Kisah Gus Dur dan para perempuan Pulubala

HADJIRAH ABUDULLAH

DEGORONTALO-Setiap siang hingga jelang sore hari, rumah sederhana di kampung pelosok itu tak pernah sepi dari celoteh perempuan sambil menganyam dan sang pemilik rumah, Hadjirah Abudullah, ikut melantai sambill sesekali menimpali ocehan.

Rumah milik nenek 22 cucu ini,terletak di desa Pulubala, Kecamatan Pulubala, Kabupaten Gorontalo, dapat  ditempuh dengan kendaraan bermotor selama setengah jam dari Kota Gorontalo, sejak dulu   dikenal sebagai  kawasan perajin Upia Karanji atau Kupiah Keranjang.

Dia mengaku mewarisi keterampilan   tangan itu dari ibunya, tangannya mulai piawai membuat Upia Karanji sejak usia enam tahun.

Karena  Upia Karanji juga, saya hanya sempat mengecap bangku pendidikan  sampai kelas tiga SD, terlalu keasyikan menganyam, “ ujarnya terkekeh renyah.

Di bawah kelompok perajin “Tinelo Minthu” yang didirikannya, dia mengkoordinir ratusan  perempuan yang kebanyakan berstatus ibu rumah tangga.

kupiah karanji 2Satu perajin dewasa bisa menyelesaikan anyaman Upia Karanji selama empat hari hingga satu minggu, tergantung tingkat kerumitan: makin halus dan rapat hasilnya, makin lama pula proses pengerjaannya.

Pada waktu normal, rata-rata kelompok perajin yang dipimpinnya menghasilkan 400-800 buah topi dalam sebulan, yang dijual kembali ke toko-toko langganan di Kota Gorontalo juga ke luar daerah seperti Manado, Ternate, dan Jakarta.

Namun pada waktu-waktu tertentu,  seperti menjelang musim keberangkatan Haji, tangan-tangan perempuan ini dituntut lebih cekatan demi  memenuhi pesanan yang jumlahnya bisa lebih dari 1.500 buah.

“ Upia Karanji menjadi ciri khas yang dipakai oleh sebagian besar calon haji asal Gorontalo sebagai pembeda dengan daerah lain, itu sudah berlangsung cukup lama,” ujar Hadjirah.

Ada pemesan yang datang sendiri, ada pula yang berkelompok. Umumnya Upia Karanji yang digandrungi adalah yang bertuliskan “Provinsi Gorontalo” , baik yang berbentuk bulat  maupun lonjong persegi panjang.

“ Upia Karanji yang ada tulisannya, lebih mahal harganya, karena setiap pada huruf, letak anyamannya harus tepat dan rapat,” jelasnya.

Umumnya harga Upia Karanji  dipatok antara 50-100 ribu rupiah perbuah, sekali lagi tergantung tingkat kehalusan dan kerumitannya.

Perempuan Pulubala dibantu anak-anaknya menganyam Upia Karanji (Syam Terrajana)Para perajin didominasi perempuan, mereka biasanya mulai menganyamUpia Karanji begitu usai mengerjakan tugas domestik di rumah. Anak-anak mereka juga ikut nimbrung membantu usai pulang sekolah.

Upia Karanji terbuat dari Minthu, sejenis rotan hutan yang biasanya tumbuh di dekat  sungai atau di sekitar pohon tumbang.   Diameter tumbuhan merambat ini kira-kira dua kali lebih besar dari batang lidi, panjangnya bisa mencapai satu meter.

Alam menyediakan modal gratis bagi para perempuan Pulubala, hanya saja jarak untuk mengambil bahan anyaman itu terbilang cukup jauh, merambah ke wilayah hutan di Kabupaten Tetangga, Gorontalo Utara hingga praktis mesti ditempuh dengan kendaraan  bermotor.

Pada masa lalu, proses pencarian Minthu dilakukan dengan berjalan kaki, atau memanfaatkan angkutan gerobak yang ditarik sapi atau kuda.

Tugas pencarian bahan biasanya diserahkan pada kaum lelaki. Dalam sehari, mereka bisa mengumpulkan tiga hingga lima ikat Minthu yang berisi 50 hingga 200 batang. Satu ikat Minthu dapat menjadi bahan anyaman untuk 10 hingga 15 Upia Karanji.

Proses pembuatan Upia Karanji  terbilang sederhana. Pertama-tama, batang-batang Minthu yang telah dipotong sama panjang dijemur terlebih dahulu selama satu hari. 

Setelah kering dan berwarna kecoklatan, kemudian dibelah jadi enam bagian lalu  diraut lagi dengan kaleng bekas penutup minuman yang telah dilubangi dengan berbagai ukuran sebagai variasi anyaman.

Minthu yang telah diolah menjadi semacam serat tali halus dan siap dianyam. Karena berbahan rotan, topi ini terbilang nyaman dan terasa dingin jika dipakai di kepala, itu karena pori-porinya yang berfungsi sebagai tempat keluar masuknya udara.

Ada lagi keunikan dari topi ini; makin lama dipakai, makin mengkilaplah warnanya. Karena itu para perajin tidak perlu menambahkan bahan pewarna kimia untuk mempercantik topi ini.

Upia Karanji memiliki beragam  variasi, mulai dari bentuk kupiah yang lonjong persegi atau bundar, bisa juga berbentuk topi santai . Tergantung selera pemesan.

Tak bisa dipungkiri, berkat Upia Karanji juga, geliat ekonomi di desa itu cukup berjalan dan bisa dinikmati warganya.

Risna Samin, salah satu ibu rumah tangga mengaku aktivitas membuat Upia Karanji cukup terbantu mencukupi kebutuhan  hidup keluarganya sehari-hari.

Minimal untuk makan sudah lebih dari cukup, bisa untuk menutupi kebutuhan lainnya, seperti pakaian atau  jajan untuk anak,” ujarnya tersipu.

Hadjirah sendiri juga mengaku sangat terbantu dengan bisnis yang telah dirintisnya sejak 1976 silam itu.

Dengan menyandarkan penuh penghidupannya pada usaha membuat Upia Karanji,  ibu enam enam ini kini memiliki  sekitar 500 pohon kelapa yang diolahnya jadi kopra berikut  ladang jagung seluas dua hektar.

Selain berhasil memiliki usaha sampingan,  dia juga beberapa kali menerima penghargaan mulai tingkat lokal  hingga nasional. Sebut saja penghargaan upakarti dari Presiden Soeharto pada 1996 silam, penghargaan bagi  perajin yang dinilai  sebagai pelopor industri dalam negeri itu diterimanya langsung di Istana Merdeka Jakarta.

Ada juga cerita menarik dalam karir panjangnya sebagai perajin Upia Karanji, ketika suatu hari di tahun 2000, dia kedatangan seorang tamu yang mengaku sebagai orang suruhan Presiden RI, yang  kala itu dijabat oleh mendiang Abdurrahman Wahid.

Gus Dur,sapaan akrab Presiden yang dikenal nyentrik ini, memesan padanya dua buah Upia Karanji masing-masing bertuliskan “Presiden RI” dan “Mantan Presiden RI”.

Segera saya buatkan dua Upia Karanji itu sebagaimana pesanan beliau, hanya butuh tiga hari untuk menyelesaikannya,” kenang penyandang predikat Perajin Teladan Kabupaten Gorontalo itu  seraya tersenyum.

Upia Karanji dari kampung Pulubala itu juga yang kerap dipakai Gus Dur pada acara kenegaraan resmi sekalipun, hingga kemudian terlanjur dikenal luas sebagai “Kupiah Gus Dur”.

Sementara itu, jauh di pelosok nusantara bernama kampung Pulubala,  rumah Hadjirah masih diwarnai riuh celoteh kaum perempuan penganyam yang mengisi waktu luang mereka, memenuhi pesanan yang terus berdatangan.

SYAM TERRAJANA

Syam Terrajana
Lahir dan tinggal di Gorontalo setelah berkelana di berbagai kota. Membagi waktunya untuk menulis, membaca,melukis dan bepergian. Sesekali menyanyi jika suara sedang bagus. Dapat dihubungi di syam.terrajana2@gmail.com.

2 thoughts on “Kisah Gus Dur dan para perempuan Pulubala

Leave a Reply

8 + 9 =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top