You are here
Home > Terobosan > Kesehatan > Kalau Sakit, Tak Ada Jaminan Negara Bagi Orang Bajo Torosiaje

Kalau Sakit, Tak Ada Jaminan Negara Bagi Orang Bajo Torosiaje

Soreh hari, warga Torosiaje Laut Istri bersama anak mengkayuh perahu menemani ayahnya saat pulang dari berobat (DeGorontalo/Rivol Paino)
Sore hari, warga Torosiaje Laut Istri bersama anak mengkayuh perahu menemani ayahnya saat pulang dari berobat (DeGorontalo/Rivol Paino)

DEGORONTALO– Sudah empat tahun ini, Masni Mahaseng duduk di kursi roda, hampir sekujur tubuhnya tak bisa digerakkan. Padahal usianya baru  38 tahun. Dia sudah pergi berobat ke mana-mana, tapi tak kunjung sembuh. Oleh dokter, dia  diduga  kekurangan darah dan kolsetrol. Obat pemberian dokter seperti jadi koleksi dalam tasnya, saat ditemui di rumahnya, dia  bilang “saya tak mau minum obat lagi”.

Demi kesembuhan istrinya itu, Chong Aburahman rela berkorban mengeluarkan harta untuk kesembuhan istrinya. Ke Palu, Gorontalo, rumah sakit di dua daerah itu sudah  pernah ia  kunjungi. Chong mengaku mengeluarkan puluhan juta untuk pengobatan,  kalung emas dan harta berharga lainnya sudah dijual, demi kesehatan Masni Mahaseng.

“Kalau punya uang, sampai dimana pun saya akan bawa istri saya, tapi apa daya sudah tak punya uang lagi” kata Chong. Raut wajahnya berusaha menyembunyikan kesedihan. Ketika berobat, istrinya pernah menggunakan kartu Jaminan Kesehatan Masyarakat(Jamkesmas)  , tapi selama itu juga  dia tidak pernah ditanyakan  dokter atau dari pihak rumah sakit pemerintah yang menjalankan program tersebut.

“Kami pernah menggunakan Jamkesda atau Jamkesmas tapi tidak dilayani, kalau dengan uang mereka cepat tanggap dan macam-macam obat dengan tulisan huruf Cina yang diberikan kepada saya ” kata Masni.

Sebagai nelayan, sudah empat tahun Chong tak turun melaut, penuh kesabaran dia menanggung hidup keluarganya. Anaknya yang kuliah di Kota Gorontalo juga membutuhkan biaya demi mengejar pendidikan di perguruan tinggi. Jika  hari minggu tiba,  lelaki separuh baya itu mencari ikan,  dikirim untuk kedua anaknya yang kuliah. Dia hanya dapat uang  di saat  mengerjakan perahu pesanan orang atau  mengukir atau membuat perabot rumah dari bahan kayu.

Masni Mahaseng, sudah empat tahun tak punya kekuatan, oleh dokter Dia terkena kolestrol dan kurang darah. Saat ini dia berhenti minum obat(DeGorontalo/Rivol Paino)
Masni Mahaseng, sudah empat tahun tak punya kekuatan, lumpuh oleh dokter Dia terkena kolestrol dan kurang darah. Saat ini dia berhenti minum obat(DeGorontalo/Rivol Paino)

Chong bilang “untung ada keluarga(kakak) yang mengerti keadaan, memberi modal untuk kami membuka warung. Di waktu Istri saya sehat, Dia menjual nasi kuning, kini lumpuh tak punya kekuatan untuk bergerak.”

Anak bungsunya yang duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) sangat membantu Chong. Anaknya nyaris selalu cepat pulang dari sekolah, bergegas lebih dulu dari teman-temannya. Tiba di rumah merawat, memandikan, dan menjaga ibunya.

Di Torosiaje Laut tiang-tiang rumah berdiri kokoh di atas laut Teluk Tomini, sebagai suku Bajo, di sanalah Chong tinggal bersama keluarga. Tepatnya di Kecamatan Popayato, Kabupaten Pohuwato perbatasan Gorontalo dan Sulawesi Tengah.

Torosiaje adalah  desa di atas laut dihuni oleh penduduk 1.357 jiwa, penduduk usia kerja sebagai nelayan 24,1 persen nelayan yang mayoritas 99 persen suku Bajo.

Bajo dikenal sebagai suku pengembara laut, hidup di Torosiaje sejak tahun 1901 yang pada awalnya sekumpulan pengembara yang tinggal di atas perahu atau Soppe, tulis Antropolog Francis, Francois-Robert Zacot dalam bukunya Peuple nomade de la mer: Les Badjos d’Indonesie (Orang Bajo, Suku Pengembara Laut) .

Masni adalah gambaran dari orang Bajo   kurang mampu yang tak dilayani dengan semestinya.

Saat ini di Torosiaje ada sebuah puskesmas pembantu (Pustu) dengan kondisi yang sangat memprihatinkan. Kepala desa Torosiaje, Jakson Sompah mengakui bahwa pelayanan kesehatan di Torosiaje sebenarnya masih kekurangan tenaga medis, bahkan dia mengeluh dengan fasilitas puskesmas pembantu yang kurang diperhatikan oleh Dinas Kesehatan atau pemerintah daerah.

“Pustu ini sudah 10 tahun berdiri, pelayanan di sini sudah bagus tenaga medis sangat ramah. Tapi banyak tenaga medis datang bergantian, tak betah tinggal di Pustu. Tiang-tiang rumah saja mulai rapuh tempat air saja tidak ada,”

Jakson sangat berharap bahwa instansi terkait seharusnya memprihatinkan desa Torosiaje yang jauh sekitar 8 jam dari kota Gorontalo, belum lagi desa tersebut dijadikan sebagai desa wisata yang menjadi icon Gorontalo, khususnya kabupaten Pohuwato.

“Masyarakat banyak mengeluh bahwa seharusnya pusat kesehatan di desa ini terlihat bersih, dinding-dindingnya saja kotor” kata Jakson.

Puskesmas Pembantu di Torosiaje Laut yang memprihatinkan, dengan kekurangan fasilitas, obat-obatan, bahkan timbangan bayi dan gantungan infus (DeGorontalo/Rivol Paino)
Puskesmas Pembantu di Torosiaje Laut yang memprihatinkan, dengan kekurangan fasilitas, obat-obatan, bahkan timbangan bayi dan gantungan infus (DeGorontalo/Rivol Paino)

Faryd F R Nango ,tenaga medis yang dikontrak untuk penugasan khusus di Torosiaje, mengaku kewalahan melayani masyarakat yang masih bersyukur dibantu seorang perawat.

“Pernah masyarakat datang berobat, ketika minta diinfus, gantungan infus  tak ada, bahkan timbangan bayi saja tidak ada” ujar Faryd yang sudah mengabdi di Torosiaje sejak 2011 itu .

Dia mengaku  sudah pernah memberitahukan kondisi ini kepada Kepala Dinas Kesehatan kabupaten Pohuwato, malahan berulang-ulang kali.

Dia memberitahukan tentang minimnya  fasilitas dan obat-obatan. keluhan itu hingga sekarang tak pernah direalisasikan.

“Obatnya tidak sampai sepuluh dos dalam sebulan, tidak cukup dengan jumlah penduduk 1.357 jiwa. Satu macam obat hanya satu dos dengan isinya 100 lebih. Saya harus menggunakan gaji saya untuk beli obat yang dibutuhkan masyarakat” ucap Faryd.

Faryd mengatakan Pustu menjadi sebuah tempat pelayanan khusus, dia juga dikontrak, ditugaskan sebagai perawat khusus untuk masyarakat Torosiaje namun sangat tidak diperhatikan, padahal wisatawan mancanegara dan lokal acapkali  berkunjung ke Torosiaje, seiring dengan promosi pemerintah daerah yang menjadikan desa terapung itu sebagai destinasi wisata.

Pun tak jarang, dia terpaksa  menggunakan lilin untuk penerangan jika ada warga datang berobat. Dia akan merasa  sangat terbantu jika aparat desa menyalakan lampu untuk penerangan Kantor Desa yang menghubungkan listrik dengan puskesmas pembantu.

kondisi ini bukan hanya terjadi di Torosiaje, tetapi juga di ibu kota kecamatan.

“Kita juga di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Kecamatan Popayato kekurangan obat-obatan, kami juga sudah mempertanyakan distribusi obat namun masih ada keterlambatan dan kendala saat kami beritahukan di dinas kesehatan” kata Kepala Puskesmas Popayato, Roy Abas.

Roy Abas mengungkapkan,  bahwa ada beberapa obat yang nyaris selalu  kosong, kebanyakan yang diprioritaskan adalah obat untuk  penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (Ispa) . Namun obat  antibiotik senantiasa kurang.

Tidak hanya itu pihak puskesmas pun mengalami kendala dengan dana terkait pelayanan kesehatan, serta jaminan kesehatan karena saat melakukan sosialisasi mengenai Badan Penyelenggara Jaminan Kesehatan (BPJS) hanya melalui aparat desa dan kecamatan.

“Masyarakat masih banyak yang tidak tahu dengan BPJS hanya mendengar dari mulut ke mulut, bahkan kami di Puskesmas masih kurang memahami BPJS, kami kekurangan dana untuk mensosialisasikannya” tutur Roy.

Bulan Januari sampai April, banyak kendala menurut Roy dengan masih banyak yang tidak punya KTP(Kartu Tanda Penduduk) dan KK (Kartu Keluarga) saat warga yang tidak mampu didaftarkan di BPJS.

Di bulan April baru-baru ini , misalnya tujuh orang pasien dipulangkan oleh BPJS sehingga pihak Puskesmas membayar pengobatan pasien ketika dirujuk ke rumah sakit Pohuwato atau di kota Gorontalo.

“Kami yang bayar pengobatan karena kami juga belum mengerti tentang BPJS, waktu itu kami hanya menggunakan kartu domisili terpaksa kami menggunakan dana lainnya untuk membayar pasien,” kata Roy.

Desa Torosiaje Laut, tiang-tiang rumah berdiri kokoh di atas laut Teluk Tomini(DeGorontalo/Rivol Paino)
Desa Torosiaje Laut, tiang-tiang rumah berdiri kokoh di atas laut Teluk Tomini(DeGorontalo/Rivol Paino)

Senada dengan Faryd sebagai tenaga medis yang dikontrak, Dia mengaku kewalahan mengurus banyak pasien,” Sedangkan saya bukan peserta BPJS. Bagaimana kalau saya sakit? “ Dia mengeluh saat diwawancarai degorontalo.co

Ipin salah satu aparat desa Torosiaje Jaya, juga mengatakan sosialisasi BPJS memang tidak pernah  dilakukan langsung  pihak BPJS . Saat ini mereka punya seperti kartu keterangan yang hanya untuk satu keluarga bukan untuk kartu kepesertaan atau individu yang sudah terdaftarkan.

“Walaupun warga memiliki surat keterangan seperti itu tapi apa gunanya jika tidak memahami apa itu BPJS” ujar Ipin.

Torosiaje Jaya adalah desa pemekaran dari Torosiaje, masyarakat setempat menyebutnya Torosiaje darat yang menjadi pintu masuk ke desa wisata Torosiaje. Di Torosiaje Jaya Pusat Kesehatan Desa(Puskesdes) juga tidak beraktifitas karena krisis air di Torosiaje Jaya maupun Torosiaje Laut.

Kepala Bidang Jaminan Sosial Dinas Kesehatan Pohuwato, Fidi Mustafa juga berkata terkait dengan sosialisasi tentang BPJS memang masih kurang, sama kurangnya dengan  obat-obatan dan fasilitas pelayanan kesehatan.  “Itu di usulkan ke pusat karena pemerintah daerah tidak mampu juga” ucapnya.

 

RIVOL PAINO

(Visited 157 times, 1 visits today)

2 thoughts on “Kalau Sakit, Tak Ada Jaminan Negara Bagi Orang Bajo Torosiaje

Leave a Reply

1 + 12 =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top