Istirahatlah Kata-Kata

Tyo Mokoagow – (DG/Koleksi pribadi)

Tidurlah kata-kata

Kita bangkit nanti …

Pada akhirnya, penyair itu tertidur selamanya, dalam ruang kosong sejarah yang gelap. Sosok yang raib itu, Wiji Thukul, mencoba hadir kembali lewat seorang Gunawan Marwanto, aktor teater kawakan sekaligus sastrawan. Meskipun Gunawan berucap, “Saya hanya memerankan Wiji Thukul, tapi tidak bisa menjadi dia: dia hanya terlahir sekali.”

Ya, Thukul hanya terlahir sekali. Adapun upaya “Istirahatlah Kata-Kata” hanya berupa petanda, bahwa ada sebuah bangsa yang perlu sembuh dari amnesia.

Yosep Anggi Noer namanya, sang aktor intelektual di balik layar kaca Istirahatlah Kata-Kata. Pernah suatu ketika dia berujar: “Saya pengen sederhana, film Indonesia bisa menjadi kuil untuk merenung”. Film yang mulanya berjudul Solo Solitude ini, menyulap sinema jadi rumah ibadah untuk manusia termangu.

Ketika pertama tayang di Indonesia awal 2017, banyak hantaman sinis karena tiket nonton hanya bisa dijangkau oleh dompet kelas borjuis. Tapi toh, Istirahatlah Kata-Kata berjuang menyeimbangi dominasi film cinta-cintaan yang plot ceritanya itu-itu saja, yang membikin makna cinta menjadi sedemikian berlumut, peyoratif dan murah. Anggi Noer mengambil risiko dalam dunia sineas yang dihegemoni nalar budaya budaya elite dalam bahasa cultural studies.

Istirahatlah Kata-Kata sejatinya sebuah ikhtiar menyelamatkan bangsa dari kepikunan, terlepas dari kritik Saut Situmorang dan lainnya. Bukankah kehadiran Wiji Thukul–yang disebut Saut, wajah penyair Dunia Ketiga–dalam megahnya ruang bioskop menyusupkan sebuah tanya dalam benak kita: “Siapa itu Thukul?” Dan desas-desus itu kemudian berlipat ganda jadi wacana.

Dalam cuplikan film itu, seorang bertanya pada Thukul: “Kenapa kau masuk daftar buron, apa hanya karena puisi?”

“Itulah ucapku, rezim ini bangsat, tapi takut dengan kata-kata,” timpal Thukul.

Namun benarkah “kata” bisa membangkitkan ketakutan berbahaya? Bisa saja kita tak tahu, karena peristiwa itu usai berwindu-windu lalu. Tatkala demokrasi dibatasi hati yang mati. Bagaimana bisa sebuah sistem tanda yang membungkus makna, melahirkan ngeri di lubuk penguasa?

Barangkali kata, lebih dari senjata; kata adalah nuklir bagi status quo penguasa. Kita bisa membacanya dari novel dystopian George Orwell, 1984. Kisah itu berkisah soal negara yang mau memenjarakan kata-kata. Institusi pemerintah bikin kamus Newspeek, kamus yang menghapus kosa kata subversif dan menggantinya dengan bahasa persuasif.

“Tidakkah kamu lihat seluruh tujuan Newspeak ialah menyempitkan lingkup pemikiran? Pada akhirnya nanti kejahatan pikiran sungguh-sungguh tidak mungkin, karena tidak akan ada kata untuk mengungkapkannya…,” ujar Syme, pada Winston Smith.

Pemeran utama dalam novel itu, Winston Smith, terlambat mengira bahwa departemen tempat dia bekerja (Winston bertugas selaku juru edit dalam kementerian penerangan) ialah tempat reproduksi muslihat. Dan dari luar ruang itu, aparatur represif menamai diri mereka “polisi pikiran”. Warga yang memiliki hasrat revolusioner–bahkan sejak dalam tataran gagasan–sudah diciduk, dirajam tanpa ampun.

Dalam lampiran 1984 Orwell menerangkan: “… kosakata (harus) semakin menciut alih-alih meluas setiap tahun. Setiap penyusutan ialah perbaikan, karena kian sempit wilayah pilihan kata, semakin berkurang godaan buat berpikir”. Tentu saja Orwell mau bilang, cakrawala vokabuleri seseorang mempengaruhi caranya berlaku dan bertindak.

Hidup dalam negeri macam itu bagai kengerian yang ternasibkan. Tetapi takdir itu tidak sekadar dongeng, fabel atau kisah fiksi: Indonesia pernah mengalaminya dalam sebuah babak sejarah gelap, seram dan traumatis. Wiji Thukul pun sempat menyicipi betapa pahit hidup dalam tempo-tempo secekam itu.

Misalnya, “diamankan”. Diamankan, dengan kata dasar “aman”, mencirikan konotasi positif. Mereka yang diamankan seolah bakal dilindungi. Hingga militer Orde Baru tidak ragu-ragu lagi menjalaninya seolah tugas suci. Warga yang berpretensi menganggu otoritarianisme negara, lalu diamankan. Thukul pun diamankan. Dan diamankan, berarti raib lenyap dari permukaan Indonesia, selamanya.

Lalu kita teringat dengan seorang filsuf eksistensialis, dalam Being and Time, Heidegger berkata, “Bahasa adalah rumah dari Ada/Manusia (Language is the house of Being)”. Mereka yang tega memenjarakan bahasa, telah menyekap eksistensi manusia.

Dalam sebuah adegan Istirahatlah Kata-Kata, Wiji Thukul bersama kedua kawannya tengah menguras waktu dengan tuak. Sungai Kapuas menjadi saksi bisu, ketika Thukul  menyeru: “Kemerdekaan adalah nasi, dimakan jadi tai.”

Lalu masih adakah kemerdekaan itu ketika bahasa dikerangkeng kekuasaan? Sekelabat Curt Vonnegut hadir menyelinap dalam kepala: “Hidup cuma seperiuk tai!”

Oleh Tyo Mokoagow (Mahasiswa asal Kotamobagu yang tengah menempuh pendidikan di Universitas Pasundan, Bandung)

Kristianto Galuwo
Sigidad. Duda berputri satu-satunya bernama Sigi. Sering sial seperti Donal Bebek, karena itu dirajahi tato Donal Bebek di lengan kanan sebagai segel anti sial. Suka sekali makan ayam bakar/goreng/santan apalagi yang dibumbui sejumput puisi. Bisa disapa di facebook: Kristianto Galuwo dan diterawang di blog Getah Semesta.
http://sigidad.blogspot.co.id/

Leave a Reply

9 + eleven =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top