Kisah Pelajar Ternate Terjerat Prostitusi

Ilustrasi kabarpulau.com
Ilustrasi kabarpulau.com

DeGorontalo – Di sebuah teras rumah jalan utama, Kecamatan Ternate Utara, pantulan cahaya lampu remang-remang. Tampak ada beberapa remaja perempuan yang masih duduk di bangku sekolah menengah atas (SMA) di Kota Ternate. Mereka tengah asyik duduk memantau pengendara yang berlalu di depannya.

“Om tunggu sapa?” tanya Bunga (nama samaran).

Malam itu, belum lama ini, tepatnya pukul 02.25 WIT, hujan sedikit membasahi wilayah tengah kota Bahari Berkesan itu, pada jalan raya utama yang semakin sunyi.

Bunga lalu menanyakan rokok kepada lelaki itu. Sebatang rokok diambil, Bunga kemudian membakar dan mengeluarkan asapnya. Tarikan pertama dan seterusnya.

“Om beli minum bole,” sambung Bunga meniupkan asap rokoknya lagi.

Bunga lalu mengatakan dirinya sedang galau. Sedikit minuman keras (miras) dapat melepaskan kegalauannya.

“Cap Tikus, Om,” ucap Bunga.

Cap Tikus adalah sejenis minuman berkadar alkohol yang dihasilkan melalui penyulingan saguer (cairan putih susu), yang keluar dari mayang pohon enau atau seho dalam bahasa Maluku Utara. Produksinya dari Halmahera. Miras favorit beberapa kalangan.

Saat ditanya dengan siapa Bunga mengonsumsi miras, “Ada dua orang teman saya, di sana,” kata Bunga sembari menunjuk ke arah teras rumah, tempat semula ia duduk.

Tak jelas wajah kedua rekan Bunga tersebut. Dengan spontan, salah satu dari temannya menyahut, “Bunga rokok so habis.” Bunga lalu meminta dibelikan rokok yang dipesan rekannya itu. Ia lalu menaiki kendaraan menuju wilayah Ternate Tengah, Kota Ternate, Malut.

Banyak yang diceritakan Bunga malam itu. Perihal awal mula dirinya terjerat prostitusi di kalangan remaja putih abu-abu itu salah satunya. Bunga masih polos. Baru beranjak 17 tahun.

Keretakan Orangtua Penyebabnya

Siswi kelas dua SMA itu menceritakan apa yang dialaminya di dalam kehidupan keluarganya. Remaja itu, kini tinggal bersama neneknya, ibu dari mamanya yang telah berpisah dengan ayah kandungnya.

Keretakan hubungan orang tua Bunga sejak dirinya masih di bangku SMP kelas tiga. Ayahnya yang berlatar belakang wiraswasta menceraikan ibunya pada 2015.

“Papa (ayah) sudah menikah lagi,” kata Bunga.

Dia mengatakan, ibu kandungnya juga sudah serumah dengan suami yang baru. “Kalau papa tinggal di salah satu kelurahan di Ternate Tengah. Ibu sekarang ikut papa tiri (ke ibukota Kabupaten Halmahera Barat),” sambungnya.

Bunga mulai menjamah dunia malam. Pergaulannya bebas. Faktor penyebab lainnya, kata Bunga, saat ia mengenali media sosial.

Berkat smartphone miliknya, ia bisa mengakses beberapa situs yang tak lazim ditonton oleh pelajar maupun masyarakat umumnya. Berbagai situs pun diakses, bersama beberapa rekannya itu, saat nongkrong di warung internet.

“Yang saya lihat beragam. Nonton Youtube juga,” singkatnya.

Tarif Kencan

Bunga mengungkapkan, jikalau ada yang membutuhkan dirinya, ia kenakan tarif di antara Rp800 ribu hingga Rp1 juta. Sejauh ini sudah ada pelanggan yang menidurinya.

“Baru dua,” akunya.

Bunga mengaku tidak pernah menawarkan dirinya secara langsung, tetapi pengalamannya itu terjadi saat mulai mengenal kehidupan malam.

“Dong (mereka) yang baganggu kamuka (duluan). Dong madai (merayu) baru (ujungnya) dong yang tawar. Kalau itu ada teman juga yang ikut,” katanya.

Tumbuh Subur

Berdasarkan penelusuran, di beberapa titik yang merupakan tempat mangkalnya pelajar yang diduga berprofesi seperti Bunga tersebut, modusnya beragam. Ada yang diduga menggunakan jasa mucikari dan ada juga yang terjun langsung. Ada yang mangkal di tempat dagangan pisang goreng, salon, dan ada juga yang bersantai-santai di kafe dan resto yang menyediakan internet gratis.

Fenomena prostitusi di kalangan putih abu-abu ini sudah sering dijumpai saat Satpol PP Kota Ternate melakukan razia, di hotel-hotel kota setempat.

Kepala Satpol PP Kota Ternate, Fandi Tuminah, menolak berkomentar terkait hal itu. Dia mengatakan, temuan siswi SMA di hotel bukan pada masa kepemimpinannya.

Dia mengatakan, di masa kepemimpinanya saat razia hanya menemukan beberapa pelaku prostitusi dari kalangan mahasiswi yang tertangkap di kamar-kamar hotel.

“Mereka tertangkap razia. Biasanya pada Sabtu malam. Tapi rata-rata mahasiswi,” kata Fandi.

 

SUMBER: Kabarpulau.com

Kristianto Galuwo
Sigidad. Duda berputri satu-satunya bernama Sigi. Sering sial seperti Donal Bebek, karena itu dirajahi tato Donal Bebek di lengan kanan sebagai segel anti sial. Suka sekali makan ayam bakar/goreng/santan apalagi yang dibumbui sejumput puisi. Bisa disapa di facebook: Kristianto Galuwo dan diterawang di blog Getah Semesta.
http://sigidad.blogspot.co.id/

Leave a Reply

1 × 2 =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top