You are here
Home > Gorontalopedia > Budaya > Lebaran Katupat “Kampung Jawa” Tradisi Panjang Tawanan Kapal Pollux

Lebaran Katupat “Kampung Jawa” Tradisi Panjang Tawanan Kapal Pollux

 

Penjual Dodol dan Nasi Bulu, di kampung jawa (DeGorontalo/Syam Terrajana)
Penjual Dodol dan Nasi Bulu, di kampung jawa (DeGorontalo/Syam Terrajana)

DEGORONTALO – Penghuni kampung Jawa Tondano (Jaton) di Kabupaten Gorontalo dilanda sibuk sejak pagi buta. Pintu-pintu rumah terbuka lebar, kursi-kursi tertata, berbagai menu khas dihidangkan, ketupat, nasi bulu (nasi beras pulut yang dibakar dalam sebilah bambu atau lemang) dan tak ketinggalan, jenang (dodol) kacang.

Senin (4/8) adalah hari ketujuh setelah lebaran Idul Fitri. Hari suka cita merayakan tradisi lebaran katupat atau bakdo ketupat.

Di Gorontalo, perayaan ini dikenal jauh lebih ramai dan semarak dibanding lebaran Idul Fitri.kerabat dan handai taulan datang dari segala penjuru. Jalanan macet oleh padatnya kendaraan bermotor.

Siapun boleh bertandang dan makan sepuasnya, “ ujar Fitria, Warga Yosonegoro, salah satu perkampungan Jawa Tondano.

Warga etnis Jaton mendiami sejumlah desa dengan nama yang identik dengan Jawa. Selain Yosonegoro, ada juga Reksonogoro, Kalioso dan Mulyonegoro.

Etnis ini berasal dari hasil kawin mawin antara suku Jawa dan Tondano. Cikal bakalnya bermula pada suatu hari, 3 Mei 1830, ketika Pangeran Diponegoro, Kyai Modjo, dan 63 orang pengikutnya diberangkatkan dengan kapal perang Pollux ke Manado.

Kedua sosok ini merupakan tokoh penting di balik peristiwa perlawanan terhadap kolonial Belanda di Yogyakarta atau yang lebih dikenal Perang Jawa (1825-1830). Bersama puluhan pengikutnya, keduanya ditangkap dan diasingkan ke pulau Sulawesi bagian utara. Seluruh rombongan itu hanya terdiri dari para lelaki.

Sebuah kajian historis berjudul “Dialek dan Identitas Jawa Tondano di Minahasa” yang disusun seorang etnis Jaton, Kinayati Djojosuroto, dosen Fakultas Budaya dan Seni Universitas Negeri Manado, menyebutkan begitu tiba, Pangeran Diponegoro ditempatkan di benteng Amsterdam sebelum akhirnya dipindah ke Makassar.

Sedang Kyai Modjo beserta pengikutnya digiring untuk menetap di Tondano, Minahasa, 65 kilometer arah selatan dari Kota Manado.

Kedua tokoh itu sengaja dipisahkan, agar tidak sama-sama melakukan perlawanan terhadap pemerintah kolonial.

macet 01
Macet sepanjang jalan kampung Jawa Tondano, Gorontalo. (DeGorontalo/Syam Terrajana)

Di tanah yang baru itu, mereka bertahan hidup dengan bercocok tanam, mengubah daerah rawa menjadi lahan pertanian. disana juga berlangsung proses akulturasi budaya, ketika pengikut Kyai Modjo kawin mawin dengan perempuan pribumi.

Keturunan etnis Jaton mencampur bahasa Tondano dengan bahasa Jawa sedemikian rupa, dialek baru ini menciptakan ragam bahasa baru, yang tidak bisa dimengerti oleh orang Jawa maupun Tondano asli.

Contoh kalimat dalam bahasa Jaton seperti “Endonomi sego wia kure” yang berarti, ambil nasi di belanga. “Endonomi”berasal dari kata “edon” dalam bahasa Tondano yang artinya ambil, “Sego” berarti nasi dalam bahasa Jawa, sedangkan “wia kure” dari bahasa Tondano yang berarti di belanga.

Marga di belakang nama keturunan Jawa Tondano juga identik dengan nama-nama leluhur mereka.Sebut saja marga Zess, yang merupakan keturunan Tumenggung Zess Pajang Mataram,Banteng, Suratinojo, Modjo, Baderan, Pulukadang, Melangi dan Nurhamidin.

Basri Amin , antropolog dari Universitas Negeri Gorontalo mencatat, anak cucu dan keturunan Kyai Modjo serta pengikutnya yang berasal dari Solo,Yogyakarta dan Demak, telah menyebar hampir merata di Sulawesi sejak 1902.

Mereka pertamakali bermigrasi ke Gorontalo pada 1925. Selain dari pulau Jawa di atas, menurutnya ada juga beberapa tokoh dari berbagai daerah lainnya yang juga turut diasingkan di Tondano.

makan ketupat 01
Hidangan lebaran katupat di kampung Jawa Tondano, Gorontalo (DeGorontalo/Syam Terrajana)

Sebut saja Sayid Abdullah Assegaf dari Sumatera, Pangeran Perbatasari dari Kalimantan, Haji Saparua asal Maluku, Haji Abdulkarim asal Banten.

Dia menjelaskan, lebaran katupat atau ketupat, merupakan tradisi warisan kraton Solo dan Yogyakarta, yang jejaknya masih terasa di Kampung Jaton, Gorontalo.

Tradisi lebaran ketupat juga menular ke daerah sekitar,mulai dari Telaga, Limboto, bahkan beberapa tempat di Kota Gorontalo dan Kabupaten lainnya, kini kian banyak warga asli Gorontalo yang ikut merayakannya, menyediakan menu yang hampir sama untuk menyambut tamu.

Di atas meja, ketupat dari Jawa bersanding dengan kuah bugis, sate Balanga, Iloni  atau dabu-dabu dari Gorontalo.

Tradisi khas lainnya yang turut memeriahkan perayaan lebaran ketupat adalah lomba pacuan sapi dan kuda yang digelar di arena pacuan dan lapangan golf di Desa Yosonegoro. Tahun ini, 43 kuda dan 34 sapi pacu dari berbagai Provinsi meliputi Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan dan Gorontalo ikut serta. 

Lomba digelar selama tiga hari, 4-6 Agustus. Ribuan pasang mata menyaksikan ajang yang memperebutkan piala Gubernur Gorontalo itu.

Tahun ini lebih semarak karena pesertanya jauh lebih banyak,nomor yang dilombakan mulai kelas 800 meter hingga 1600 meter, dengan hadiah antara 7-12 juta rupiah,” ujar Alwin Dunda, ketua Persatuan Olahraga Kuda Seluruh Indonesia (Pordasi) Gorontalo, sekaligus panitia. Tradisi ini menurutnya berkembang sejak tahun 60an silam.

 

 

SYAM TERRAJANA

 

(Visited 912 times, 13 visits today)
Syam Terrajana
Lahir dan tinggal di Gorontalo setelah berkelana di berbagai kota. Membagi waktunya untuk menulis, membaca,melukis dan bepergian. Sesekali menyanyi jika suara sedang bagus. Dapat dihubungi di syam.terrajana2@gmail.com.

2 thoughts on “Lebaran Katupat “Kampung Jawa” Tradisi Panjang Tawanan Kapal Pollux

Leave a Reply

eleven + eighteen =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top