You are here
Home > Berita Pilihan Editor > Islam dan Hari Terakhir Orang Gorontalo Makan Babi

Islam dan Hari Terakhir Orang Gorontalo Makan Babi

 

DEGORONTALO – Pada usianya yang kini menginjak 520 tahun, masjid ini masih kokoh berdiri. Masjid Hunto Sultan Amay namanya, berdekatan dengan deretan perbukitan kapur. Letaknya di kelurahan Biawu, Kota Selatan Kota Gorontalo.

Inilah Mesjid pertama dan tertua di wilayah itu. Berdiri pada 1495 masehi/899 hijriyah. Menjadi saksi sejarah penyebaran ajaran Islam di wilayah itu.

Beberapa benda peribadatan pada masa-masa awal berdirinya masih bisa dijumpai. Bahkan masih dipergunakan hingga kini.
Di pojok bagian depan ruangan utama masjid misalnya, terdapat sebuah bedug berukuran sedang.

Hingga kini masih ditabuh lima sekali sehari setiap kali memasuki waktu shalat. Bedug itu sudah setua usia masjid. Tapi suaranya masih empuk dan terbilang nyaring.

Di sayap kiri masjid, masih bisa dijumpai sebuah sumur berdinding batu karang sedalam enam meter. mata airnya dikenal tak pernah surut. Meski dilanda kemarau sekalipun.

Selain itu, ada juga Mihrab kayu berukir setinggi dua meter. Hingga kini masih digunakan sebagai tempat khatib memberikan khutbah . Bagian yang sudah tak asli lagi adalah bagian kaki mihrab. Diganti semen lantaran kayunya lapuk dimakan usia.

Mahar Cinta

Faisal Tees, juru pelihara yang ditunjuk oleh Balai Cagar budaya Gorontalo , Sulawesi Utara dan Sulawesi Tengah bercerita, masjid ini didirikan oleh Sultan Amay (1460-1535 ). Seorang raja di Gorontalo. Orang pertama yang menyebarkan ajaran Islam di wilayah itu.

Alkisah, semua bermula ketika sang raja jatuh cinta kepada seorang putri bernama Owutango, anak raja Palasa Ogomonjolo, dari kawasan Teluk Tomini yang lebih dahulu memeluk Islam.

Singkat cerita pinangan diterima. Tapi setelah Sultan Amay memenuhi syarat memeluk agama Islam terlebih dahulu. Tidak hanya itu. Raja Palasa juga meminta Sultan Amay mendirikan sebuah masjid sebagai pusat penyebaran Islam.“Masjid ini adalah mahar pernikahan,” tutur Faisal.

Maka ditentukanlah sebuah tempat bernama “Hunto” menjadi tempat didirikannya masjid . Dalam bahasa setempat, Hunto berarti “ basis atau tempat berkumpulnya orang-orang dari segala penjuru”. Kelak, nama Hunto diabadikan bersama Sultan Amay menjadi nama masjid itu.

Semula, masjid ini hanya berukuran 12 x 12 meter persegi. Berdinding kayu, atapnya sirap. Namun seiring waktu, masjid itu diperluas hingga kini menjadi 20 x 25 meter persegi. Terhitung sudah ada tujuh kali dilakukan pemugaran.

Sebelumnya, masjid ini disangga oleh empat buah tiang kayu. Namun pada 1978, tiang itu diganti dengan beton. Empat tiang melambangkan jumlah sahabat Rasulullah Muhammad SAW, yakni Abubakar Ash Shidiq, Ali Bin Abi Thalib, Umar Bin Khattab dan Usman Bin Affan.

Adapun bentuk enam sisi pada masing-masing tiang, melambangkan jumlah rukun iman dalam Islam, yakni beriman kepada Allah, Malaikat-malaikatNya, Kitab-kitabNya, Rasul-rasulNya, Hari Kiamat, dan beriman kepada Qada dan Qadar atau kehendak Allah SWT.

Restorasi juga dilakukan untuk tiga buah pintu kayu berukuran besar. Masing-masing berada di kedua sisi bangunan utama. Sebelumnya, enam daun pintu itu sempat dibongkar dan ditutup dengan dinding beton.

Sumpah Bontho

Syamsuri Kaluku, sesepuh dan imam masjid pernah juga membeberkan kisah menarik, seputar penyebaran agama Islam di wilayah itu. Katanya usai masjid berdiri, Sultan Amay lantas mengumpulkan seluruh rakyatnya di mesjid itu.

Sang raja bertitah untuk menyembelih seekor babi.

Darah hewan itu lantas ditempelkan di seluruh kening rakyatnya, yang kala itu masih memeluk kepecayaan Alifuru- penyembah roh dan benda-benda yang dianggap bertuah.

Peristiwa itu sebagai upacara sumpah adat “Bontho”,  akronim atau singkatan dari bahasa daerah setempat. “Bolo yingoyingontiyolo monga boyi (ini hari terakhir kita makan babi).

Sumpah itu sekaligus menjadi pertanda seluruh warga kerajaan Gorontalo memeluk agama Islam.

Babi, yang kala itu masih lazim dikonsumsi masyarakat setempat, adalah perlambang hal yang kini diharamkan atau dilarang dalam agama Islam.

Konon, katanya, kala itu banyak rakyat Gorontalo yang mendapat berbagai musibah lantaran melanggar sumpah adat itu, sakit keras dan gila.

Basri Amin, seorang antropolog dan peneliti sejarah dari Universitas Negeri Gorontalo menyebutkan, aksara arab sudah dipakai di Gorontalo sejak 1525.

Prinsip adat yang digagas oleh Amay, kemudian disempurnakan pada masa pemerintahan Raja Eyato (1673-1679), menjadi “Adati Hulahulaa To Saraa, Saraa Hulahulaa To Quruani” (Adat Bersendi Syarak, syarak bersendi Al Quran); falsafah yang hingga saat ini dipegang oleh warga Gorontalo.

Sultan Amay diberi gelar adat “Ta Olongia Lopo Isilamu” (Raja yang menyebarkan agama Islam) dimakamkan di belakang masjid dan ramai diziarahi orang dari berbagai penjuru, terutama pada bulan suci Ramadhan.

 

*Sisi depan Masjid Hunto Sultan Amay (DeGorontalo/Syam Terrajana)

SYAM TERRAJANA

(Visited 592 times, 1 visits today)
Syam Terrajana

Lahir dan tinggal di Gorontalo setelah berkelana di berbagai kota. Membagi waktunya untuk menulis, membaca,melukis dan bepergian. Sesekali menyanyi jika suara sedang bagus. Dapat dihubungi di syam.terrajana2@gmail.com.

Leave a Reply

eighteen − six =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top