You are here
Home > Berita Pilihan Editor > Kata Ulang Dalam Bahasa Gorontalo

Kata Ulang Dalam Bahasa Gorontalo

Ilustrasi (DeGorontalo)
Ilustrasi (DeGorontalo)

DeGorontalo- Ada setidaknya tiga bentuk kata ulang dalam bahasa Gorontalo, kata kata ini sering mengalami proses pengulangan atau reduplikasi.

Tiga bentuk tersebut pertama adalah kata ulang penuh, kata ulang sebagian dan kata ulang berimbuhan.

Kata ulang penuh terbatas pada kata kata yang bersuku dua, kecuali pada kata bilangan, contoh :

ali  — ali ali   ‘berlubang’

lahe  — lahe lahe  ‘sedang direbus’

Sedangkan pada kata ulang sebagian, yang diulang hanyalah suku pertama pada kata dasar, contoh :

bilohu  —  bibilohu  ‘cara melihat’

huloo  — huhuloo   ‘cara duduk’

Kata ulang suku pertama, mengalami pemanjangan suku dan terjadi perubahan fonem akhir kata dasar, atau terjadi penambahan suku (dalam hal ini apabila kata ulang itu mengandung pengertian ‘saling’, dengan ketentuan sebagai berikut :

-Kata dasar yang berakhir vokal U, maka vokal U itu berubah menjadi E.

  • Contoh tuladu  —  tutu:lade   ‘saling menyurati’

-Kata dasar yang berakhir dengan vokal A, maka kata dasar bertambah WA.

  • Contoh, hama —  haha:mawa  ‘saling mengambil’
  • wuleya  — wuwu:leyawa  ‘saling membelakangi’

 

BACA JUGA :

-Kata dasar yang berakhir dengan vokal O, akan terjadi dua kemungkinan:

*Fonem O pada akhir kata dasar berubah menjadi A

  • Contoh, buloto  — bubu:lota  ‘saling meminjam’

*Kata dasar ditambah dengan WA

  • Contoh, delo — dede:lowa  ‘saling berbawaan’

-Kata dasar yang berakhir dengan vokal E atau I, maka kata dasar bertambah YA.

  • Contoh , tae  —  tata:eya   ‘saling menindis’
  • pai  —  papa:iya  ‘saling melempar’

-Kata ulang suku pertama dengan variasi vokal

  • Contoh, hama  —  huhama  ‘ambilan, pendapat’
  • delo  —  dudelo  ‘bawaan’

-Kata ulang sampai dengan suku kedua pada kata dasar yang bersuku tiga

  • Contoh, tuladu  —  tula-tuladu   ‘sedang tertulis’

Dan pada kata ulang berimbuhan, sebagian kata bentukan di ulang, seperti contoh :

tuladu  —  moluladu   —- molu-moluladu ‘menulis-nulis’

Kemudian ada juga imbuhan yang diulang, contoh :

balato  —  motibalato  ‘berguling’  — moti-motibalato ‘berguling-guling’

Selain kata ulang diatas, sebenarnya masih ada juga kata kata yang kelihatannya seperti kata ulang, tetapi karena tidak ada kata yang diulang, maka tidak disebut kata ulang. Dalam tata bahasa tradisional , jenis ini disebut kata ulang semu. Contohnya ‘tome-tome’ — buah tome-tome, dan ‘lobe-lobe’ — buah lobe-lobe.

 

Sumber: Kamus bahasa Gorontalo-Indonesia, Mansoer Pateda

 

WAWAN AKUBA

(Visited 1,377 times, 9 visits today)

Leave a Reply

fourteen − nine =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top