You are here
Home > Berita Pilihan Editor > Ketika Katrisolo Menjadi Favorit di Paviliun 28

Ketika Katrisolo Menjadi Favorit di Paviliun 28

DEGORONTALO – Salah satu lukisan abstrak menggantung di tembok yang tersusun dari tela. Di sebelahnya, Vespa putih terparkir. Ia menjadi pelengkap ornamen yang banyak tertata rapi di setiap sudut. Sebelah kiri dekat pintu masuk, alat-alat memasak dan bahan masakan lainnya tertata.

Tempat ini namanya restoran paviliun 28, di Jalan Petogogan, Gandaria, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Konsep restorannya unik. Karena memadukan para penikmat kuliner dan pecinta film. Di tempat inilah diadakan Potluck ACMI. ACMI adalah sebuah komunitas yang melestarikan, mengembangkan, mendokumentasikan, dan menyebarluaskan kekayaan kuliner Indonesia. ACMI sendiri merupakan akronim dari Aku Cinta Masakan Indonesia.

Di meja panjang, berbagai makanan disajikan seadanya. Salah satu yang menarik perhatian adalah pahangga. Gula aren asli buatan Gorontalo ini berdampingan dengan Katrisolo. Salah satu penganan khas dari Gorontalo disajikan oleh Amanda Katili, orang pertama di Indonesia yang meraih sertifikat profesi wisata kuliner.

“Tema kita kali ini pada dasarnya bahan makanan dari beras,” kata Santhi Merad, Kepala ACMI.

Minggu ketiga Januari 2015 lalu, untuk kesekian kalinya, kegiatan rutin dua bulan sekali Potluck ACMI ini digelar. Lokasinya pun lebih banyak berpindah-pindah. Kali ini di paviliun 28. Sebelumnya, menyajikan makanan dengan olahan berbahan dasar daging. Kegiatan ini bahkan sering menjadi ajang berbagi resep.

William Wongso, seorang pakar kuliner Indonesia, hadir di acara ini. Ahli kuliner yang menguasai seni masakan Eropa dan Asia ini didaulat memberikan pengantarnya. Ia banyak bercerita mengenai ketan yang berasal dari berbagai Indonesia, dan gula aren yang banyak beredar di pasaran, yang terkadang disalah gunakan dengan memakai formalin.

Tiba-tiba mata William Wongso tertuju pada pahangga, gula aren Gorontalo yang terbungkus dari daun pohon enau.

“Saya suka dengan gula aren ini. Kemasannya sangat menarik.”

Yang unik dalam acara ini, pengunjung juga diberikan kesempatan untuk “icip-icip” makanan yang disajikan. Lalu diwajibkan menuliskan dalam sebuah kertas, apa makanan favorit mereka. Saat sesi mencicipi ini, juga diperlihatkan demo masak dari chef Putri R. Mumpuni, yang hari itu membuat kreasi masakan ketan gulung dengan ikan tuna campur kenari dibungkus pakai daun mengkudu.

Putri dengan cekatan memperlihatkan kehebatannya dalam memasak kepada pengunjung. Tidak lama, hasil masakannya disajikan. Ketan gulung buatan Putri pun dilahap. Selain ketan gulung, beberapa penganan yang hadir di meja antara lain, ketan sirsak, serundeng, sangkolo, bola ketan goreng, ketan serikaya, lemper ayam sereh bakar, bubur ketan item, lepet, dan juga katrisolo.

Pengunjung tampak antusias mencicipi makanan satu persatu. Di sini, William Wongso dengan semangatnya mengambil Katrisolo. Dengan cepat ia melahap.

“Gula arennya enak,” kata William Wongso.

Katrisolo sendiri adalah salah satu makanan favorit di Gorontalo. Penganan ini biasanya disajikan pada bulan ramadhan menjelang buka puasa. Bahkan, di beberapa tempat di Gorontalo, katrisolo disajikan pada saat payango atau proses peletakan batu pertama pembuatan rumah warga. Katrisolo dianggap sebagai makanan yang akan memberikan berkat bagi pemilik rumah.

Setelah sesi mencicipi selesai, tiba saatnya empat makanan favorit malam itu akan diumumkan. Astrid Enricka yang malam itu membawa penganan Sangkolo disebut pertama kali sebagai favorit. Kemudian disusul Eugine Panji dengan bola ketan isi sirsak, dan Kevin yang membawa lemper.

“Makanan favorit berikutnya adalah Katrisolo dari Amanda Katili,” panitia mengumumkan, setengah berteriak. Tepuk tangan diberikan. Amanda Katili, Ketua Oemar Niode Foundation maju ke depan.

Malam itu, katrisolo menjadi favorit di Paviliun 28.

 

CHRISTOPEL PAINO

Leave a Reply

three + 18 =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top