You are here
Home > Lingkungan > Agraria > Kami Butuh Sawah, Bukan Beton

Kami Butuh Sawah, Bukan Beton

Ibu-Ibu kelompok masyarakat, mempersembahkan tarian di sela-sela kegiatan. DG/ Defri Hamid

DeGorontalo –  Ada gegap gempita di tengah sawah. Panggung didirikan dengan tiang bambu beratapkan daun. Beberapa  lukisan berisi pesan-pesan di patok di kiri-kanan sisi panggung. Bendera merah putih terpancang di kedua sisinya.

Sementara di sudut kiri, ada patung tikus besar dari jerami. Entah  itu melambangkan hama padi, atau jangan-jangan simbol pengerat kehidupan petani: tengkulak, pasar yang tak adil. Berbagai atribut itu dibuat dari bahan yang ramah lingkungan dan tersedia melimpah, seperti bambu, jerami dan dedaunan kering.

Tanah bekas sawah itu tak lagi kering. Walaupun mereka telah menyiasatinya dengan menghamburkan jerami padi, kaki pengunjung masih sering terjerembab di lumpur. Untuk tempat duduk penonton dihamparkan karung beralaskan terpal, tapi tetap saja membuat celana basah.

Belum lagi saat malam, seperti umumnya area persawahan setelah panen, area tempat kegiatan akan dikerumuni oleh serangga hama padi yang akan membuat gatal dan menyebarkan bau busuk.

Pengunjung mau atau tidak, harus mengakrabi suasana persawahan yang menjadi sumber makanan pokok mereka.

Begitulah Pesta Seni Pasca Panen yang bertajuk “Maa Ledungga” berlangsung.

Tiga hari lamanya kegiatan itu dilaksanakan, dimulai pada tanggal 10 sampai 12 Mei 2018 di Desa Huntu Selatan, Kecamatan Bulango Selatan, Bone Bolango. Huntu Art Distrik, Perupa Gorontalo, Gurat Institute dan Remaja Desa Huntu Selatan sebagai pelaksana utama, dibantu oleh beberapa komunitas seni dan masyarakat.Perlu dicatat, kegiatan ini diselenggarakan secara swadaya. Sonder  kontrak politik dengan pihak manapun.

“Kegiatan seperti ini pertama kali diadakan di desa ini, mungkin juga di seluruh Gorontalo,” kata Kepala Desa, Yasin Djabi, memberikan sambutannya.

Agenda kegiatan dimulai pada waktu sore hari, saat matahari mulai tergelincir  dari puncak panasnya. Setiap usai salat Magrib diadakan pemutaran film dan dilanjutkan lagi dengan pentas seni setelah Isya.

Berbagai macam pentas seni digelar, tarian, puisi, komedi, hungguli, pelatihan melukis, musik dan teater. Pengisinya adalah para siswa sekolah dasar, kelompok masyarakat dan seniman.

Komunitas ataupun individu yang ingin menyumbangkan kelebihan mereka, diberikan ruang oleh pelaksana. Seperti Komunitas Pelawak Daerah (Kopdar) Gorontalo. Salah satu anggotanya, Muhammad Taufik Adam, mengaku turut berpartisipasi pada kegiatan ini dengan suka rela.

Mereka menyadari apa yang ingin disampaikan oleh kegiatan itu adalah hal penting yang selaras dengan semangat komunitas mereka.
Lawakan yang mereka bawakan menceritakan tentang kisah seorang petani dan orang-orangan sawah, mereka berdialog tentang pendapatan si petani sehabis panen harus membayar sejumlah hutang.

Percakapan mereka sesekali diganggu oleh hama-hama sawah. Kemudian datang juragan yang ingin membeli tanah mereka.

Sementara si petani tergoda, para hama dan orang-orangan sawah yang tadinya pasif, justu berkumpul melakukan aksi perlawanan terhadap petani dan juragan.

Cerita ini terinspirasi oleh kondisi di perkotaan, sawah-sawah berganti dengan beton, pangan pun menjadi mahal. Terinspirasi oleh kondisi di perkotaan, sawah-sawah berganti dengan beton, pangan pun menjadi mahal.

Selain mereka, Ami Yokoyama, seniman asal Jepang memberikan mereka hadiah berupa aransemen biola lagu Mayiledungga (baca: Maa Ledungga). Video yang dikirimkan ini adalah dirinya yang sedang memainkan instrumen biola, dilengkapi dengan lirik lagu agar bisa dinyanyikan bersama oleh pengunjung. (Video bisa dilihat di link ini: Maa Ledungga)

Lagu yang menjadi tema kegiatan ini adalah ciptaan Umar Djafar yang dipopulerkan oleh Rama Aiphama. Secara harfiah Maa Ledungga berarti ‘telah tiba’, menceritakan tentang musim panen yang disambut gembira oleh anak-anak dan orang dewasa.

Pipin, perupa memberikan pelatihan melukis menggunakan cat air, kepada anak-anak (11/5/18). DG/ Defri Hamid

Di Gorontalo sendiri, tradisi yang lebih dikenal oleh masyarakat adalah prosesi menuai bibit padi (persemaian) atau ‘mo mulayadu‘. Prosesi ini ditandai dengan doa syukuran bersama.

Selama 21 hari proses persemaian, menanam, lalu menunggu sekitar 3 bulan untuk panen. Namun miris, ketika selama itu menunggu, petani masa kini harus berhadapan dengan sejumlah hutang kepada pemasok pestisida, tengkulak yang seringkali memainkan harga jual dan antrean penggilingan.

Belum lagi jika ada pengalihan fungsi lahan oleh pemerintah dan pengusaha. Berlatar hal inilah kegiatan “Maa Ledungga” dilaksanakan.

Kegiatan yang mereka lakukan bukanlah respon atas adanya penggusuran seperti yang terjadi di Rembang dan Yogyakarta.

Ancaman pembangunan di sawah mereka belum di depan mata. Namun tidak nanti menunggu itu terjadi. Awal sebagai salah satu penggagas kegiatan, menuturkan kekhawatirannya terhadap pembangunan Gorontalo Outer Ring Road (GORR). Konon dia mendengar pembangunan jalan lingkar itu akan merembet sampai ke sawah di sekitar tempat kegiatan yang dilaksanakannya.

“Karena perhitungannya kalau di seberang sana, akan banyak kantor yang kena, PU dan KPU. Jadi kemungkinannya di sini yang akan kena (pembangunan GORR),” ujarnya.

Elnino Mohi, anggota DPR RI yang kebetulan berkediaman di desa tetangga, sempat mengunjungi kegiatan itu di hari pertama. Walaupun dia datang terlambat, dan tak tahu menahu tentang kegiatan itu, juga menuturkan pesan serupa, “jangan jual tanahlah, kita harus maksimalkan hasil bumi,” katanya saat diwawancarai.

Menurutnya juga di tengah tindakan pemerintah mengimpor beras yang berdampak terhadap kemorosotan harga gabah, pemerintah harus membuat kebijakan pro petani, yakni dengan membuat para petani tidak lagi sibuk dengan membayar utang.

Sementara Kepala Desa menuturkan jika masyarakat Huntu Selatan, mayoritas berprofesi sebagai petani. Dari luas wilayah desa 64 ha, lebih dari 80 persen adalah area persawahan.

“Nah bagaimana jika lahan mereka dihilangkan sedikit demi sedikit?” ujarnya.

Dua papan lukisan yang bertuliskan, “bertani itu nafasku” dan di belakangnya bertuliskan, “saya perempuan, saya bertani”. DG/Defri Hamid

Malam penutupan (12/5), pesta seni itu, ada tarian kontemporer yang dibawakan oleh Lilis, Atika dan Frengki (kelompok seniman). Tarian berdurasi sekitar 15 menit yang menggambarkan penindasan terhadap dua orang petani perempuan oleh seorang pria. Akhirnya kedua petani perempuan itu berhasil menindih pria itu, seraya menyerukan, “saya perempuan, saya bertani!”

Setelah mereka, ada pentas teater berjudul “Merahmu, Putihku: Merah Putih Kita” oleh kelompok teater Peneti. Teater yang menceritakan dua kubu petani yang saling bertikai, dan tanpa sadar ada tikus besar yang menjadi musuh bersama mereka. Teater dan juga keseluruhan kegiatan ditutup dengan membakar tiruan tikus besar itu, mereka tertawa melihatnya terbakar, lalu khidmat menghormati bendera merah putih.

DEFRI HAMID

(Visited 104 times, 6 visits today)
Defri Hamid
Masih mahasiswa, ingin cepat wisuda biar bisa jadi wartawan.
http://defryhamid.blogspot.com

Leave a Reply

fourteen + thirteen =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top