KPA Imbau Jurnalis Gorontalo Hindari Pemberitaan Sensasional HIV/AIDS

 

unaidspcbngo.org
unaidspcbngo.org

DEGORONTALO – Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Gorontalo mengimbau wartawan untuk menghindari pemberitaan yang sensasional terkait informasi HIV dan AIDS, karena menambah stigma buruk dan diskriminasi pada mereka yang terinfeksi.

Hal ini seperti yang disampaikan oleh Pengelola Program KPA Provinsi Gorontalo, Mohammad Harry Christian, menurutnya bahasa dan gambar yang sensaional terkait pemberitaan HIV dan AIDS bisa mengakibatkan kegelisahan yang tak diperlukan oleh orang yang terinfeksi penyakit itu.

Laporan yang sensasional dan membesar-besarkan masalah juga dapat menimbulkan kekhawatiran, ketakutan, atau reaksi yang berlebihan terhadap orang yang terinfeksi HIV sehingga akan menyebabkan ketakutan di masyarakat umum yang berakibat pada tingginya stigma dan diskriminasi pada orang yang terinfeksi HIV,” ujarnya .

Harry menambahkan, AIDS adalah topik yang sensitif sehingga sangat diperlukan laporan yang seimbang dan hati-hati dari wartawan. “Jika anda merasa bahwa liputan yang anda tulis mengandung suatu unsur yang bersifat sensasional, sebaiknya hasil liputan itu didiskusikan kembali dengan sumber-sumber informasi AIDS, misalnya para ahli AIDS atau Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) atau pegiat AIDS” ujarnya.

Namun demikian menurutnya, suatu pemberitaan media massa tentang HIV dan AIDS, juga menimbulkan dampak positif, dengan pemberitaan yang baik masyarakat kemudian menginginkan informasi yang lebih lengkap tentang HIV dan AIDS atau bahkan ingin melakukan uji HIV.

Oleh karena itu wartawan perlu memberi bantuan informasi yang lebih lengkap kepada masyarakat, termasuk tempat atau klinik untuk melakukan uji HIV, bagaimana menyikapi diagnosa serta bagaimana melakukan perawatan/pengobatan jika sudah terinfeksi HIV,” ujarnya.

KPA provinsi Gorontalo, belum lama ini menggelar pelatihan mengenai seluk beluk HIV /AIDS kepada awak media massa lokal di Gorontalo.

Senada dengan itu, ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Gorontalo, Syamsul Huda M.Suhari menambahkan, dalam Kode Etik Jurnalistik (KEJ) sebagaimana surat keputusan dewan pers nomor 03/SK-DP/2006 , telah diatur mengenai hal terkait.

Dalam pasal 8 KEJ, jelasnya, disebutkan bahwa wartawan Indonesia tidak menulis atau menyiarkan berita berdasarkan prasangka atau diskriminasi terhadap seseorang, atas dasar perbedaan suku, ras, warna kulit, agama, jenis kelamin dan bahasa serta tidak merendahkan martabat orang lemah, miskin, sakit, cacat jiwa atau cacat jasmani.

Seorang jurnalis adalah orang terpelajar, dan seperti kata penulis Pramoedya Ananta Toer, harus adil sejak dalam pikiran,” ujar pria yang akrab disapa Syam Terrajana ini.

 

AYUNDRAWAN 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

18 − eleven =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top