Internet Untuk Anak: Kontrol Pihak Sekolah (Bag. 3-Habis)

Dua siswa di SMA 1 Gorontalo asyik dengan smartphone mereka. (Foto: Wawan Akuba)
Dua siswa di SMA 1 Gorontalo asyik dengan smartphone mereka. (Foto: Wawan Akuba)

DeGorontalo – Pengawasan terhadap anak-anak yang terpapar pesatnya perkembangan teknologi, tidak hanya dilakukan di lingkungan rumah. Pihak sekolah pun harus memiliki andil.

Tidak hanya untuk usia kanak-kanak saja, bahkan usia remaja pun perlu kontrol yang ketat. Di SMA 1 Gorontalo misalnya, pihak sekolah memberlakukan aturan terkait penggunaan gadget.

Syaiful Kadir, sebagai kepala sekolah, mengatakan dari 1483 jumlah siswa, ada sekitar 90 persen pengguna smartphone.

“Di sekolah ini memang tidak ada larangan siswa untuk menggunakan ponsel. Kendati ada beberapa sekolah yang justru melarang penggunaan ponsel di sekolah,” katanya belum lama ini.

Tapi menurut Syaiful, ada ketentuan yang harus ditaati oleh siswa di sekolah. Penggunaan smartphone pada jam-jam belajar dilarang keras.

“Kami memberlakukan aturan itu untuk mengontrol penggunaan ponsel di saat jam belajar,” katanya.

Selain itu, pihak sekolah kerap kali mendiskusikan perihal aturan penggunaan gadget dengan orangtua siswa. Ketika ada kebijakan baru untuk siswa, pihak sekolah tetap melibatkan orangtua siswa.

“Soal tidak adanya larangan penggunaan ponsel di sekolah, telah melalui kesepakatan dengan para orangtua siswa. Kami tidak mengambil kebijakan sendiri,” katanya.

Menurut Syaiful, ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan dengan orangtua siswa, perihal izin membawa gadget ke sekolah.

“Pertama, ponsel membantu siswa berkomunikasi dengan teman, guru, maupun orangtua di rumah. Tetapi ketika di sekolah, ponsel lebih diprioritaskan penggunaannya untuk menghubungi orangtua atau guru,” jelasnya.

Sedangkan yang kedua, lanjutnya, metode belajar sekarang ini sudah berbasis digital. Sehingga ketika siswa dihadapkan dengan materi-materi tertentu, yang penjelasannya kurang lengkap di buku, siswa bisa mencarinya di internet menggunakan smartphone.

“Memang kami menyediakan lab komputer yang dilengkapi dengan koneksi internet. Namun karena terbatasnya jumlah perangkat komputer, semua siswa tidak bisa sekaligus menggunakan komputer. Jadi alternatifnya, mereka menggunakan smartphone,” sampainya.

Atas dasar pertimbangan itulah, mereka menilai bahwa smartphone turut membantu proses belajar dan mengajar, bagi siswa dan guru.

“Memang beberapa kali ada kejadian siswa yang menyalahgunakan ponsel. Semisal mereka mendengarkan musik sambil menggunakan earphone di ruang kelas,” katanya.

Jika kedapatan, kata Syaiful, earphone-nya akan disita. Sering kedapatan beberapa siswi berjilbab, yang menyembunyikan earphone mereka di balik jilbab.

Syaiful yang sudah menjabat kepala sekolah sejak 2010 itu, menyampaikan kekhawatirannya terhadap penggunaan media sosial oleh para siswa. Menurutnya banyak konten-konten berupa video yang mengarah pada hal-hal negatif, yang mudah diakses siswa-siswa.

“Hampir semua siswa memiliki akun media sosial. Sehingga dalam waktu dekat ini, saya berencana mengundang para orangtua siswa, untuk mendiskusikan kembali penggunaan smartphone di sekolah,” katanya.

Dalam rapat dewan guru, kata Syaiful, perihal kebijakan tidak adanya larangan siswa membawa ponsel di sekolah, sering menjadi perdebatan. Kemudian kesepakatan yang disetujui bukan soal larangan membawa smartphone ke sekolah. Tapi bagaimana cara siswa menggunakannya sesuai fungsi yang semestinya, dan menaati aturan yang telah ditetapkan.

Menutut Syaiful, di sekolah juga tidak tersedia sambungan telepon. Untuk itulah siswa-siswa yang membawa ponsel masih diperbolehkan. Sebab jika tidak ada ponsel, mereka tidak bisa menghubungi orangtua.

“Biasanya ada siswa yang dijemput orangtua, jadi mereka saling menghubungi lewat ponsel,” katanya.

Di SMA 1 Gorontalo, kata Syaiful, yang sangat disesalinya adalah minat baca buku para siswa yang minim. Siswa-siswa bisa berlama-lama dengan smartphone, ketimbang membaca buku di perpustakaan.

“Jika melihat data kunjungan di perpustakaan, memang saat ini minat baca siswa menurun,” sampainya.

Tapi untuk mengantisipasi minat baca yang menurun itu, Syaiful mewajibkan siswa-siswa membaca buku selama lima menit sebelum belajar. Ia berharap, upaya ini dapat meningkatkan kembali minat baca buku para siswa.

 

Laporan: Wawan Akuba

BACA JUGA:

Internet Untuk Anak: Peran Orangtua Sebagai Pengawas (Bag. 1)

Internet Untuk Anak: Smart Mommy, Komunitas Ibu-Ibu di Gorontalo (Bag. 2)

Kristianto Galuwo
Sigidad. Duda berputri satu-satunya bernama Sigi. Sering sial seperti Donal Bebek, karena itu dirajahi tato Donal Bebek di lengan kanan sebagai segel anti sial. Suka sekali makan ayam bakar/goreng/santan apalagi yang dibumbui sejumput puisi. Bisa disapa di facebook: Kristianto Galuwo dan diterawang di blog Getah Semesta.
http://sigidad.blogspot.co.id/

Leave a Reply

2 × two =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top