You are here
Home > Berita Pilihan Editor > Kusno Danupoyo, Kau Pahlawanku …

Kusno Danupoyo, Kau Pahlawanku …

Susanto Polamolo. (dok. pribadi)

Oleh Susanto Polamolo (Peneliti. Akademisi. Orang Gorontalo)

“Saudara-saudara peserta rapat, saya harap jangan merasa berkecil hati atas jawaban Paduka yang mulia Welter dari Tweede Kamer negeri Belanda, yang mengatakan bahwa bangsa Indonesia belum matang untuk berparlemen, mungkin Paduka yang mulia Welter dalam keadaan ngelamun!” [Kusno Danupoyo, Pejuang Gorontalo].

Setelah PPPKI yang diprakarsai Bung Karno bubar pada 1935 karena sejumlah persoalan faksional, sebuah badan yang sifatnya “federasi” dibentuk dengan nama GAPI (Gabungan Politik Indonesia) pada 21 Mei 1939. Tokoh-tokoh dalam badan ini antara lain: Husni Thamrin (pemrakarsa), Amir Sjarifudin, Abikusno, hingga Ratulangie. Badan federasi ini memperlihatkan komposisi yang cukup lengkap mulai dari sisi “kiri”, “kanan”, dan “tengah” dari lanskap perpolitikan Indonesia, lebih efektif dari sebelumnya, sebab mendapatkan banyak dukungan dari daerah-daerah di luar Jawa.

Salah satu tuntutan badan federasi ini ialah “Indonesia berparlemen” (dicetuskan pada 4 Juli 1939). Tuntutan yang juga digaungkan di daerah-daerah, Gorontalo adalah salah satunya. GAPI Gorontalo selain beranggotakan organisasi-organisasi sosial-politik-keagamaan yang ada di Gorontalo, juga bersama dengan sejumlah organisasi kepanduan membangun jaringan-jaringan gerakan, sebagaimana dapat dilihat kemudian (nama-nama para tokoh yang terlibat dalam konsolidasi) memuncak pada peristiwa 23 Januari 1942. Ada yang mewakili Partai Serikat Islam, Muhammadiyah (utamanya Hizbulwathan), Nahdatussyafiiyah (pemuda Ansornya), Partindo, Partai Arab Indonesia, Jong Gorontalo, Jong Islamieten Bond, dsb.

Salah satu sosok berpengaruh di GAPI Gorontalo pada waktu adalah Kusno Danupoyo. Pada tahun 1941 dia menggantikan Rekso Sumitro sebagai ketua.

Kusno Danupoyo memainkan peran yang tak kalah penting dari Nani Wartabone (keduanya boleh disebut sebagai versi Gorontalo dari “Soekarno-Hatta”). Sosok ini merupakan salah satu aktor utama yang melakukan konsolidasi-konsolidasi melawan pemerintah kolonial menjelang peristiwa penting 23 Januari 1942. Dialah yang menginisiasi suatu rapat rahasia yang kemudian melahirkan “Komite Dua Belas”, badan ini terdiri dari Nani Wartabone (Ketua), R.M. Kusno Danupoyo (Wakil) Oe. H. Buluati (Sekertaris), A.R. Ointu (Wasek), dan beranggotakan Usman Monoarfa, Usman Hadju, Usman Tumu, A.G. Usu, M. Sugondo, R.M. Danuwatio, Sagaf Alhasni, Hasan Badjeber.

Setelah peristiwa perjuangan rakyat merebut pemerintahan dari pemerintah kolonial dan deklarasi kemerdekaan pada 23 Januari 1942 (Gorontalo mungkin yang pertama melakukannya), komite dua belas kemudian menginisiasi segera membentuk sebuah badan pemerintahan transisi yang diberi nama “Pucuk Pimpinan Pemerintahan Gorontalo—PPPG, terdiri dari bekas pamong praja pemerintah kolonial dan para pejuang. Kusno Danupoyo kembali mendampingi Nani Wartabone, dia duduk sebagai Wakil Ketua.

Jejak sejarah Kusno berhenti di situ. Setelah peristiwa 23 Januari 1942 sosok ini tak lagi disebut dalam kronik-kronik perjuangan rakyat Gorontalo. Namanya tenggelam, tak jelas bagaimana hidupnya berakhir, sebagaimana awal mula kehidupan sosok ini yang juga belum berhasil ditelusuri. Riwayat paling banter Kusno Danupoyo adalah pada jejak genealogisnya yang berasal dari para pejuang (Kiyai Modjo, dkk) yang diasingkan ke Minahasa, dan kemudian dikenal sebagai “Kampung Jawa-Tondano”, dimana kemudian dia adalah bagian rombongan program silang-budaya agraris yang masuk ke Gorontalo sekitar tahun 1904.

Sebagaimana profil dari sebagian besar pejuang Gorontalo yang belum teridentifikasi, maka, Kusno Danupoyo tak lain merupakan wajah dari historiografi kepahlawanan kita, khususnya Gorontalo, yang problematis.

BACA JUGA:

Pernah tercatat program penelusuran sekitar peristiwa 23 Januari 1942 dan para pejuang yang terlibat di dalam proses tersebut oleh Yayasan 23 Januari 1942 yang diketuai Ary Muchtar Pedju bekerjasama dengan IKIP Negeri Cabang Gorontalo (sekarang UNG) pada tahun 1981, atas dorongan para tokoh seperti Prof. A. Sabu, Prof. Idrak Jasin, Prof. J.A. Katili, Prof. B.J. Habibie, M. Gobel, H.B. Jassin, Ciputra, dll. Proyek itu sayangnya tidak dilanjutkan oleh generasi Gorontalo setelahnya, justru disaat Gorontalo telah menjadi daerah otonom (provinsi). Nasib yang serupa di dalam jejak kebudayaan Gorontalo yang setelah seminar adat tahun 1971, tak ada lagi seminar serius yang serupa dengan seminar tersebut.

Kusno Danupoyo bukan hanya jejak kepahlawanan yang hilang, dan cenderung “berat sebelah”, tetapi juga jejak silang-budaya yang mungkin belum dirumuskan dalam historiografi dan kebudayaan Gorontalo.

Dengan kata lain, Kusno Danupoyo tak lain adalah pantulan dari “kemalasan” kita, generasi Gorontalo hari ini, yang sedang asyik menikmati kue otonomi daerah, dan betapa kita culas bermain-main dengan politik dimana sejarah dan kebudayaan dipertaruhkan di sana.

Ini adalah hari yang baik untuk mengenang para pahlawan, saya kira, alangkah eloknya, di samping mengirimkan doa kepada Nani Wartabone, kita, rakyat Gorontalo juga mengirimkan doa kepada Kusno Danupoyo. Semoga Kusno Danupoyo segera diberi gelar kepahlawanan oleh pemerintah.

Kusno Danupoyo, kau pahlawan Gorontalo, kau pahlawan kami. Alfatihah …

(Visited 112 times, 2 visits today)

Leave a Reply

18 − five =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top