Lima Kisah Sedih Dari Danau Limboto

DEGORONTALO – Danau Limboto adalah danau terbesar di Provinsi Gorontalo. Danau ini bukan hanya jadi sandaran hidup ribuan nelayan. Tapi juga punya banyak kisah dan keunikan. Presiden RI pertama, Soekarno pernah mendarat menggunakan pesawat Amphibi di danau pernah menjadi saksi perdamaian dua kerajaan yang bertikai ini.

Danau Limboto banyak menjadi sumber riset. Pun sudah banyak melahirkan sarjana. Namun, kondisi danau limboto malah kian memprihatinkan. Setidaknya ada empat hal menyedihkan yang bisa anda temui di sana saat ini:

1. Lapangan Raksasa

Musim kemarau panjang menyusul fenomena Elnino membuat sebagian wajah Danau Limboto kering kerontang,mirip lapangan raksasa. Di desa Hutadaa, Kabupaten Gorontalo misalnya. Nelayan harus berjalan kaki cukup jauh menuju perahu lantaran air kering. Danau menjelma lapangan raksasa. Musim kemarau baru diperkirakan usai pada Oktober 2015 mendatang. Pada musim hujan akan meluap dan menyebabkan banjir.

2. Kuburan Massal

Sore hari, cobalah jalan rintisan greenbelt yang memotong sebagian danau. Perhatikan dengan seksama, di tanah yang kering itu terhampar ribuan (kalau tidak jutaan) bangkai ikan. Nelayan juga mengeluhkan susahnya mencari ikan.

3. Arena Pembantaian

Burung migran dari berbagai penjuru bumi, singgah ke Danau Limboto pada waktu-waktu tertentu. Lebih darai 20 spesies burung migran yang berasal dari berbagai negara di Eropa, Rusia, Alaska dan Siberia, mereka mampir atau transit di Danau Limboto sebelum meneruskan perjalanan migrasinya ke berbagai negara tujuan.

Sebut saja Gagang bayam/ Black-winged Stilt (Himantopus Himantopus). Burung air berkaki panjang kemerahan dengan sayap hitam dan berbadan putih ini sebarannya terdapat di Eropa sampai Afrika sub Sahara dan Madagaskar ke Timur sampai Asia tengah, India, Cina dan Taiwan.

Tapi jangan kaget jika tiba –tiba anda mendengar letusan senapan. Atau, bisa jadi anda berpapasan dengan sejumlah orang yang dengan santai menggotong burung hasil buruannya.

4. Air Keruh

Hasyim, Periset Danau Limboto dari Fakultas Perikanan dan Kelautan, Universitas Negeri Gorontalo mengemukakan massifnya penggunaan bahan kimia untuk pupuk di lahan pertanian di sekitar danau, turut berkontribusi besar terhadap menurunnya kualitas air danau.

Berdasarkan riset terakhirnya pada 2012 dan 2014 silam, limbah nitrogen dan fosfat yang ikut terbawa air sungai ke danau Limboto, telah menyebabkan kematian ikan secara massif. Artinya, kualitas air danau sudah sampai pada titik jenuh.
5. Aset Orang Kaya

Dari hasil risetnya yang sama, tercatat tingkat ketergantungan warga sekitar terhadap Danau Limboto sangat tinggi, mencapai 57 persen. Namun ironisnya, sebagian besar dari mereka hanya berprofesi sebagai pekerja dan penggarap tambak ikan saja.

Sedang yang memiliki asset datang dari berbagai kalangan, pebisnis, pejabat hingga politisi. Asset dimaksud yakni keramba atau tambak ikan.

Di satu sisi, massifnya budidaya perikanan di seluruh badan danau juga menimbulkan problem tersendiri. Pemberian pakan yang tidak efektif misalnya, juga dapat mengurangi kualitas air.

*Foto. Danau Limboto kering (DeGorontalo/Syam Terrajana)

SYAM TERRAJANA
Baca juga:

PB Catalina, Saksi Sejarah Indonesia dan Gorontalo
Rusli Larang Keramba Ikan di Danau Limboto, Sudah Tepatkah?
Ternyata, Tiap Tahun Turis Mancanegara Tinggal di Danau Limboto
Sob, Pengerukan Danau Limboto Bukanlah Solusi

 

 

Leave a Reply

six + 2 =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top