You are here
Home > Berita Pilihan Editor > Kegagalan Teror Sarinah

Kegagalan Teror Sarinah

Ilustrasi (google.com)
Ilustrasi (google.com)

 

Oleh. Funco Tanipu
Pengajar di Jurusan Sosiologi FIS UNG

 

AKSI teror yang diduga dilakukan oleh kelompok ISIS dianggap oleh sebagian besar warga menjadi aksi teror terlucu di dunia. Aksi teror yang semestinya melahirkan horor (ketakutan dan sesuatu yang menyeramkan) malah menjadi aksi lelucon warga. (BACA: Buat Funco Tanipu: Selebrasi Bom Sarinah Dan Redupnya Nalar)

Padahal, aksi teroris senyatanya adalah aksi kekerasan yang direncanakan, dikalkulasikan, mengejutkan dan bertujuan untuk mempengaruhi psikologi publik agar menyetujui agenda mereka. ( Sukawarsini Djelantik, 2010)

Habitus Teror

Namun, aksi teror tanggal 14 Januari 2016 kemarin mendapatkan “perlawanan” publik. Aksi teror yang semestinya menciptakan ketakutan, malah membalikkan psikologi warga menjadi keberanian. Aksi teror di Sarinah malah menjadi kerumunan warga yang menonton dan bahkan beberapa orang melakukan selfie di lokasi kejadian, sehingga teror sebagai wacana yang diproduksi untuk menjadi dominan lalu berakibat pada penyebaran wacana (contagion effects) malah mendapatkan counter hegemony dari publik.

Aksi teror yang kemudian melahirkan perlawanan, bisa jadi bukan karena keberanian saja, tapi karena kekerasan dianggap sebagai sesuatu yang normal, dan menjadi tampak biasa. Repetisi produksi media tentang kekerasan di Indonesia menyebabkan logika warga menjadi terbalik, semestinya takut tapi menjadi tontonan bahkan lelucon. Teror menjadi semacam habitus. Teror bagi warga Indonesia adalah hal yang telah menjadi normal, terjadi pembiasaan. Perulangan aksi teror dengan pola dan karakter teror yang hampir mirip membuat publik bosan dengan produksi wacana ini sehingga gelombang perlawanan menjadi kolektif.

Aksi teror Sarinah yang semestinya menciptakan horor bagi warga di Indonesia tampak menjadi biasa dan berkemungkinan gagal. Teror pada intinya adalah “pesan” dan “pemberi ingat”. Teror adalah pesan eksistensial bagi publik untuk takut. Teror bertujuan untuk membongkar legitimasi keamanan dan ketertiban yang dijamin aparat. Teror berkehendak meruntuhkan kepercayaan warga bagi Negara sebagai penyedia rasa aman. Pada titik ini, aksi teror Sarinah sepertinya gagal dalam mengartikulasikan “tanda” menjadi pesan bagi khalayak. Tanda dan pesan teror tidak berhasil memanipulasi kesadaran warga.

Bagi Slavoj Zizek, kekerasan fundamentalis seperti yang dilakukan oleh ISIS memiliki akar pada iri-hati dan kecemburuan pada Barat. Namun, akar iri hati dan kecemburuan bersifat destruktif. Pada muasalnya kekerasan teror untuk menghancurkan Barat, namun kini lebih memilih menghancurkan diri mereka sendiri sambil menegasikan semua alternatif lain. Islamo-fasisme dalam perspektif Nietzschean adalah fenomena reaktif, impotensi dan ekspresi kekalahan karena ketakbecusan yang berbalik menjadi kegusaran ganas penghancuran-diri.
Teror di Indonesia bisa saja kedepan akan mengalami kegagalan dan bahkan kepunahan, sebab pesan yang dikreasi teroris terlalu standar, dengan pola yang tidak pernah baru, bahkan cenderung “membosankan” publik.

Perlawanan Publik dan Mematahkan Ingatan

Untuk sementara, dalil teror Sarinah itu sepertinya akan gagal. Warga mencoba membangun semangat anti teror dengan menjadikan teror sebagai lelucon. Warga membangun anti bodi sosial secara cepat dan kolektif. Media sosial pun memberikan celah untuk itu. Media sosial mem-boost konstruksi anti bodi teror yang diproduksi warga.

Konstruksi anti bodi publik melawan teror diperkuat dengan banyak hashtag  #IndonesiaBerani, #IndonesiaUnite, #IndonesiaBerani, #KamiTidakTakut. Hashtag #KamiTidakTakut berhasil menduduki peringkat 6 trending topic secara global. Perbincangan tentang hashtag #KamiTidakTakut ini menjangkau 6.623.279 akun twitter. Sebagai lanjutan dari gerakan di media sosial, pada tanggal 15 Januari 2016, sehari setelah aksi teror, ada semacam aksi damai dengan tajuk “Kami Tidak Takut” yang dilaksanakan di lokasi kejadian.

Aksi perlawanan publik mendapatkan dukungan wacana populer yang lebih menyenangkan publik seperti kisah heroik Teuku Arsya Khadafi, perwira menengah di Polda Metro Jaya yang menjadi new idol bagi mbak -mbak. Teuku Arsya menjadi tren karena aksi heroik mengejar teroris dengan stylish yang fashionable. Di Path, Instagram, Twitter, dan Facebook pun lahir hashtag , #PolisiGanteng. Pesan teror seperti tenggelam dengan diskusi di media sosial mengenai tas merek Coach dan sepatu Adidas ZX Flux Snow Camo Shoes yang dikenakan Arsya dalam aksinya.

Sampai saat ini, perang “pesan” menjadi lebih seru saat memperhadapkan aksi teror versus tukang sate, aksi teror versus kerumunan warga, aksi teror versus foto selfie.

Pesan teror yang tujuannya untuk mengkonstruksi ingatan publik sepertinya mengalami kendala serius. Bagi Foucault, ingatan dari produksi tanda adalah bagian dari perjuangan, berjuan untuk mengontrol dinamika masyarakat. Tujuan dari teror untuk menciptakan ketakutan berhasil digergaji oleh perlawanan publik melalui media sosial. Keinginan teroris untuk menciptakan doxa (kondisi dominan dan universal yang bersifat simbolik) menjadi berantakan, publik dengan segala cara mampu melawan serta mematahkan tirani wacana dan perluasan ingatan sosial tentang teror.
Negara Defisit Legitimasi

Di saat warga mulai kompak membangun anti bodi melawan teror, Negara yang mestinya berada di depan dalam menyediakan dan menjamin keamanan, malah terkesan lambat dan kecolongan dalam mengatasi aksi teror.

Semangat warga dalam membentuk anti bodi melawan teror adalah ungkapan kolektif publik yang telah kehilangan kepercayaan pada Negara dalam menyediakan keamanan dan memfasilitasi ketertiban.
Terakhir, di satu sisi kita bahagia dengan aksi kolektif warga melawan teror dengan cara dan polanya sendiri, tapi di sisi lain kita juga mulai khawatir dengan legitimasi Negara yang semakin lemah di mata warganya.

Jika ini tidak diantisipasi, semua urusan publik yang dipercayakan pada Negara akan kehilangan dukungan, partisipasi dan legitimasi. Sebab, urusan genting seperti aksi teror yang berkaitan dengan nyawa warga,

Negara hampir abai, apalagi urusan publik seperti listrik, air, transportasi dan logistik lainnya. Pesan teror bisa saja gagal dalam mengkonstruksi horor bagi publik, tapi pesan teror bisa saja telah berhasil men-defisit-kan kepercayaan publik pada negara.

(Visited 1,713 times, 1 visits today)

Leave a Reply

four × three =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top