You are here
Home > Berita Pilihan Editor > Kampus Zaman Now. Ah Sama Saja:Rasa Orba!

Kampus Zaman Now. Ah Sama Saja:Rasa Orba!

Ilustrasi. Google

Oleh. Zulkifli Mangkau

(Mahasiswa komunikasi  yang hampir lulus, aktif di LPM Merah Maron Universitas Negeri Gorontalo)   

MENIMBA ilmu kewajiban manusia. Biar jadi sebenar-benarnya manusia. Bagi yang beruntung, maka sumur ilmu bisa ditimba di perguruan tinggi.

Jadi mahasiswa itu mudah. Apalagi kalau keluargamu berduit. Kampus tersebar di seluruh dunia, dengan segala inovasi dan aturan mainnya sendiri-sendiri.

Indonesia pun tak kalah langkah. Bangunan kampus pesat dibangun. Saling berlomba megah. Meski penampilan fisik kampus bikin berdecak kagum, banyak hal -hal aneh, lucu dan menggemaskan di sana.

Sebab, nyaris seluruh kampus mengekang daya kritis mahasiswa.

Kampus kita di Indonesia memang sudah sakit. Dibikin sakit sejak zaman Orde Baru. Suara-suara kritis dibungkam atau malah dihilangkan. Warisan Orba itu berdampak sampai zaman now. Aturan kampus yang konyol -konyol pun pun dibuat. Dari pelarangan rambut gondrong, pakaian harus rapi, batas kuliah 4 tahun, harus bersepatu. Dan kalau ada mahasiswa kedapatan demo, maka goresan pena dosenlah yang berbicara.

Kampus mendidik mahasiswa menjadi antek-antek mereka, yang suatu saat bisa mereka mainkan sesuai kebutuhan pasar.

Tak luput dari ingatan, bagaimana rezim Orba yang dinahkodai Jendral Soeharto. Zaman yang disebut -sebut serba aman dan terkendali. Padahal daya kritis dikebiri. Bahkan nyawa jadi mainan.

Kampus sebagai tempat pengawal kebijakan lainnya, dibungkam. Begitu pun dengan media-media yang coba kritis pada penguasa, diancam kena bredel.

Orba tak memberi ruang sedikit pun bagi rakyatnya, mengkritisi penguasa . Tapi bisul yang dipelihara, lama-lama akan pecah. Sebut saja peristiwa Malapetaka lima belas Januari 1974 (Malari). Peristiwa ini menggambarkan ketidakpuasan para mahasiswa berujung pada unjuk rasa besar-besaran. Kacaunya sistem perekonomian dan kongkalikong penguasa dengan pihak asing ialah pemicunya.

Soeharto tak tinggal diam, dia menyadari hal itu. Badan-badan intelijen pun dibentuk untuk membasmi para pengacau di masanya. Dia mengetahui bahwa dalang dari semua ini adalah ulah mahasiswa, dan kesulitan baginya untuk memusnahkan semua gerakan pada masa itu.

Maka kampus pun dibungkam. Daoed Joesoef, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan kala itu, mengeluarkan Surat Keputusan Nomor 0156/U/1978 atas kebijakan tentang Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK/BKK).

BACA JUGA:

Kebijakan ini tak lain merupakan upaya rezim Soeharto, mematikan daya kritis mahasiswa.

Kampus dibikin steril. Tidak lagi jadi wadah mahasiswa untuk menajamkan nalar. diskusi hanya dilakukan sembunyi-sembunyi guna membahas kinerja pemerintahan. Intervensi besar-besaran di setiap kampus terus dilancarkan. Alhasil jika ditemukan gerakan mahasiswa yang mencurigakan, perlawanan represif pemerintah adalah jawabannya.

Saking curiganya penguasa, bahkan sampai urusan gaya rambut mahasiswa pun harus diurusi oleh negara. Rezim Soeharto mengeluarkan pelarangan rambut gondrong dengan membuat Badan Koordinasi Pemberantasan Rambut Gondrong (BAKOPERAGON).

Lembaga-lembaga pemerintah, kampus, dan sebagainya tidak akan melayani orang yang berambut gondrong. Mahasiswa harus tampil rapi dan seragam. Ia lebih mementingkan mengurusi para penentangnya, dibandingkan praktek Kolusi, Korupsi, Nepotisme yang mulai merajalela di zaman itu.

Puncaknya, 20 Mei 1998 menjadi hari paling buruk buat Soeharto. Unjuk rasa besar-besaran berhasil menumbangkan soeharto dari pucuk pimpinannya. Lengsernya Soeharto menjadi angin segar. Meski perjuangan itu harus dibayar nyawa banyak orang. Tak terkecuali para aktivis yang diculik dan hingga kini tak kembali.

Tapi rezim Soeharto tak serta-merta hancur lebur. “Semangatnya” masih saja dipakai. Hanya ganti nama dan judul  saja.

Semangat orde baru itu juga terasa di kampus pada hari ini. Dosen sampai mahasiswa seolah menjadi Reinkarnasi Orde Baru. Coba lihat, ada berapa kampus di Indonesia yang memberikan kebebasan kepada mahasiswanya untuk berekspresi dan mengemukakan pendapat?

Mahasiswa gondrong dilarang, demo dilarang, mengkritik kampus diancam kena skorsing, baca buku kiri dianggap berbahaya. Kuliah harus tepat waktu. Jangan berani mengkritik dosenmu jika tak mau nilaimu ditahan, Kampus mengajarkan hal-hal akademis saja, lain dari itu tidak bisa.

Mahasiswa seperti ternak. Dijinakkan dalam kandang. Seperti yang dilansir Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI), beberapa pers mahasiswa dibredel karena berani mengkritisi birokrasi kampusnya sendiri.

Pada 2014. Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Ekspresi UNY mengalami penarikan Buletin karena mengkritisi pelaksanaan Ospek. Pada 2015, edisi majalah yang diterbitkan LPM Lentera Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga, ditarik rektorat dan disita kepolisian, karena mengangkat liputan seputar kejadian 1965. Pada 2016 LPM Poros, Universitas Ahmad Dahlan, dibekukan karena mengkritik pembangunan fakultas kedokteran. Kasus sama terulang kembali, LPM Pendapa di Universitas Sarjanawiyata Taman Siswa, Yogyakarta dibekukan pihak kampus, karena tidak menandatangani pakta integritas,aturan yang muncul setelah lembaga pers ini mengangkat kegagalan wisuda di Fakultas MIPA awal 2016.

Aksi main bredel ini, menunjukan bahwa birokrasi kampus saat ini, tak lain dan tak bukan merupakan penjelmaan Orba gaya baru warisan Soeharto.

Tak hanya sampai di situ, pelarangan diskusi dan baca buku kiri di kalangan mahasiswa pun kian marak. Sebagaimana dilansir kabarkampus.com 10 november 2016 pelarangan buku kiri menjadikan kampus jadi paranoid akan hal-hal yang berbau komunisme. Sinatrian Lintang Rahardjo, Fidocia Wima Adityawarman, dan Lazuardi Adnan Faris, mahasiswa Universitas Telkom Bandung yang yang menggelar lesehan buku, diskorsing oleh kampusnya.

Lintang dan kawan-kawannya dituduh menyebarkan paham komunis.

Kampus kian tak asyik. ruang demokrasi mahasiswa mulai dipersempit. Basri Amin, dalam bukunya “Civitas Akademika Universitas dan Identitasnya” mengatakan keterbukaan, kerendahan,dan kritisisme adalah hal-hal pokok yang sewajarnya melekat pada setiap warga kampus, dan mahasiswa tidak boleh diperlakukan sebagai anak-anak remaja, melainkan sebagai pribadi dewasa yang berada di fase transisi.”

Kampus tidak boleh memberangus daya kritis mahasiswanya. Jika tidak, kampus hari ini akan sama saja rasanya. Rasa Orba!

(Visited 254 times, 2 visits today)

Leave a Reply

17 − 2 =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top