You are here
Home > Berita Pilihan Editor > Internet Untuk Anak: Peran Orangtua Sebagai Pengawas (Bag. 1)

Internet Untuk Anak: Peran Orangtua Sebagai Pengawas (Bag. 1)

Dua orang anak sibuk dengan smartphone. (Foto: Wawan Akuba)
Dua orang anak sibuk dengan smartphone. (Foto: Wawan Akuba)

DeGorontalo – Teknologi khususnya internet terus berkembang pesat seiring waktu. Tidak hanya di perkotaan, bahkan di pedesaan akses internet sudah mudah dijangkau. Baik lewat warung internet (warnet) atau dari perangkat gadget lainnya seperti laptop, tablet, dan smartphone berbasis Android atau iOS.

Dalam penggunaan internet khususnya anak-anak diperlukan pengawasan ketat oleh orangtua. Terlebih orangtua yang masuk kategori digital immigrant (gambaran seseorang yang pada masa kanak-kanak hingga remaja, perkembangan teknologi belum secanggih sekarang), lalu coba mengawasi anak-anak dengan kemampuan digital native (seseorang yang sejak kanak-kanak telah terpapar gencarnya perkembangan teknologi, seperti perkembangan komputer, internet, animasi dan sebagainya yang terkait dengan teknologi).

Seorang ibu muda di Kota Gorontalo, Srie Afriani Citra Permata, coba berbagi mengenai tingkat kewaspadaannya akan pengaruh internet terhadap anak-anaknya. Apalagi keterbatasan waktu karena pekerjaan yang menumpuk, membuat ia harus maksimal dalam mengawasi anak-anak. Sebab bahaya internet terhadap anak-anak yang luput diawasi orangtua, sangat berdampak buruk pada perkembangan fisik dan psikis.

“Untuk saat ini, anak-anak belum tahu cara mengunduh game di playstore di smartphone saya. Selain tidak mengajari mereka, saya juga menyetel pengaturan di playstore agar anak-anak tidak mengunduh aplikasi sembarangan,” kata ibu yang memiliki dua anak berusia lima dan satu tahun ini.

Perempuan yang kerap disapa Cici ini, membatasi anak-anaknya untuk memiliki smartphone. Meski anak-anak sudah berkali-kali meminta, Cici selalu mencari alasan untuk menolaknya.

“Ada temannya yang sakit, terus dari hasil diagnosa dokter penyebabnya karena terlalu sering bermain tablet, lalu terpapar radiasi tinggi. Sejak itu saya coba menjelaskan dampak buruk bagi anak-anak, kalau punya tablet atau smartphone sendiri,” katanya, saat ditemui belum lama ini.

Bentuk kontrol lainnya, yakni dengan cara memberi kode pengaman di smartphone, agar anak-anak bertanya dulu ketika hendak menggunakannya.

Cici juga sengaja menyetel keras volume sehingga ia bisa tahu apa yang sedang anak-anak tonton. Cara-cara itu terbilang efektif, sebab ia bisa lebih mudah mendeteksi apa saja yang sedang diakses anak-anaknya.

“Saya juga biasa duduk di samping mereka untuk memantau. Kecuali jika saya sedang memasak. Itupun sesekali saya menengok mereka,” terangnya.

Dengan adanya aturan yang ia berlakukan, anak-anak diajari untuk patuh. Kendati ia tetap mengijinkan anak-anak bermain di smartphone, tapi dengan syarat permainan itu mengandung nilai edukatif. Ia sengaja mengunduh aplikasi Marbel Mengaji yang merupakan aplikasi pendidikan baca Alquran untuk anak usia 3-8 tahun.

“Jika saya izinkan semua game diunduh, waktu mereka akan habis untuk menjelajahi permainan yang sudah terpasang di ponsel,” sampainya.

Untuk aplikasi media sosial, Cici masih membatasi anak-anaknya karena belum cukup umur. Tapi jika anak-anak mulai paham dan tertarik, dia akan coba menjelaskan baik dan buruk menggunakan media sosial.

Selain beberapa aturan itu, Cici juga menerapkan jadwal di rumah. Jadwal itu memang tidak tertulis, seperti jika pulang sekolah harus makan, tidur siang, mengaji, belajar, makan malam, lalu bermain sejenak atau sekadar menonton bersama, kemudian tidur malam.

“Kalau hari libur, biasa mereka main dengan anak-anak tetangga. Mereka bermain di halaman sampai siang, lalu kembali ke jadwal biasanya,” katanya.

Menurutnya, ketika anak anak dilarang melakukan sesuatu, mereka akan penasaran dan mencarinya. Agar anak tidak penasaran, ia selalu menjalin komunikasi dengan anak. Biasanya diskusi itu berlangsung sebelum tidur. Ia menanyakan apa kegiatan anak-anak seharian. Juga menanyakan apa keinginan mereka.

“Biasanya anak saya akan cerita panjang lebar, kemudian saya menyimak. Jika ada sesuatu yang anak inginkan, semisal ingin dibelikan smartphone, saat itulah saya menjelaskan apa-apa saja efek negativnya,” jelasnya.

Jika anak-anak di sekolah, kata Cici, ia selalu memantau anaknya melalui group WhatsApp orangtua siswa. Cara anak-anaknya berinteraksi dengan teman-teman, kerap ia tanyakan pada guru-guru atau teman-teman anaknya.

Kendati demikian ada saja hal-hal yang menurut Cici susah dikontrol. Seperti tayangan TV. Karena di rumah, ketika ditinggal ke kantor, anak-anaknya sering menonton bersama neneknya. Program acara TV seperti sinetron, sering luput mendapat pengawasan dan bimbingan langsung darinya.

“Memang saya sering memperingati anak anak. Baguslah sekarang mereka mulai mengerti, mana tontonan yang tidak baik untuk mereka,” katanya.

 

Laporan: Wawan Akuba

Kristianto Galuwo
Sigidad. Duda berputri satu-satunya bernama Sigi. Sering sial seperti Donal Bebek, karena itu dirajahi tato Donal Bebek di lengan kanan sebagai segel anti sial. Suka sekali makan ayam bakar/goreng/santan apalagi yang dibumbui sejumput puisi. Bisa disapa di facebook: Kristianto Galuwo dan diterawang di blog Getah Semesta.
http://sigidad.blogspot.co.id/

Leave a Reply

11 + 13 =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top