You are here
Home > Gorontalopedia > Budaya > Iwan Yusuf, Meniti Kanvas Hidup Tak Terduga

Iwan Yusuf, Meniti Kanvas Hidup Tak Terduga

 

DEGORONTALO – Dia pernah putus sekolah, nyaris lumpuh, jadi penambang, buruh pabrik mebel hingga menjadi pedagang asongan. Siapa sangka hari ini,  pria kelahiran Gorontalo, 32 tahun silam ini malah menjadi pelukis.

Iwan Yusuf mengaku semasa SMP dulu, dia memang suka menggambar. Yang paling disukainya, menggambar wajah guru sedang mengajar.

“Buku catatan saya penuh coretan gambar,” kisahnya tersenyum.

Hobi itu keterusan hingga memasuki masa SMA di kampungnya, Kabila, Bone Bolango, Gorontalo. Iwan di masa remaja sebenarnya tidak terbilang bandel, namun untuk alasan yang sulit dijelaskannya, dia memilih hengkang dari sekolah.

“Mungkin terlalu banyak galau,hahaha” Iwan tertawa mengenang. Dia hanya sempat duduk di bangku kelas dua SMA selama satu hari. Peristiwa itu terjadi di tahun 1999.

Tak lama menganggur, Iwan memilih ikut kakaknya, bekerja di kawasan pertambangan rakyat di Bumela, sebuah desa pelosok di kabupaten Gorontalo.

Belum juga beroleh hasil, suatu hari kakinya tak bisa digerakkan. Oleh dokter, Iwan didiagnosa menderita flu tulang. Ada beberapa lama dia terkapar di tempat tidur.

Pada saat itulah, Kisman Yusuf, seorang pamannya datang dan mengajaknya ikut merantau ke Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Kebetulan pamannya punya pekerjaan dengan posisi cukup bagus di sebuah pabrik rotan pembuat meubel. Tak mau berlama-lama dengan sakitnya, Iwan pun mengiyakan tawaran itu.

Maka berlayarlah iwan menumpang kapal laut menuju Sumbawa.

Pamannya kala itu menjabat kepala produksi. Tapi bukan berarti dirinya langsung “keciprat” posisi enak. Karirnya justru benar-benar dimulai dari bawah, menjadi tukang pikul rotan dan serabutan lainnya.

“Mental saya benar-benar ditempa oleh paman saya, banyak hal positif yang membuat saya berterimakasih padanya di kemudian hari,” ujar anak keempat dari lima bersaudara ini.

Di sana, Iwan nyaris lupa hobi melukisnya. Dia ingat, hanya mengerjakan satu sketsa foto pernikahan ayah dan ibunya, sekedar pengobat rindu. Ayahnya telah lama meninggal dunia, ketika dia berusia lima tahun.

Selang tujuh bulan bekerja di Sumbawa, dia diboyong pamannya yang dimutasi ke Surabaya, tapi sayang, perusahaan belum bisa menerimanya sebagai karyawan.

Iwan pun coba bertahan dengan membuat kerajinan dari rotan. Tapi keterampilan tangannya itu tak banyak laku..

Maka diam-diam dirinya nyambi jadi pedagang asongan di atas kapal penyeberangan Surabaya-Madura, dia berjualan macam-macam, dari pulpen hingga sabun. Semua dilakukannya diam-diam.

Tapi di Surabaya juga, mulai terbuka peluang baginya mengembangkan bakat melukis.

Semua bermula pada suatu hari di masa getir itu, ketika seorang rekan pamannya bertandang ke rumah dan tak sengaja melihat sketsa kedua orang tua Iwan. Merasa tertarik, Kolega sang paman itupun memintanya membuatkan sketsa.

Setelah jadi, sketsa itu tahu-tahu dipamerkan rekan pamannya di tempat bekerja. Walhasil, banyak yang ikut-ikutan minta dilukis.

“ Ada yang ngasih rokok, atau uang, jumlahnya tak tentu, terkadang 20 ribu rupiah,” Iwan terkekeh demi mengingat imbalan yang diperolehnya dari lukisan pesanan itu.

Tapi lama kelamaan, dia mulai banjir order. Pemesan mulai merambah ke orang-orang di luar lingkungan kerjanya. Menjadi pelukis pesanan adalah sambilan yang dia lakoni selang 2001-2004.

“Satu lukisan bisa selesai dalam seminggu, siang kerja pabrik, malam saya melukis,” tuturnya kalem.

Kali ini imbalan yang diperolehnya sudah jauh lebih baik. Mulai 100 hingga 500 ribu rupiah perlukisan.

Tapi Iwan tak langsung berpuas diri. Ingin mengembangkan bakat otodidak, dia pun bergabung dengan Komunitas Seniman Muda Surabaya (Kosmubaya), Setiap akhir pekan, selepas kerja dia nongkrong di Balai Pemuda Surabaya, bersama komunitas pelukis pemula itu.

Pada tahun 2004 dia juga menggelar pameran bersama komunitas itu. Ada satu lukisan yang dipamerkannya, abstrak, memasukkan motif rotan. Benda yang digelutinya sehari-hari. Satu tahun berikutnya, dia memutuskan berhenti bekerja dari meubel rotan. Ingin tercebur penuh dalam dunia melukis.

“Suatu hari saya sakit keras dan merenung, sepertinya saya lebih cocok melukis,” ujar pria berkepala plontos itu .

Tepat tahun baru 2007. Dia membulatkan tekad untuk berkarya, targetnya; bisa pameran tunggal.  Selang delapan bulan kemudian, impian itu terwujud; 14 karya tunggalnya dengan tema besar “Menghadap Bumi” dipamerkan di galeri Surabaya.

Khusus untuk lukisan, Iwan cenderung pada gambar-gambar realis. Iwan kian mempermantap teknik melukis realis dengan bergabung pada Komunitas pelukis realis bernama “Matra realis” Surabaya. Diakuinya, pengalaman menjadi pelukis potret sangat mempengaruhi orientasi dan gaya melukisnya.

Mempelajari lukisan realis, membuat Iwan merasa makin percaya kebesaran Tuhan, yang menurutnya “teramat susah untuk ditiru,” .

Hal itu juga yang memicunya membuat lukisan berjudul “musuh dalam cermin”, potongan wajah seorang lelaki yang dilukis di atas dua bidang kanvas. Sebilah kaca yang diletakkan di tengah kedua kanvas lukisan itu memantulkan sepotong wajah yang seolah sempurna, namun terbelah. Lukisan ini pernah diikutkan dalam ajang Jakarta Biennale, Galeri Nasional Jakarta, 2011 lalu.

Lalu pada 2012 , dia kembali menggelar pameran, tapi kali ini dia bereksperimen membuat patung lilin, hasilnya? sebuah patung perempuan realis yang mengenakan gaun pengantin dari bahan sampah plastik.

Patung lilin itu dipajang di atas gunung banyak, 1300 meter dpl di Kota Batu, Malang, tak jauh dari tempat dia tinggal bersama istri dan anaknya. Karya berjudul “Bayi Angsa” ini merupakan respon dirinya atas persoalan sampah yang dia kawinkan dengan cerita rakyat setempat, legenda seorang putri yang mendiami gunung tersebut.

September 2013 lali, Iwan kembali bikin kejutan, dengan menggelar pameran di kampung halamannya, Gorontalo. Unik, Kali ini media yang dipilihnya tak tanggung-tanggung, Danau Limboto, yang keadaannya kian kritis akibat sedimentasi, dan perambahan hutan.

Di danau yang terus menyusut itu, dia akan membuat lukisan raksasa berupa tapak kaki sepanjang 500 meter, dengan memanfaatkan eceng gondok.

Telapak kaki itu merupakan simbol dari Lahilote, seorang pemuda yang mencuri selendang bidadari, cerita yang mirip Jaka Tarub di pulau Jawa ini merupakan legenda yang hidup di sekitar danau Limboto.

“Itu proyek romantis, sekaligus miris, saya sedih melihat kondisi danau Limboto saat ini,” tutupnya.

Foto. Iwan Yusuf tengah melukis

 

SYAM TERRAJANA

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

(Visited 873 times, 7 visits today)
Syam Terrajana
Lahir dan tinggal di Gorontalo setelah berkelana di berbagai kota. Membagi waktunya untuk menulis, membaca,melukis dan bepergian. Sesekali menyanyi jika suara sedang bagus. Dapat dihubungi di syam.terrajana2@gmail.com.

One thought on “Iwan Yusuf, Meniti Kanvas Hidup Tak Terduga

Leave a Reply

6 − 5 =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top