You are here
Home > Berita Pilihan Editor > Janji Politik, Senjata yang Semoga Tak Makan Tuan

Janji Politik, Senjata yang Semoga Tak Makan Tuan

Holy Adib. Foto: koleksi pribadi
Holy Adib. Foto: koleksi pribadi

Oleh Holy Adib (Wartawan, tinggal di Padang)

Janji adalah salah satu instrumen penting bagi politik di negeri ini. Menjelang Pemilu, janji-janji politik bertebaran di seantero negeri. Pengalaman mengajarkan kita (masyarakat) untuk tidak percaya lagi kepada janji para calon pemimpin karena janji mereka serupa bualan, yang oleh itu kita sebut sebagai janji politik, sebuah janji yang lebih mungkin diingkari daripada ditepati.

Menjelang Pilkada kali ini, janji-janji politik kembali merecoki kita. Sebagai masyarakat yang akan merasakan dampak perbuatan pemimpin, kita mesti mengambil sikap terhadap janji-janji itu. Lantas, sikap seperti apa yang harus kita ambil? Apakah kita akan mendengarkan janji tersebut dan memberikan kesempatan kepada calon pemimpin terpilih untuk menepatinya? Atau, apakah kita akan menutup telinga dari janji itu dan tidak ikut berpartisipasi memberikan suara di TPS? Mari kita berpikir sebentar untuk menentukan sikap.

Janji, antara senjata dan petaka

Janji adalah senjata bagi calon pemimpin, tetapi juga bisa menjadi petaka. Dengan janji, calon pemimpin membujuk masyarakat untuk memilihnya. Berbagai bentuk janji, mulai dari janji yang masuk akal sampai dengan janji yang tak termakan oleh logika, bertebaran di lapangan kampanye, baliho, brosur, kartu nama, debat calon, berita di media massa, dan melalui berbagai cara, yang disampaikan dengan berbagai bahasa manis oleh calon pemimpin.

Janji menguntungkan calon pemimpin yang pernah memimpin apabila janjinya sebelum menjabat dipenuhinya, kalau tidak semuanya, setidaknya lebih dari separuhnya. Janji juga menguntungkan calon pemimpin yang belum pernah memimpin, karena ia sebelumnya belum pernah berjanji dan memimpin. Maka, dalam hal inilah janji adalah senjata yang digunakan untuk menembak hati masyarakat. Namun, senjata ini bisa menjadi petaka apabila calon pemimpin yang pernah memimpin tidak memenuhi janjinya saat menjabat sehingga masyarakat tidak akan percaya lagi dan mencibirkannya. Pada saat seperti inilah, janji yang tadinya menjadi senjata yang moncongnya dihadapkan kepada masyarakat, kini moncong itu berbalik ke arahnya. Senjata makan tuan!

Sebagai objek yang dipimpin, masyarakat semestinya mencatat, mengawal, dan mengevaluasi janji-janji calon pemimpin. Masyarakat harus mencatat jumlah janji yang ditaburkan, jumlah janji yang sudah ditepati, apa kendala untuk mewujudkan janji itu, dan sebagainya. Akan tetapi, selama ini, jangankan untuk mengawal janji itu, kita malah abai dan lupa terhadap janji-janji dan siapa yang berjanji. Inilah yang menyebabkan kita terus tertipu dari satu Pemilu ke lain penderitaan. Atau, mungkin sejatinya kita tidak lupa, tetapi dibuat lupa oleh iming-iming sejumlah uang menjelang Pemilu yang dibagikan oleh tim pemenangan calon pemimpin. Itulah yang menyebabkan saya sejak dulu percaya bahwa uang adalah salah satu faktor utama penyebab amnesia. Uang bisa membuat otak kita cedera sehingga kita lupa segalanya, termasuk mendengar suara hati.

Masihkah kita akan bersikap begitu terhadap janji-janji calon pemimpin?

Soal penyakit lupa, tidak hanya masyarakat yang mengidapnya, tetapi juga pers. Pers, yang sesungguhnya memiliki ingatan yang panjang daripada masyarakat pada umumnya, juga sering lupa. Pers sering lupa, tidak hanya terhadap janji-janji politik, tetapi juga terhadap kasus dan masalah lain yang merugikan bangsa dan negara. Banyak kasus yang pada awalnya diberitakan oleh hampir semua media, lalu semakin kasus tersebut mencapai ujungnya, berita tentang kasus itu semakin pudar sampai akhirnya hilang. Perlukah wartawan disuntik dengan vaksin anti amnesia agar ingatannya tetap bagus?

Penyakit lupa tidak hanya diidap oleh masyarakat, tetapi juga mengendap di otak calon pemimpin. Bagi calon pemimpin yang pernah memimpin, kadang kala janji yang diberikannya saat kampanye adalah janji yang sama saat kampanyenya pada Pemilu sebelumnya. Janji itu diulang-ulang seperti gulai nangka yang dipanaskan kembali, yang bukannya terasa enak, malah membuat perut sakit. Setelah terpilih untuk kali kesekian menjadi pemimpin, ia lupa lagi. Bayangkan, dengan janji lama saja ia lupa apalagi dengan janji baru yang dibuatnya. Bagaimana mungkin kita dipimpin oleh pengkhianat seperti itu.

Sementara itu, di sisi lain, para pemimpin selalu ingat dengan janjinya kepada kawan-kawan separtai, tim pemenangan, dan rekan-rekan yang mendanainya saat maju pada Pemilu. Janji-janji untuk memberikan proyek dan memberikan jabatan, sempurna ditepatinya. Karena itu, tak heran saat pemimpin berganti, orang-orang yang berada di sekitar rezim juga berganti, walau si pemimpin berbusa-busa mulutnya mengatakan bahwa ia tidak melakukan politik transaksional. Padahal, masyarakat tidak buta terhadap siapa penerima proyek dan siapa yang mendapatkan jabatan oleh sebuah rezim.

Sumpah dan ikrar politik

Janji pada dasarnya adalah sesuatu yang mulia. Janji bermakna sama dengan sumpah dan ikrar. Akan tetapi, janji dalam fenomena yang berkembang di tengah masyarakat berubah makna menjadi sesuatu yang potensinya untuk diingkari lebih besar daripada potensi untuk ditepati. Sementara itu, sumpah dan ikrar masih berada pada makna aslinya, sesuatu yang tetap dijaga dan diupayakan sekuat tenaga untuk menepatinya.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Daring (Badan Bahasa, 2016), sumpah adalah pernyataan yang diucapkan secara resmi dengan bersaksi kepada Tuhan atau kepada sesuatu yang dianggap suci (untuk menguatkan kebenaran dan kesungguhannya dan sebagainya); pernyataan disertai tekad melakukan sesuatu untuk menguatkan kebenarannya atau berani menderita sesuatu kalau pernyataan itu tidak benar. Kita kenal Sumpah Palapa, sumpah Patih Gajah Mada. Ia bersumpah tidak akan menikmati segala sesuatu sebelum menaklukkan dan mempersatukan daerah Nusantara.

Kemudian, ikrar. Dalam KBBI, ikrar berarti janji yang sungguh-sungguh; janji (dengan sumpah). Sementara janji, menurut KBBI adalah ucapan yang menyatakan kesediaan dan kesanggupan untuk berbuat (seperti hendak memberi, menolong, datang, bertemu).

Dari definisi sumpah, ikrar, dan janji di atas, terlihat jelas bahwa janji hanyalah ucapan yang dilontarkan begitu saja tanpa mesti ada kesungguh-sungguhan untuk menepati dan pertanggungjawabkannya. Sementara itu, sumpah tidak sekadar ucapan biasa, tetapi pernyataan yang pertanggungjawabannya bahkan kepada Tuhan. Demikian pula dengan ikrar, ada kesungguh-sungguhan di dalamnya.

Jika definisi tersebut dihubungkan dengan janji politik, sepertinya calon pemimpin itu perlu bersumpah atau berikrar. Kenapa demikian? Karena selama para calon pemimpin hanya berjanji, selama itu pula mereka tidak akan bertanggung jawab terhadap janji mereka. Janji politik mesti diganti dengan sumpah politik atau ikrar politik karena masyarakat sudah tahu bahwa janji politik adalah bualan.

Namun, saya tetap pesimistis meski janji politik diganti dengan sumpah atau ikrar politik. Saya pesimistis karena banyak pemimpin, yang disumpah dengan kitab suci di atas kepala mereka saat dilantik, tetap berperilaku korup. Dengan demikian, mereka telah menistakan kitab suci yang mereka gunakan untuk bersumpah saat dilantik. Sebaiknya, kitab suci itu digamparkan ke kepala pejabat yang berperilaku korup itu.

Kesempatan menentukan sikap

Pilkada kali ini adalah kesempatan bagi kita untuk menentukan sikap terhadap calon pemimpin yang berjanji. Sepatutnya kita memberikan mandat kepada calon pemimpin yang lebih mungkin pasti akan menepati janjinya. Kita berikan kesempatan kepada calon pemimpin untuk membuktikan janjinya. Ini kesempatan bagi kita untuk membuktikan bahwa kita sudah sembuh dari penyakit amnesia terhadap janji politik calon pemimpin, yakni dengan mencatat, mengawal, dan mengevaluasi janji-janji itu setelah pemimpin terpilih. Mari kita sedikit menabah-nabahkan hati untuk memilih, dengan catatan bahwa apabila calon pemimpin terpilih tidak menepati janjinya dalam waktu yang ia tentukan, kita cabut mandat yang kita berikan. Setuju? Yang setuju tidak perlu angkat tangan, tetapi cukup pergi ke TPS.

Kristianto Galuwo
Sigidad. Duda berputri satu-satunya bernama Sigi. Sering sial seperti Donal Bebek, karena itu dirajahi tato Donal Bebek di lengan kanan sebagai segel anti sial. Suka sekali makan ayam bakar/goreng/santan apalagi yang dibumbui sejumput puisi. Bisa disapa di facebook: Kristianto Galuwo dan diterawang di blog Getah Semesta.
http://sigidad.blogspot.co.id/

Leave a Reply

fifteen + 19 =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top