You are here
Home > Lingkungan > Agraria > Kenapa Petani Desa Makarti Jaya Pohuwato Tolak Sawit?

Kenapa Petani Desa Makarti Jaya Pohuwato Tolak Sawit?

Salah seorang petani di Desa Makarti Jaya, Kecamatan Taluditi, Kabupaten Pohuwato memerlihatkan buah kakao yang ditanamnya.(DeGorontalo/Syam Terrajana)
Salah seorang petani di Desa Makarti Jaya, Kecamatan Taluditi, Kabupaten Pohuwato memerlihatkan buah kakao yang ditanamnya.(DeGorontalo/Syam Terrajana)

 

DEGORONTALO – Pada bentang alam Paguat-Pohuwato, provinsi Gorontalo, kakao menjadi salah satu jenis tanaman agroforestry. Dan Sejak tahun 2015, Burung Indonesia Untuk Gorontalo telah melakukan Fasilitasi terhadap Usaha Tani kakao di bentang alam tersebut,  dalam Program Restorasi Ekosistem dan tindak lanjut dari Kesepakatan Pelestarian Alam Desa (KPAD).

Nasroi, petani kakao di desa Makarti Jaya, Kecamatan Taluditi, Kabupaten Pohuwato  mengaku, saat ini  kakao sangat menjanjikan dibanding tanaman lain.  Pria yang sudah berumur 53 tahun itu mengungkapkan, menanam kakao tidak menghabiskan energi seperti merawat tanaman lain, misalkan palawija, cabai dan jagung, sehingga petani kakao bisa lebih banyak bersantai.

Untuk penjualan, saat ini Nasroi lebih banyak menjual hasil panen kakaonya dalam keadaan basah, hal itu karena besarnya biaya operasional untuk pengeringan. Lagian, di desa Mekarti Jaya ungkapnya, belum ada tempat untuk pengeringan kakao.

“Tapi walaupun di jual dalam keadaan basah, petani kakao itu tidak rugi, karena kita jualnya untuk satu karung kecil itu dengan harga berkisar 650 ribu – 750 ribu rupiah,” tuturnya kepada DeGorontalo pada Minggu ( 24/4) lalu.

Sebelum menjadi petani kakao, dirinya sering ke hutan untuk mencari rotan. Dia juga pernah   bercocok tanam komoditas lainnya. Hampir semua jenis tanaman dicobanya. Namun semuanya kurang menguntungkan, sehingga akhirnya dia memprioritaskan pertaniannya pada kakao.

Selain kakao, pria dua anak itu juga punya kebun melon di lahan yang luasnya 0,75 Ha, namun karena perawatannya tidak terlalu maksimal, sehingga 40 persen  gagal.

“Melon ini sebenarnya akan saya cabut,  diganti semangka, karena ini gagal semua, saya balik modal saja ini,” ungkap Nasroi sambil memetik buah melon.
Saat ditanya apakah dirinya setuju dengan kelapa sawit, Nasroi mengungkapkan bahwa dirinya sangat menolak sawit, hal ini karena sawit dapat menyebabkan ketergantungan. Sawit juga dinilai dapat merusak tanah dan sangat rakus air.

“Pernah ada yang mau menanam sawit, lalu saya bilang jika ingin menanam sawit, silahkan, tapi hasil panennya dibawa terbang, jangan lewat lahan saya,” tegas Nasroi sambil tertawa.

Di tempat yang sama, Mahfud yang juga petani kakao mengaku di makarti jaya hanya ada satu musim, yakni musim kakao, selain itu tidak ada. “Dalam semusim, Untuk setiap satu hektar lahan kakao, menghasilkan sekitar delapan sampai sembilan karung kecil kakao basah,” kata Mahfud

Menurut data yang diberikan Burung Indonesia, Jumlah petani kakao di desa transmigrasi yang dihuni etnis Jawa dan Sangihe itu, per 2012 ada sekitar 228 orang. Luas lahan keseluruhan  mencapai 328 Hektar. Saat ini, ketika sejumlah desa di Kecamatan Taluditi menerima kehadiran ekspansi sawit ,   petani di desa Makarti Jaya masih konsisten menolak sawit.

 

WAWAN AKUBA

wawan akuba
Mahasiswa dan pecinta, seorang yang telah mencoba melibas semak belukar rinjani tapi tetap tunduk pada keindahannya.
http://wawannakuba.blogspot.com

Leave a Reply

fourteen + 1 =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top