kota Gorontalo, Biota dan Himpunan Mahasiswa Jurusan Arsitektur, dengan membagikan sekitar 200 tiket secara gratis kepada para komunitas, mahasiswa, dosen, dan masyarakat. (*)

 

WAWAN AKUBA

wawan akuba
Mahasiswa dan pecinta, seorang yang telah mencoba melibas semak belukar rinjani tapi tetap tunduk pada keindahannya.
http://wawannakuba.blogspot.com

Leave a Reply

ten + 20 =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top