You are here
Home > Lingkungan > Krisis Air, Suku Bajo Torosiaje Terpaksa Mandi Mencuci Pakai Air Laut

Krisis Air, Suku Bajo Torosiaje Terpaksa Mandi Mencuci Pakai Air Laut

Salah satu keluarga suku bajo di desa terapung, Torosiaje, Pohuwato, Gorontalo. (DeGorontalo/Syam Terrajana)
Salah satu keluarga suku bajo di desa terapung, Torosiaje, Pohuwato, Gorontalo. (DeGorontalo/Syam Terrajana)

DEGORONTALO – Krisis air bersih berkepanjangan masih saja melanda kampung terapung suku Bajo di kecamatan Torosiaje, Kecamatan Popayato, Kabupaten Pohuwato, Gorontalo.

Hussain Onte, salah satu warga setempat mengatakan, meski jaringan instalasi air telah sejak lama dipasang oleh pemerintah daerah , namun hingga kini tidak pernah berfungsi dengan baik.(Baca juga :Kalau Sakit, Tak Ada Jaminan Negara Bagi Orang Bajo Torosiaje)

Warga hanya sempat menikmati air bersih selama tiga bulan pertama pada tahun 2006 silam, masa awal jaringan instalasi air itu mulai difungsikan.

Untuk menghemat air, warga setempat memanfaatkan air laut untuk mandi dan mencuci, sebelum membilasnya dengan air tawar.

Selebihnya, warga mengandalkan kebutuhan air bersih di desa Torosiaje Jaya, yang berada di daratan, 600 meter dari desa terapung itu.

“Tapi air bersih diTorosiaje Jaya tidak selalu tersedia, debit airnya terlalu kecil karena sudah terlalu banyak pelanggan,” kata dia.

Selain itu, mobil tangki air milik PDAM, juga tidak setiap hari siap melayani. Jika dulu mobil tangki berkapasitas 4000 liter itu, datang lima hari sekali kini malah datang sekali dalam beberapa minggu. Padahal mobil yang sama harus melayani kebutuhan air di tiga desa lainnya.

Umar Passandre, warga lainnya mengungkapkan untuk memperoleh dua tong air bersih saja, warga harus mengeluarkan sedikitnya 20 ribu rupiah, sebagian besar biaya itu terpakai untuk sewa perahu mengangkut air.

“Harga satu tong air bersih sebenarnya hanya 5.000 rupiah, tapi itu harus diambil sendiri, jika menggunakan jasa sewa perahu, biayanya akan melonjak,” katanya.

“Karena itu musim hujan selalu dianggap berkah bagi kami, air hujan itu kami tampung untuk keperluan mandi dan mencuci,” ungkapnya. Tapi sayang, kemarau panjang kali ini membuat di kampung yang berjarak delapan jam perjalanan darat dari kota Gorontalo itu kering kerontang.

Menurutnya situasi ini ironis, terlebih jika mengingat bahwa desa Torosiaje terlanjur dikenal dan digaungkan oleh pemerintah daerah sebagai destinasi pariwisata.

 

SYAM TERRAJANA

(Visited 206 times, 1 visits today)
Syam Terrajana

Lahir dan tinggal di Gorontalo setelah berkelana di berbagai kota. Membagi waktunya untuk menulis, membaca,melukis dan bepergian. Sesekali menyanyi jika suara sedang bagus. Dapat dihubungi di syam.terrajana2@gmail.com.

2 thoughts on “Krisis Air, Suku Bajo Torosiaje Terpaksa Mandi Mencuci Pakai Air Laut

Leave a Reply

13 − nine =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top