You are here
Home > Lingkungan > Agraria > Kopi Daulu, Arabika dari Tanah Bantaeng

Kopi Daulu, Arabika dari Tanah Bantaeng

Produk Kopi Daulu saat pameran apkasi di Jakarta Convention Centre (JCC) – (DG/Balang Institute)

DeGorontalo – Di Sulawesi Selatan, selain Toraja, Kalosi, dan Gowa yang sudah lebih dulu dikenal produk kopinya, ada Kabupaten Bantaeng yang mulai fokus mengolah tanaman kopi. Salah satu produk kopi yang mulai dikenal yaitu Kopi Daulu.

Adam Kurniawan, selaku Direktur Balang Institute, salah satu organisasi nonpemerintah yang turut mendampingi petani kopi di Bantaeng, menyempatkan waktu untuk diwawancarai degorontalo.co.

 

Ada sejarah terkait tanaman kopi di Kabupaten Bantaeng?

Di Majalah Historia yang ditulis Eko Rusdianto menyebutkan, menurut Wallace, Willem Mesman adalah seorang pedagang kopi dan opium. Ia memiliki perkebunan kopi di Bontyne (sekarang Bantaeng), juga sebuah perahu untuk berdagang mutiara dan tempurung penyu dari New Guinea. Catatan tersebut dibuat pada 1856. Ada kaitannya dengan sejarah kopi di Bantaeng. Liputan itu bisa diakses di sini: historia.id.

Di Bantaeng kopi jenis apa saja yang ditanam dan pada ketinggian berapa?

Ada dua jenis kopi di Bantaeng, Robusta yang ditanam pada ketinggian 500-1000 mdpl, dan kopi Arabika di ketinggian 1000-1700 mdpl.

Sekarang ini, berapa luas lahan tanaman kopi di Bantaeng. Di mana saja?

Dari data yang dirilis Bappeda Pemkab Bantaeng pada 2016 menyebutkan: luas lahan untuk jenis Robusta 2831 ha. Sementara Arabika 970 ha. Tanaman kopi tersebut, tersebar di Kecamatan Tompobulu, Eremerasa, Uluere, dan Bantaeng.

Kenapa memilih nama “Daulu”, adakah artinya dalam bahasa lokal?

Daulu diperkirakan berasal dari kata diolo (dahulu). Saat ini, Daulu adalah nama lokasi penanaman kopi dalam areal hutan Desa Pattaneteang. Pemilihan nama Kopi Daulu, selain untuk menunjukkan asal kopi, juga dilandasi semangat untuk kembali ke masa yang mana kopi menjadi andalan petani, di dataran tinggi Bantaeng.

Kopi Daulu awalnya mulai ditanam di mana?

Kopi Daulu jenis Arabika ini awalnya dari blok agroforestri hutan Desa Pattaneteang, yang ditanam pada 2010. Dirawat secara alamiah tanpa menggunakan pupuk dan pestisida.

Bisa dijelaskan cara pengolahan Kopi Daulu?

Buah kopi dipetik satu per satu yang berwarna merah saja, lalu disortir dengan cara merendam buah kopi, dan menyisihkan kopi yang mengapung sebagai penanda kopi yang kurang bagus (empty).

Selanjutnya dilakukan pengupasan kulit buah, dengan menggunakan mesin pulper (depulper) yang menghasilkan kopi gabah (parchment).

Kopi gabah yang masih diselimuti lendir kopi dan sisa kulit buah, kemudian dicuci dengan menggunakan air. Setelah dicuci gabah kopi dijemur menggunakan dry green house.

Standar meja tempat pengeringan memiliki tinggi 80 cm dari jarak tanah, kemudian dilapisi dengan rang lubang, lalu ditutup menggunakan plastik ultra violet.

Kopi Daulu dalam kemasan bubuk – (DG/Balang Institute)

Curah hujan yang tinggi di Desa Pattaneteang tidak memungkinkan Kopi Daulu dikeringkan hingga kadar air 12%. Koperasi Akar Tani membeli Kopi Daulu dalam keadaan basah, lalu melanjutkan penjemuran di Kota Bantaeng.

Selama pengeringan dilakukan pengadukan kopi secara berkala, agar kopi kering merata, sampai kadar air 12%. Gabah kopi kering disimpan selama 1 bulan yang biasa disebut masa resting (agar kopi kering luar dan dalam).

Setelah melalui masa resting, kopi kemudian di-huller untuk memisahkan biji kopi dengan kulit gabah (parchment), dan menghasilkan kopi beras (green bean).

Green bean yang dihasilkan disortir lagi untuk menghilangkan kopi yang cacat, baik cacat karena hama, jamur, cacat dihasilkan dari pengupasan seperti pecah, retak, dan terpotong. Hasilnya kami mendapatkan kopi dengan kualitas grade 1, dengan nilai cacat yang minim.

Kopi ini diproses dengan cara semi wash (kopi hanya dicuci dengan sedikit air), dry hull (giling kering, kopi dalam bentuk gabah setelah kering baru di-huller, kopi gabah menjadi green bean).

Bagaimana cara kalian memperkenalkan Kopi Daulu?

Balang Institute melalui program CEPF, menggandeng Sofi Kopi sebagai bayer untuk menetapkan standar kualitas dan mendampingi petani, dari proses pemanenan hingga pengolahan pascapanen, dengan mengadopsi sistem specialty kopi.

Selain itu, Balang Institute atas bantuan Dinas Koperasi juga memfasilitasi terbentuknya Koperasi Akar Tani untuk memasarkan Kopi Daulu.

Kenapa lebih memilih memasarkan Kopi Daulu dalam bentuk green bean?

Lebih terasa manfaat ekonominya bagi para petani. Kopi Daulu dipasarkan dalam bentuk green bean dengan harga Rp80 ribu per kg, dan kopi sangrai Rp50 ribu per 200 gram.

Siapa saja yang mendukung agar produk Kopi Daulu dikenal luas?

Pemerintah dan lembaga nonpemerintah.

Baru-baru ini Pemerintah Kabupaten Bantaeng melalui Dinas Koperasi memfasilitasi Kopi Daulu, untuk mengikuti pameran apkasi di Jakarta Convention Centre (JCC), sekaligus mengutus Kopi Daulu mengikuti bussines matching (presentasi di depan investor).

Sementara CEPF melalui Balang Institute, belum lama ini juga menyertakan Kopi Daulu pada pameran produk Wallacea di Swis-belhotel, Makassar.

Apa saja manfaat yang sudah dirasakan para petani sejauh ini?

Petani di Desa Pattaneteang mulai memahami standar pengolahan kopi dengan kualitas specialty. Selain itu harga pembelian pedagang meningkat dari Rp14 ribu menjadi Rp16 ribu per kg. Hal itu disebabkan Koperasi Akar Tani membeli dengan standar Rp17 ribu per kg.

Adakah kelompok tani yang dibentuk? Apa saja namanya?

Petani dikelompokkan untuk memudahkan kontrol kualitas. Saat ini ada dua kelompok masing-masing beranggotakan 10 orang. Kelompok tersebut belum memilki nama.

Bagaimana produksi Kopi Daulu per tahun ?

Areal agroforestry kopi dalam hutan Desa Pattaneteang adalah 146 ha. 120 ha di antaranya sudah ditanami kopi dengan produksi rata-rata 32.000 kg breen bean per tahun.

Di Bantaeng selain Kopi Daulu, sudah adakah produk atau merek kopi lain?

Sudah ada Kopi Turaya dan Kopi Karaeng.

Bagaimana tren kopi di Kota Bantaeng?

Lumayan. Sekarang di Kota Bantaeng ada sekitar 30 warung kopi, dan 2 coffee shop.

Dibandingkan Kopi Toraja yang sudah lebih dulu dikenal, apa cita rasa yang membuat Kopi Daulu diminati?

Kopi Toraja dikenal memiliki kandungan asam yang rendah, berat yang cukup, aroma yang wangi, serta warna yang condong gelap hitam atau kecokelatan. Aroma Kopi Toraja yang kuat juga jadi ciri khas dari kopi ini.

Sementara Kopi Daulu tumbuh dalam areal kerja hutan Desa Pattaneteang, dan merupakan hutan berstatus lindung. Letaknya yang jauh dari pemukiman hingga terbebas sepenuhnya dari polusi asap kendaraan, dan tidak terkontaminasi pupuk kimia dan pestisida, membuat kopi ini memilki aroma dan cita rasa bunga (floral) yang kuat, dengan tingkat keasaman yang rendah (low acidity), dan terasa lembut dan rasanya bertahan cukup lama di lidah (full body).

Main-mainlah ke Bantaeng nanti …

(Visited 242 times, 17 visits today)
Kristianto Galuwo

Sigidad. Duda berputri satu-satunya bernama Sigi. Sering sial seperti Donal Bebek, karena itu dirajahi tato Donal Bebek di lengan kanan sebagai segel anti sial. Suka sekali makan ayam bakar/goreng/santan apalagi yang dibumbui sejumput puisi. Bisa disapa di facebook: Kristianto Galuwo dan diterawang di blog Getah Semesta.

http://sigidad.blogspot.co.id/

Leave a Reply

four − one =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top