You are here
Home > Lingkungan > Agraria > Kisah Ta Noku, Penjual Sumbu Lampu Ramah Lingkungan

Kisah Ta Noku, Penjual Sumbu Lampu Ramah Lingkungan

DEGORONTALO – Namanya Ta Noku. Orang dari Tapa, Kabupaten  Bone Bolango, Gorontalo. Pekerjaannya menjual sayur-sayuran di pasar-pasar tradisional di Gorontalo dari Senin hingga Minggu.

Tapi, bukan karena pekerjaannya yang tiada libur itu yang mau saya tulis di sini. Ta Noku juga menitipkan jualan sumbu lampu di tengah-tengah  sayuran sebagai jualan utamanya. Selain jualan sumbu, dia juga memperagakan bagaimana sumbu lampu buatan suaminya digunakan.

“Depe minyak cuma pake air campur minyak kalapa bekas ini pak. Pertama, isi dulu itu gelas dengan air, kase banyak, baru campur dengan minyak kelapa tiga  sendok makan. Itu sumbu juga taruh minyak kalapa supaya manyala. Abis itu tinggal pasang,” jelasnya bersemangat.

“Yang pake minyak kalapa bagini ini, yang torang pe orang tua pake-pake kamari dari dulu. Tidak ada ini yang pake-pake minyak tanah. Dorang cuma pake minyak kelapa, ditaruh di pepaya, itu saja. Eh, ada olo tohe tutu, dari tangi lo ayu (getah pohon).

“Brapa satu,” tanya saya. “Dua ribu pak. Kalo mo ambe tiga, lima ribu. Ti pak Hamim ada ba pesan 1,000 biji bagini sama saya pe anak, dia mo pasang di lapangan Tapa,” katanya sambil promosi.

“Sapa ini pak Hamim?” tanya saya pura-pura tidak tahu. “Ti Bupati lo Bone Bolango, masak ti pak tidak tahu, dia pasan 1000 biji yg bagini,” sambungnya.

Tumbilotohe merupakan tradisi orang Gorontalo turun temurun. Menjelang Idul Fitri, masyarakat Gorontalo memasang lampu di depan rumah atau di pinggir jalan. Pemasangan lampu dilakukan sambil berharap berkah pahala Lailatul Qadar dan pembagian zakat fitrah dari yang kaya kepada fakir miskin. Malam Lailatul qadar adalah satu malam di bulan Ramadhan yang dirahasiakan oleh Sang Khaliq, dimana nilai pahalanya sama dengan 1000 malam di malam-malam biasa.

Seiring perkembangan jaman, tumbilotohe telah bergeser dari ruh aslinya. Penggunaan lampu listrik dan lampu minyak tanah sudah sangat berlebihan dan boros, dan tidak ramah lingkungan.

Oleh karenanya, Forum Komunitas Hijau Kota Gorontalo mengadakan lomba membuat desain lampu Tumbilotohe yang lebih ramah terhadap lingkungan. Kami mendorong pemerintah untuk  membuat kebijakan mengurangi penggunaan minyak tanah dan listrik pada saat Tumbilotohe. Kalau benar kata Ta Noku, maka bupati Bone Bolango, pak Hamim Pou patut kita beri apresiasi. (BACA: Green Tumbilotohe, Seperti Apa?)

Mungkin Ta Noku dan suaminya tidak sadar bahwa jualan sampingannya di tengah-tengah sayur-mayur, adalah salah satu inisiatif sangat penting untuk  memperbaiki kondisi di bumi saat ini.

Tambang minyak di seluruh belahan dunia menyisakan perang, pembunuhan dan memperlebar jurang perbedaan hidup antara yang kaya dan miskin. Pertemuan-pertemuan  dan inisiasi mengenai untuk  mengurangi dampak perubahan iklim sudah menghabiskan dana milyaran dollar di hotel kelas merpati sampai hotel mewah, pertemuan dari tingkat kampung sampai pertemuan-pertemuan semua negara-negara  anggota PBB.

*Foto. Ta Noku dan jualannya ( Rahman Dako)

RAHMAN DAKO (CITIZEN JOURNALIST)

Penulis adalah warga Kota Gorontalo. Aktivis Lingkungan. dapat dijumpai di  laman facebook Rahman Dako

(Visited 173 times, 2 visits today)

Leave a Reply

eleven − 2 =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top