You are here
Home > Gorontalopedia > Budaya > Kasimu Motoro, Kisah Moral Ayah yang Makan Anaknya

Kasimu Motoro, Kisah Moral Ayah yang Makan Anaknya

 

Risno Ahaya (DeGorontalo/Syam Terrajana)
Risno Ahaya (DeGorontalo/Syam Terrajana)

DEGORONTALO – Panggil namanya Toro. Laki-laki pemabuk tak bertanggung jawab. Hidup sepenuhnya  dia persembahkan di meja judi dan alkohol. Pulang rumah selalu menuntut bukan-bukan. Makan enak harus tersedia di meja, padahal tak pernah sepeser pun memberi uang belanja.

Kalau tak dipenuhi, istri dicaci maki, ditendang ditampar dihajar tanpa ampun.

Hadira, Istri Toro, pada hari itu bergegas pergi ke warung, nekad mengutang beras dan segala macam rerempah. dititipkan  anak sulungnya ke tempat nenek, lalu tergopoh-gopoh dia kembali  ke rumah, menampi  beras, menyalakan kompor,menjerang air. Pisau dapur itu diasahnya tajam-tajam.

Sungguh hari yang tak biasa. Setelah bumbu siap kemudian diambilnya si bungsu yang masih tidur di buaian. Dia mandikan, masih sempat dikecup dan disusuinya.(Baca Juga:Penyair Tradisi Gorontalo, Risno Ahaya Dapat Gambusi Baru dari Kantor Bahasa)

Tak lama kemudian Toro suaminya pulang. Aroma  lezat itu  menyeret kakinya untuk mengambil piring, beraneka hidangan tersaji, lahap sekali dia makan hingga akhirnya terhenti ketika terasa ada yang aneh sedang dikunyahnya. Diludahkannya ke lantai dan segera saja dia muntah, yang digigitnya tadi ternyata sepenggal jari. Ternyata kelingking anaknya.

Itulah  salah satu bagian cerita Tanggomo ‘Kasimu Motoro’. Keji dan tragis memang. Banyak yang percaya itu kisah nyata  terjadi di Gorontalo tempo dulu. Yayan Mukmin, salah satunya. Setiap kali  teringat kisah itu bulu kuduknya berdiri,membayangkannya saja ngeri.

“Saya pertama kali mendengar kisah itu saat duduk di bangku SD, guru yang menceritakannya,ibu saya juga menyampaikan hal sama,” pria yang bekerja sebagai teknisi di stasiun televisi swasta ini, lalu menyebut salah satu daerah di Gorontalo sebagai tempat kejadian perkara keji itu.

Cerita yang satu ini  terlanjur mendarah daging dalam memori banyak orang, bahkan nama Kasimu atau Hasimu, sering dilekatkan pada mereka yang gemar berjudi dan mabuk-mabukan.(simak artikel menarik lainnya di rubrik gorontalopedia, seperti Sepuluh Permainan Tradisional Gorontalo Ini Nyaris Punah)

Mengenai kebenaran kisah  itu, Prof.Dr Nani Tuloli, guru besar sastra daerah  di Universitas Negeri Gorontalo  memberikan klarifikasi. “Cerita itu hanya hasil imajinasinya Risno Ahaya, ”  ungkapnya, sebagaimana dikutip Jurnal Kebudayaan Tanggomo,Gorontalo edisi perdana, Februari-April 2011.

Dia meyakini cerita itu tak pernah terjadi. Masing-masing wilayah di Gorontalo mengklaim peristiwa itu terjadi di daerahnya. Disanalah letak  keraguan dari kebenaran kisah itu.

1990 silam, Nani Tuloli  menyusun Disertasi untuk meraih gelar doktoral di Universitas Indonesia, dengan judul “Tanggomo, salah satu ragam sastra lisan Gorontalo”.

Namun  menurut Nani, satu-satunya fakta  yang nampak jelas adalah  kecerdasan si pengisah

 Tanggomo, yang berhasil  menyatakan imajinasinya itu hingga merasuk jauh pada benak ingatan setiap orang yang menyimak. “Itulah kehebatan Petanggomo, mereka itu seniman, bisa mempengaruhi orang ,” Sambungnya.  

D.K Usman, salah seorang tokoh adat di Kota Gorontalo, punya versi lain mengenai siapa pencipta ‘Kasimu Motoro’, yang menurutnya adalah Manuli Askali atau Teme Sahala, Maestro Tanggomo asal Tapa, Bone Bolango .

Terlepas dari siapa penciptanya,  namun keduanya  sepakat, di balik  kisah berdarah ‘Kasimu Motoro’, bersemayam pesan moral bagi semua orang; Bahwa kebiasaan berjudi dan mabuk-mabukkan hanya akan membawa kehancuran rumah tangga seseorang.

Kasimu Motoro adalah  kisah  moral tentang manusia dan kemanusiaannya, bahwa akan terjadi kekejian paling tak terduga jika kita mengacuhkan tatanan  kehidupan,sebagaimana yang dituntun oleh ajaran agama, nilai-nilai kearifan.

 

DEGORONTALO | JURNAL KEBUDAYAAN TANGGOMO

 

 

 

 

 

 

Syam Terrajana
Lahir dan tinggal di Gorontalo setelah berkelana di berbagai kota. Membagi waktunya untuk menulis, membaca,melukis dan bepergian. Sesekali menyanyi jika suara sedang bagus. Dapat dihubungi di syam.terrajana2@gmail.com.

One thought on “Kasimu Motoro, Kisah Moral Ayah yang Makan Anaknya

  1. Masih mengiang di telinga saya ketika seorang petanggomo bernama te Buga, membabarkan “Kasimu-Motoro” setiap berkunjung ke pasar Dehuwalolo tahun 70-an. Syairnya tidak satupun saya hafal. Tapi judulnya sampai saat ini tak pernah terlupakan. Ada baiknya te Syam menyajikan syair lengkapnya di degorontalo. Wololo uuti?

Leave a Reply

twelve + 13 =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top