You are here
Home > Berita Pilihan Editor > Ketika Jassin Dituding Menghina Tuhan

Ketika Jassin Dituding Menghina Tuhan

DEGORONTALO – Pria berkacamata tebal itu kukuh dan gahar membaca pidato pembelaannya. Dia meminta hakim menghadirkan Tuhan di ruang pengadilan. Hans Bague Jassin. Demikian nama lelaki itu, diseret di muka pengadilan dengan tudingan yang tidak main-main; menghina Tuhan, nabi dan malaikat, agama Islam, ulama-ulama, kiai-kiai, Pancasila dan UUD 1945!.

Tudingan maha serius itu bermula dari dimuatnya sebuah cerpen berjudul “Langit Makin Mendung”, karya seseorang dengan nama samaran “Kipandjikusmin”. Jassin memuat cerpen kontroversial itu dalam majalah “Sastra” yang dipimpinnya, edisi 8 Agustus 1968. Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara di Medan melarang peredaran  Majalah “Sastra” atas tuduhan itu.

Pada pembelaan panjang yang dia bacakan pada 2 September 1970, Jassin dengan gagah dan keras membantah segala tudingan itu. “ Saya bersaksi kepada Tuhan, bahwa saya tidak bermaksud menodai agama Islam yang saya junjung tinggi, maka kalau saudara jaksa tidak percaya, secara logika, tidaklah saya dapat meminta saudara jaksa bertanya sendiri kepada Tuhan?”

Kalimat itu dia lontarkan dalam kandungan serius. Namun sekaligus terkesan gemas dan main-main. Bagaimana bisa Tuhan sang pencipta dan pemilik segala alam dihadirkan dalam pengadilan manusia?

“Kalau saya minta supaya Tuhan dan Nabi-nabi dipanggil sebagai saksi, maka ini adalah satu pemikiran manusia yang naïf. Saya pun tahu bahwa tidak mungkin memanggil Tuhan sebagaimana memanggil manusia, meskipun Ia ada dimana-mana, tapi sedikitnya saudara-saudara Hakim ketua dan Hakim-Hakim Anggota dapat berdoa dengan khusuk kepada Tuhan agar memberi petunjuk dalam penyelesaian perkara ini,” sambung tokoh yang tertarik mendokumentasikan karya sastra sejak masih bekerja di kantor asisten residen Gorontalo itu.

Kisah dalam cerpen “Langit Makin Mendung” itu memang banyak mencuatkan pro dan kontra. Tidak hanya bagi kalangan ulama. Namun juga pada sementara kritikus sastra Indonesia. Cerpen ini bercerita tentang para nabi yang digelayuti gelisah dan bosan, lantaran terlalu lama berada di surga. Para nabi ini lantas sepakat bikin petisi kepada Tuhan untuk Turba (turun ke bawah) ke bumi.

Alkisah, nabi Muhammad SAW yang disebut sebagai penandatangan pertama petisi itu dipanggil menghadap Tuhan. Pada Sang Pencipta, Muhammad pun melontarkan alasannya. Bahwa ia ingin melakukan riset ke Bumi, tempat yang disebut-sebut Tuhan “Penuh kemesuman, kemunafikan, kelaparan, tangis dan kebencian sedang berkecamuk hebat sekali,” .

Rasulullah ingin mengadakan riset ke Bumi. Sang nabi besar beralasan karena “Akhir-akhir ini begitu sedikit sekali umat hamba yang masuk surga,”

Singkat cerita, petisi dikabulkan. Muhammad pun “turba” ke bumi. Mengendarai Buroq, ditemani Malaikat Jibril. Mereka turun pertama kali di Jakarta. Tempat yang dituliskan oleh pengarangnya hampir sama durhakanya dengan negeri Sodom dan Gomorah. Cerpen itu selanjutnya bercerita tentang kondisi politik Indonesia yang panas oleh ideologi Nasionalis, Agama dan Komunis (Nasakom). Cerita dipenuhi aneka satir yang bombastis perihal kemerosotan moral.

Jassin, putra aseli Gorontalo yang dijuluki Paus Sastra Indonesia tergolong berani memuat cerpen itu. Cerpen itu seolah menelanjangi kemerosotan moral di sebuah negeri yang tengah dilanda tragedi kemanusiaan yang luar biasa dahsyatnya.

Cerpen satir ini muncul ketika orang –orang di Indonesia terlibat aksi saling tuding, bahkan membantai nyawa satu sama lain. Antara mereka yang dicap “Komunis dan Anti Tuhan” serta yang bukan. Cerpen ini juga muncul di tengah represi penguasa yang memberangus kebebasan berpikir dan berekspresi.

Tak heran, cerpen ini memicu banyak reaksi keras. Dalam buku “Pleidoi Sastra; Kontroversi Cerpen Langit Makin Mendung Kipandjikusmin” yang dieditori Muhidin M. Dahlan dan Mujib Hermani, disebutkan tak kurang dari 30 artikel ditulis dan dipublikasikan oleh 20 pengamat dari berbagai kalangan, membahas dan mempersoalkan cerpen itu. Ada yang mencemooh, ada pula yang membela.

Buya Hamka adalah salah satunya. Ulama cum sastrawan itu diminta oleh kejaksaan agung untuk menjadi saksi ahli dalam kasus itu. Hamka, dengan tegas menyatakan bahwa cerpen itu tidak bermutu dan nyata-nyata telah menghina umat Islam.
Dalam sebuah artikel yang dimuat harian Merdeka, 3-5 Maret 1970, Hamka menulis:

Ketika hakim bertanya kepada saya, sebagai penanggung jawab majalah Pandji Masyarakat, maukah saya memuat tulisan Kipandjikusmin itu jika dikirimnya kepada kepada majalah yang saya pimpin itu? Saya tanya dengan tegas: “Murtad saya dari Islam kalau karangan seperti itu saya muat.”

Namun pada saat bersamaan, Hamka menegaskan bahwa “ HB Jassin dalah korban dari seorang penulis pengecut yang tidak bertanggung jawab” . Karena itu, dia berharap agar hakim membebaskan Jassin yang disebutnya sebagai sahabat dan dikenalnya sebagai seorang Islam yang baik .

Namun begitu Jassin tetap sikukuh. Di hadapan hakim pengadilan, bahkan tidak mau membuka identitas siapa sebenarnya Kipandjikusmin. Bahkan membelanya.

Menurutnya, Cerpen “Langit Makin Mendung” adalah murni hasil imajinasi, memiliki dunia dan logika yang lain dari karya agama. Karena itu tidak bisa diukur dengan akidah-akidah agama.

Tentang siapa sebenarnya jati diri sebenarnya Kipandjikusmin, hingga kini tiada yang tahu. Sassus yang beredar, Kipandjikusmin tak lain adalah HB Jassin sendiri. Ada pula yang berpendapat,itu adalah nama pena seorang sastrawan pemula yang mukim di Yogyakarta dan kuliah di salah satu perguruan tinggi Islam. Konon, sang penulis cerpen itu kapok dan trauma setelah peristiwa itu.

Jassin, kritikus dan dokumentator sastra yang kelak menerjemahkan Al Quran dalam narasi puitik itu yakin, agama Islam tidaklah sempit.

“Saya kuatir, Islam akan memfosil di tengah dunia modern. Dengan sikap dan kebijaksanaan pemuka agama yang tiranik saya kuatir agama tidak akan mendapat simpati, tapi sebaliknya antipati, bukan saja dari umat bukan Islam, tapi juga di kalangan umat Islam sendiri” kata Jassin membacakan pleidoinya.

Akhirnya sebagai puncak dari polemik dan “Kasus Sastra” itu, hakim menjatuhkan hukuman satu tahun penjara, dengan masa percobaan dua tahun. Jassin naik banding. Namun hingga sang paus sastra menghembuskan nafas terakhir pada 11 Maret 2000, keputusan pengadilan tinggi belum diterimanya. Kasus itu seolah hilang tersapu zaman.

 HB Jassin (google.com)

SYAM TERRAJANA

 Baca Juga:
(Visited 1,660 times, 2 visits today)
Syam Terrajana

Lahir dan tinggal di Gorontalo setelah berkelana di berbagai kota. Membagi waktunya untuk menulis, membaca,melukis dan bepergian. Sesekali menyanyi jika suara sedang bagus. Dapat dihubungi di syam.terrajana2@gmail.com.

One thought on “Ketika Jassin Dituding Menghina Tuhan

Leave a Reply

14 + fourteen =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top