Inilah Tiga ‘tuhan” Milik Orang Polahi

 Sungai Hatibi, Subdas Paguyaman, dalam kawasan Suaka Marga Satwa Nantu. (Foto. MarahalimSiagian/Burung Indonesia)
Sungai Hatibi, Subdas Paguyaman, dalam kawasan Suaka Marga Satwa Nantu. (Foto. MarahalimSiagian/Burung Indonesia)

 

Oleh. Marahalim Siagian
Antropolog. Bekerja di Organisasi Burung Indonesia Program Gorontalo

PENGGUNAAN  kata “tuhan” dengan ‘t’ kecil merupakan analisis tentang sosok Pulohuta, Lati, dan Lausala dalam kosmologi Polahi. Tiga tokoh ini memiliki ruang dan kekuasaan masing-masing.Disebut sosok karena Polahi dapat dengan rinci menyebutkan ciri fisik Lati, Pulubala, dan Lausala.

Pulohuta, digambarkan sosok yang hidup serta memiliki kuasa atas tanah. Konsepnya berasal dari nenek moyang. Disebutkan Pulohuta adalah sesepasang suami istri. Bila Polahi hendak membuka hutan, mereka meminta ijin dahulu kepada Pulohuta, membuka hutan untuk membuat ladang tanpa ijin darinya,  dipercaya akan mendatangkan celaka. Oleh karena itu, dalam ritual membuka hutan, Polahi merapalkan matera (dalam hati) sebagai cara untuk meminta ijin kepada Pulohuta.

Selain memegang kuasa atas tanah, pulohuta juga disebutkan memegang kuasa atas hewan di hutan. Bentuk penghormatan Polahi pada Pulohuta, jika mereka mendapat hewan buruan, bagian tertentu dari tubuh hewan itu diiris (kuping, mulut, dan lidah) kemudian di taruh di tunggul kayu—hal itu dilakukan karena Polahi secara konseptual mengakui adanya hak Pulohuta pada hewan buruan yang mereka peroleh.

Lati, digambarkan sosok yang hidup yang menghuni pohon-pohon besar serta di air terjun. Ukuran tubuhnya digambarkan kecil-kecil seukuran boneka dalam jumlah banyak. Sebagai pemegang kuasa atas pohon, bila Polahi ingin menebang pohon besar atau mengambil madu lebah hutan yang terdapat di atasnya,

BACA JUGA:

Polahi membakar kemenyan, merapalkan matera dengan tujuan menyuruh Lati pindah ke pohon lain. Jika cara ini tidak ditempuh, pohon atau madu di atas pohon tersebut, berdasarkan pengalaman hidup mereka tidak bisa ditebang atau diperoleh. Kecuali itu, pohon tersebut dibakar untuk mengusir Lati sebab lati disebutkan takut pada api.

Lausala, dalam narasi Polahi layaknya tokoh marvel (super human). Tokoh antagonis yang disebut haus minum darah. Sosok Lausala ternyata bukan hanya tertuju pada deksripsi pada tokoh laki-laki. Sebab ada juga perempuan tua yang disebut-sebut sebagai Lausala.

Polahi dapat membuat beberapa deksripsi untuk meyakinkan bahwa Lausala itu eksis, walaupun mereka sendiri belum pernah secara langsung kontak fisik dengan sosok Lausala. Disebutkan, Lausala matanya merah,pedangnya menyala.  Lausala  bisa pindah dengan cepat dari balik bukit yang satu ke bukit yang lain. Jika anjing menyalak, itu salah satu pertanya hadirnya lausala. Tahilu, salah satu pemimpin kelompok Polahi bertutur, “Lausala adalah orang yang ingin membunuh kami”.

Sementara begitu dulu.

Leave a Reply

sixteen + 16 =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top