You are here
Home > Lingkungan & Kesehatan > Kepada Ibu-ibuku: Berjuanglah, Suaramu Sudah Sejauh ini!

Kepada Ibu-ibuku: Berjuanglah, Suaramu Sudah Sejauh ini!

Oleh: Defry Hamid

Mahasiswa Komunikasi Universitas Negeri Gorontalo

Ilustasi: srinthil.org
Ilustasi: srinthil.org

“Untuk para geolog, ahli hukum, pakar lingkungan, pemerintah, media, pabrik semen, polisi, tentara, kreditur atau pemegang saham…Film ini hanya mengambil satu sudut pandang…orang-orang Samin.”

Teks itu muncul di layar labtop 14 inch, pada menit ke dua, detik ke 55. Tepat di depan gambar yang memperlihatkan kerusakan alam akibat pabrik semen dan diiringi musik latar yang menyayat hati. Saya kemudian terkaku memelototi layar laptop. Beberapa saat teks ini berlalu disapu gambar yang lain. Saya tidak ingin kisah tragis itu hilang begitu saja. Lalu saya mengulang adegan itu, sekali, dua kali, sampai trenyuh itu hilang.

Sebuah suguhan yang membuat getaran pada bulu sekujur tubuh saya terasa berdiri. Ia begitu menggetarkan hingga membuat air mata tertetes jatuh. Air mata itu tidak bercucuran seperti orang-orang yang berada di pemakaman. Saya pun tidak sampai tersengal-sengal. Air mata ini jatuh tanpa bersuara. Hanya saat itu seperti ada luapan emosi yang menyesakkan.

Saya kemudian melanjutkan film ini. Barangkali film ini memang sengaja dibuat untuk menyesakkan hati penontonnya. Sensasi berubah-ubah mengikuti alur tangkapan kamera Dandhy dan Ucok, duo backpack journalism cum aktivis AJI itu.

Ada saat saya marah, di mana saat ibu-ibu dibentak, diangkat dan ditampar oleh orang-orang kekar berseragam. Ada saat saya takjub, di mana Gunarti berucap, “tujuan pendidikan bukan agar pandai, yang penting mengerti. Kalau pintar bisa digunakan untuk memperdaya atau menipu”. Ada saat saya sedih, ketika ibu-ibu menangisi bendera merah-putih sambil bershalawat. Dan ada juga saat saya merasa lucu, ketika melihat ibu-ibu berkumpul dan bernyanyi lagu “mars” Jawa Tengah. Film ini berhasil mengaduk-aduk perasaan saya.

Samin vs Semen, judul film ini, berulang kali saya putar. Bahkan hanya untuk mendengar musik latar merdu bernama unseen force at work. Namun sayang, film ini hanya tersimpan begitu saja di laptop dan bersanding dengan film-film Hollywood. Tak layak memang, film fakta ini disandingkan dengan fiksi. Adegan seorang ibu ditampar itu bukan rekayasa, dan mereka bukan artis yang bersandiwara. Satu kata saja, film ini tak pantas untuk didiamkan.

Jika benar ada sekelompok petani yang resah karena kehadiran pabrik semen, jika benar ada sekelompok petani ini diintimidasi, diacuhkan, ditampar, dibuat seperti pengganggu pembangunan, maka diamnya kita berarti runtuhnya nilai kemanusiaan. Tapi ruwet juga, berbicara nilai kemanusiaan kepada pemerintah, yang ada malah akan dicurugai ada “aktor intelektualnya”. Apalagi jika berharap media “nasional” ikut mengawalnya, alih-alih mereka akan jujur persoalan nilai berita yang berbanding lurus dengan “nilai” iklan.

Begitulah, dewasa kini, nilai kemanusiaan sudah terkikis habis oleh kepentingan segelintir orang penting yang tamak. Pembangunan pasti akan disertai embel-embel uang, perusakan, dan hal-hal yang sama sekali tidak berhubungan dengan kata “membangun”. Kegelisahan para petani di Pati dan Rembang, Jawa Tengah atas pabrik semen bukanlah hal yang tidak berdasar. Budaya cocok tanam begitu merekat dalam kehidupan mereka. Kehadiran pabrik semen bukan hanya tidak diperlukan oleh mereka, justru akan merusak keharmonisan budaya, termasuk kebutuhan vital masyarakat. Tanah, air dan hutan akan digantikan dengan semen yang pada prinsipnya tidak dibutuhkan.

Keteguhan hati untuk terus berjuang melawan industri semen inilah yang membuat sembilan ibu-ibu dari pegunungan Kars Kendeng, Jawa Tengah, beraksi di seberang istana negara sang Presiden, dengan cara mengecor kedua kaki mereka. Aksi mereka sebut dipasung semen. Sengatan matahari tak menyurutkan niat para ibu-ibu itu. Salah seorang di antara mereka bahkan berteriak, “Demi ibu pertiwi! Kami akan terus menolak semen.”

Masih belum cukupkah kegelisahan seperti ini dibungkam? Saya pikir orang-orang di negeri ini masihlah berbentuk manusia, lengkap dengan hati nurani yang akan jelas membedakan mana baik mana buruk. Ibu-ibu itu menangis, membayangkan harta satu-satunya dirampas, memikirkan nasib anak-cucunya kelak yang akan kehilangan tanah untuk pangan. Tapi yang harus ditegaskan, persepsi harta mereka bukanlah harta orang-orang kota, yang butuh uang lebih untuk sejahtera. Sebab sejahtera itu bisa dicapai jika kebutuhan hidup terpenuhi.

“Jangan silau uang banyak, karena uang itu bisa habis, sedangkan tanah tidak,” kata Gunarti dalam film Samin vs Semen. Bagi para cerdik pandai, ucapan Gunarti ini mungkin masih akan diperdebatkan lagi.

Hidup sederhana lagi sejahtera mereka ini yang mungkin kurang bisa diterima oleh banyak orang. Orang-orang lupa bangsa ini bermoto Bhinneka Tunggal Ika, lantas pembangunan modern ala kapitalis tidak harus diterima oleh semua kalangan. Pun demokrasi yang menjadi bentuk pemerintahan di negeri ini hanya menjadi jargon kampanye; kesetaraan tinggallah di dunia ide sebagaimana paham Hegelisme. Pendapat masyarakat berada di nomor urut ke sekian, dan pada puncaknya masyarakat harus berjuang lebih keras, lebih lama, agar bisa terdengar di istana negara, hingga ke telinga presiden.

Kiranya, perjuangan ibu-ibu ini bisa membuka mata batin kita, dan kalau perjuangan ibu-ibu ini terlalu jauh untuk kita jangkau, lihatlah di sekeliling kita. Diam bukanlah jawaban. Sudah saatnya menunjukkan kepada pemangku kepentingan agar mementingkan kepentingan rakyat.

Kepada ibu-ibuku, suaramu sudah sejauh ini, menembus sekat bilik-bilik birokrasi. Suaramu melampaui teriakan-teriakan para bromocorah politik. Teruslah berjuang!

(Visited 234 times, 1 visits today)

Leave a Reply

two × three =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top