You are here
Home > Berita Pilihan Editor > Jurnalis(me) Bukan Mesin Pembunuh; Sebuah Testimoni (Oleh. Febriandy Abidin*)

Jurnalis(me) Bukan Mesin Pembunuh; Sebuah Testimoni (Oleh. Febriandy Abidin*)

Keinginan menjadi jurnalis dimulai sejak saya mengenal sosok mahasiswa angkatan 60-an yang bernama Soe Hok Gie, melalui buku berjudul “catatan seorang demonstran”. Selain mahasiswa, Gie juga seorang jurnalis yang melakukan kritik pada pemerintah lewat tulisan- tulisannya.

Maka, saya pun melamar ke beberapa media lokal di Gorontalo, sebelum akhirnya diterima di salah satu stasiun televisi. Sejak menjadi wartawan, saya berpikir bahwa ini semua hanyalah tentang mengungkap kebenaran dan menghasilkan tulisan yang baik dalam mengkritik pemerintah, seperti yang dilakukan Gie pada masa itu.

Tidak pernah terpikir bahwa menjaga amanah Undang – Undang dan Kode Etik Jurnalis merupakan tanggung jawab besar ketika terjun di dunia jurnalis. Karena disanalah terdapat larangan serta kewajiban yang dipertanggung jawabkan kepada publik.

Namun tanggung jawab itu saya abaikan, karena kurangnya pengetahuan akan dunia jurnalis. Larangan menerima amplop dari narasumber tetap saya lakukan. Sejak menerima amplop, kualitas berita menjadi menurun. Bahkan kebenarannya menjadi tersamarkan. Jujur, Menerima amplop saat melakukan tugas peliputan memang punya kenikmatan tersendiri. Terlebih di kala isi dompet saya sedang tipis. Amplop untuk wartawan memang ibarat candu. apalagi jika dihadapkan dengan kecilnya upah yang diberikan perusahaan. Tak sepadan dengan kerja yang seolah tak kenal waktu. Juga penuh resiko.

Lama kelamaan saya mulai galau. Praktek itu tidak ada bedanya dengan koruptor yang tertangkap menerima suap. Padahal selama menjadi wartawan, kasus korupsi yang melibatkan pejabat sering saya beritakan. . Namun saya sendiri melakukannya secara sembunyi – sembunyi.

Selain seperti koruptor, kegiatan ini hanyalah menginjak – nginjak harga diri saya sebagai seorang jurnalis, karena dihargai dengan praktek penyuapan.Yang paling menyedihkan dari kasus ini, ketika kedatangan saya kepada narasumber bukan lagi menginginkan berita berkualitas, melainkan amplop yang berkualitas.

Seiring waktu, saya sadar bahwa ini semua adalah kesalahan diri sendiri untuk diperbaiki. Selain memiliki dampak pada saya pribadi, ini semua berdampak bagi masyarakat karena tidak mendapatkan berita yang bermanfaat.

Saya harus memilih di antara bertahan menjadi seorang wartawan atau meninggalkan praktek amplop. Karena ini adalah kehinaan bagi saya, maka bertahan menjadi seorang wartawan adalah pilihan, walau dengan resiko apapun. Saya kemudian memutuskan masuk Aliansi Jurnalis Independen (AJI), organisasi yang saya nilai tangguh untuk menjaga marwah profesi saya .

Setelah meninggalkan praktek itu, saya bekerja seperti biasa mencari dan memberitakan suatu informasi kepada publik. Kebetulan pos liputan saya di desk kriminal. Semua kasus menyangkut kriminal yang ada di polisi, kejaksan, hingga ke pengadilan menjadi santapan setiap saat. Saya bekerja sejak pagi hingga malam. Tak kenal waktu.

Meliput kasus kriminal memang punya “seni” tersendiri. Menunggu tersangka diseret di mobil tahanan, ikut serta dengan razia polisi. Mendatangi TKP pada kasus-kasus pembunuhan. Lalu dengan enteng menyorotkan kamera. Melancarkan pertanyaan bertubi -tubi, tak jarang kepada tersangka kejahatan. Saya sendiri tidak pernah tahu, apa dampak yang dirasakan tersangka dan keluarganya, ketika kasus itu saya beritakan. Yang penting berita naik. Yang penting saya dapat upah.

Hingga akhirnya sebuah peristiwa menimpa saya, sekaligus mengubah cara pandang saya selama ini.

Itu ketika saya diperhadapkan dengan seorang tersangka yang tidak lain adalah ayah kandung sendiri. Dengan satu alasan, karena tidak mau melanggar Undang – Undang Pers, maka profesi ini saya lepas sesaat. Maka dari itu, informasi itu tidak saya beritakan. Namun saya pasrahkan ketika ada wartawan yang mau mengangkat kasus ini ke publik.

Atas kejadian itulah, saya mengerti pekerjaan apa yang selama ini saya geluti. Bahwa seorang jurnalis bisa menjadi mesin pembunuh yang akan menghancurkan nama baik keluarga. Maka dari itulah, kode etik jurnalis adalah sesuatu yang harus dijunjung tinggi oleh setiap jurnalis, agar tidak melukai perasaan dari tersangka dan keluarganya. Disitu saya mengerti betapa pentingnya menjaga empati pada seorang pembunuh sekalipun. Atas dasar asas praduga tak bersalah. Sampai disini saya baru sadar, jurnalis tidak boleh menjadi hakim.

Jurnalis juga menurut saya adalah bukan mencari siapa yang salah dan benar, namun lebih memberikan pencerahan kepada publik mengenai duduk sebuah persoalan.

Saya tahu. Saya sendiri bukanlah orang sempurna dalam melakukan tugas ini. Namun sedikitnya, peristiwa pribadi itu telah melecut saya untuk berusaha menjadi lebih baik menjalankan profesi yang seharusnya mulia ini. Terakhir, saya mohon maaf jika ada kelompok atau individu yang pernah saya rugikan. .

*Penulis adalah anggota AJI Kota Gorontalo.  

(Visited 303 times, 2 visits today)

Leave a Reply

sixteen − 15 =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top