You are here
Home > Berita Pilihan Editor > Jurnalisme, Novanto dan Cermin Der Spiegel

Jurnalisme, Novanto dan Cermin Der Spiegel

Jurnalis majalah Der Spiegel, Nils Klawitter, sedang mewawancarai Gunarti di Leipzig. Dok. Watchdoc

Seperti apakah kredibilitas jurnalis(me)?. Celaka sekali. Baru-baru ini pertanyaan ini malah terjawab oleh insiden terviral  di Indonesia. Ketika sebuah mobil fortuner yang dikemudikan seorang jurnalis menabrak tiang listrik.

Insiden ini bukannya mengundang empati, tapi malah panen bully tiada tara . Itu karena penumpangnya bernama Setya Novanto. Tokoh yang   sanggup  gaib mendadak, saat sedang dicari-cari KPK. Dan jurnalis yang jadi supirnya  itu ternyata  ehem,  jurnalis tapi mesra dengan papa

Untuk mendapatkan  jawaban lain  tentang kredibilitas jurnalis, Redaksi DeGorontalo mengutipkan pengalaman berharga yang dibagikan oleh Dandhy Dwi Laksono di lama Facebooknya.  Selamat menikmati tulisan jurnalis dan pembuat film dokumenter yang dikenal berani, kritis dan selalu  gembira  ini:            

CERMIN. Gara-gara wartawan, Fortuner, dan Novanto, saya teringat momen dalam potongan foto ini. Jurnalis majalah Der Spiegel, Nils Klawitter, sedang mewawancarai Gunarti tentang penolakan petani Kendeng terhadap perusahaan semen Jerman (HeidelbergCement – Indocement) di Pati.

Majalah beroplah 700 ribu dengan reputasi internasional yang dibaca 6 juta orang ini mengirim Nils dari Hamburg untuk menemui Gunarti di kota Leipziq.

Kawan-kawan aktivis Jerman yang menemani Gunarti lalu mengatur wawancara di sebuah rumah makan. Saya hanya menonton. Sesekali membantu menerjemahkan dari Jawa ke Inggris.

Kami semua memesan makanan dan minuman, kecuali Nils. Ia menampik tawaran bahkan untuk secangkir kopi atau teh panas pengusir dingin. Ah, mungkin ia ingin fokus wawancara dulu, batin saya.

Tapi setelah wawancara usai, dan dilanjutkan dengan obrolan informal, ia pun tetap menolak memilih makanan dan minuman yang kami tawarkan.

Saya mulai berhenti membujuk karena menduga memang itulah standar aturan dalam interaksi antara wartawan dan narasumber di Spiegel. Kalaupun sama-sama makan, mungkin harus bayar sendiri-sendiri.

“Keren, tapi kaku dan dingin. Khas disiplin orang Jerman,” batin saya menguatkan anggapan umum.

Saya tak sempat bertanya ihwal ini, karena ia segera pergi dan kembai ke Hamburg petang itu juga untuk mengejar tenggat tulisan.

Sementara kami harus bergegas ke bioskop untuk pemutaran “Samin vs Semen“.

Setelah wawancara ini, beberapa kali Nils mengemail saya untuk mengonfirmasi beberapa detil dalam wawancara dan mencocokkan data.

Sepekan kemudian, dalam perjalanan pulang di bandara, kami membeli Der Spiegel yang bertepatan dengan hari terbit. Ia menurunkan laporan satu halaman dengan judul “Ketegangan di Timur Jauh”.

“Produksi semen adalah bisnis yang kotor, karena itu HeidelbergCement senang berproduksi di daerah yang kurang ada perlawanan,” tulis Nils, tajam.

“Gunarti yang keluarganya bisa hidup dengan 140 Euro per bulan, bertanya pada CEO Bernd Scheifele yang gajinya 10 juta Euro per tahun, ‘Kapan Anda pergi dari daerah kami?” sambungnya.

Der Spiegel yang artinya “Cermin” tampaknya sedang menjalankan fungsinya, yakni tempat masyarakat Jerman berkaca, benarkah kemakmuran yang didapat bukan dari hasil mengeksploitasi dan merusak kampung orang lain.

Kisah perjalanan Gunarti dan orang-orang yang membantu menggalang solidaritas internasional akan kami filmkan. Saya dibantu videografer lokal dari Pati, Nopet sedang menggarapnya.

Semoga akhir atau awal tahun nanti sudah dapat ditonton.

(Visited 95 times, 14 visits today)
Syam Terrajana

Lahir dan tinggal di Gorontalo setelah berkelana di berbagai kota. Membagi waktunya untuk menulis, membaca,melukis dan bepergian. Sesekali menyanyi jika suara sedang bagus. Dapat dihubungi di syam.terrajana2@gmail.com.

Leave a Reply

fifteen − one =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top