Jurnalis dalam Meliput Bencana

15170939_10209222537853659_28362138620087062_n
Workshop “Meliput Bencana”. Foto: AJI Indo

DeGorontalo – Hingga September 2016, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat setidaknya terjadi 1.704 bencana di Indonesia. Lebih dari tiga juta jiwa menjadi korban, 221.265 rumah rusak, 646 fasilitas kesehatan, pendidikan, dan peribadatan porak-poranda.

Angka-angka tersebut menjadi pengantar dalam Workshop “Meliput Bencana” yang diselenggarakan dalam rangka Festival Media 2016 yang berlangsung di Perpustakaan Soeman HS, Pekanbaru, Riau, Sabtu, 19 November 2016. Untuk Festival Media kali ini temanya seputar isu lingkungan, yaitu “Media Cerdas Lestarikan Bumi”.

Pembicara utama dalam workshop adalah Ahmad Arif, wartawan Kompas, sekaligus penulis buku “Jurnalisme Bencana, Bencana Jurnalisme”. Dalam paparannya Ahmad Arif mengatakan bahwa pada umumnya media di Indonesia dalam memberitakan bencana, hanya pada saat fase terjadinya bencana dan respon peristiwa saja. Padahal bencana yang terjadi bukanlah sebuah kejadian tunggal, akan tetapi ada siklus panjang yang menyebabkan kenapa bencana tersebut bisa terjadi.

“Banyak media yang ramai-ramai memberitakan setelah kejadian. Padahal harusnya jurnalis menulis atau memberitakan bagaimana upaya mengurangi bencana itu sendiri daripada mengeksploitasi bencana. Bahkan bencana itu biasanya menjadi headline setelah terjadi eksploitasi kesedihan,” katanya.

Hal ini menurutnya tidak lepas dari pendekatan yang sering digunakan oleh media adalah dengan memakai pameo “bad news is a good news”. Bagaimana eksploitasi terhadap korban demi mengejar drama dalam peliputan bencana dikarenakan kesengajaan untuk mengejar rating, hit, atau oplah. Selain itu, konsentrasi berita di media massa tidak lepas dari kepentingan ekonomi atau bisnis pemilik media dalam hegemoni yang terbangun di belakangnya.

“Dalam ekonomi politik media; semakin pedih tangisan korban, semakin bagus beritanya. Padahal diperlukan rasa empati bagi para jurnalis dalam meliput korban bencana, bukannya mengeksploitasi.”

Ahmad Arif yang meliput tsunami di Aceh dan Jepang itu lalu membandingkan bagaimana jurnalis di Indonesia dan Jepang dalam meliput bencana. Dari hasil penelitiannya menunjukkan perbedaan yang sangat jauh. Pada saat bencana tsunami di Jepang, pemberitaannya nyaris tak ada jeda. Sementara ketika di Aceh, pemberitaannya terlambat 12 jam bahkan satu hari.

“Saat bencana, wartawan di Jepang disiapkan khusus sehingga paham dengan hal-hal teknis soal bencana. Di Indonesia, banyak wartawan baru dan awam soal bencana,” ungkap Arif.

Hal lain yang membedakan Jepang dan Indonesia saat meliput bencana yaitu, media di Jepang berlomba-lomba mengobarkan semangat untuk bangkit, sementara di Indonesia berlomba mengeksploitasi tentang duka lara dan kesedihan. Media di Jepang, terutama televisi tidak menayangkan gambar mayat. Media berfungsi sebagai jembatan antara keilmuan, kebijakan pemerintahan, dan masyarakatnya. Saat bencana, tugas media adalah bagaimana menyelamatkan kota mereka sendiri.

“Di Indonesia sendiri, sebagian besar masyarakatnya menganggap bahwa bencana masih dipandang sebagai takdir.”

Workshop meliput bencana tersebut dihadiri oleh ratusan peserta dari mahasiswa se-kota Pekanbaru dan juga jurnalis dari beberapa utusan daerah yang mengikuti festival media. Festival media tersebut akan berlangsung selama dua hari, Sabtu dan Minggu, 19-20 November 2016.

Kristianto Galuwo
Sigidad. Duda berputri satu-satunya bernama Sigi. Sering sial seperti Donal Bebek, karena itu dirajahi tato Donal Bebek di lengan kanan sebagai segel anti sial. Suka sekali makan ayam bakar/goreng/santan apalagi yang dibumbui sejumput puisi. Bisa disapa di facebook: Kristianto Galuwo dan diterawang di blog Getah Semesta.
http://sigidad.blogspot.co.id/

Leave a Reply

fifteen + 14 =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top