Mahasiswa LGBT di UNG Terancam Dicabut Beasiswanya; Adilkah?

Visi UNG tahun 2035, sebagaimana tertera d dalam gedung rektorat. (DG/Syam Terrajana)
Visi UNG tahun 2035, sebagaimana tertera d dalam gedung rektorat. (DG/Syam Terrajana)

DeGorontalo– Rektor Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Syamsu Qamar Badu, menyatakan pihaknya akan membentuk tim khusus untuk mengidentifikasi mahasiswa Lesbian, Gay, Biseks dan Transgender (LGBT), di seluruh fakultas dan program studi di kampus itu.

Tim khusus ini katanya akan melibatkan psikolog dan pusat studi terkait untuk mengidentifikasi, sekaligus nantinya membina para mahasiswa LGBT agar bisa kembali pada apa yang disebutnya “kodratnya”.

Menurutnya, tim ini juga bertujuan untuk pencegahan dini menyebarnya LGBT, di lingkungan perguruan tinggi yang memerkenalkan diri sebagai “Kampus Peradaban” itu.

“Ini semacam warning saja, mereka harus kita kembalikan ke kodratnya,” kata pria penyandang gelar guru besar di bidang manajemen pendidikan itu, kepada DeGorontalo, Kamis ( 3/11).

Dia mengatakan dalam proses identifikasi itu, para mahasiswa yang diduga LGBT akan diwawancarai mendalam. Jika perlu, pihak orangtua mereka juga akan dihadirkan. Namun menurutnya, proses identifikasi ini akan dilakukan serba hati-hati, tidak langsung memvonis serta berlangsung tertutup. Para mahasiswa LGBT juga tidak akan dipublikasikan.

“Ini silent operation, kami tidak akan pukul rata, saya juga tidak ingin bikin heboh,” katanya.

BACA JUGA:

Jika para mahasiswa LGBT itu tidak mau berubah atau kembali ke kodratnya setelah dibina, pihaknya mengancam akan menggunakan seluruh instrumen yang bisa digunakan.

“Salah satunya dengan mencabut beasiswa, jika dia adalah penerima beasiswa, serta fasilitas lainnya,” katanya. Syamsu tidak menjelaskan mendetail seperti apa bentuk pembinaan yang akan diterapkan.

Namun begitu, pihaknya mengaku tidak akan sampai mengeluarkan para mahasiswa LGBT. Karena, menurutnya bagaimanapun mereka berhak memperoleh pendidikan.

Dia mengatakan, proses identifikasi ini hanya akan diberlakukan kepada mahasiswa. Di kalangan dosen, dia mengklaim tidak ada satupun yang LGBT.

Menurutnya, akhir-akhir ini UNG cukup serius menanggapi isu LGBT. Tiga bulan sebelumnya, di kampus itu digelar seminar anti LGBT. Sebelumnya juga, fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) UNG juga menyatakan penolakan LGBT di lingkungan fakultas mereka.

Sementara itu, pegiat isu LGBT di Gorontalo, Melki S. Mbuti, mengatakan kebijakan rektor UNG itu diskriminatif dan melanggar hak asasi manusia.

Menurutnya, tidak mudah bagi seorang LGBT untuk mencicipi pendidikan tertinggi seperti di universitas. Banyak kalangan LGBT putus sekolah di tengah jalan, karena berbagai tindakan diskriminatif, mulai dari ejekan hingga kekerasan fisik. Maka kebijakan rektor UNG merupakan bentuk diskriminasi.

“Dari mana si rektor bisa mengidentifikasi seseorang LGBT atau tidak? Kalau pun dia laki-laki kemayu belum tentu dia gay, begitupun sebaliknya,” katanya.

Sepanjang mahasiswa LGBT berprestasi, tidak berbuat kekacauan, merugikan orang lain atau mencoreng nama baik kampus, maka menurutnya tidak ada alasan bagi UNG untuk mencabut beasiswa.

Ardi Rudianto, pegiat LGBT lainnya juga menilai kebijakan itu tidak mempunyai dasar yang kuat, serta lemah secara ilmu pengetahuan. Orientasi seksual, menurutnya merupakan perkara privat dan tidak bisa dipaksakan.

“Itu sangat berbahaya dan menciptakan ketidakadilan di institusi pendidikan,” katanya.**

 

SYAM TERRAJANA

Syam Terrajana
Lahir dan tinggal di Gorontalo setelah berkelana di berbagai kota. Membagi waktunya untuk menulis, membaca,melukis dan bepergian. Sesekali menyanyi jika suara sedang bagus. Dapat dihubungi di syam.terrajana2@gmail.com.

2 thoughts on “Mahasiswa LGBT di UNG Terancam Dicabut Beasiswanya; Adilkah?

  1. sangat mendiskriminasi,
    hati2 pak rektor ung,kalu anakmu dan kelurgamu yg trrindikasi lgbt dan menerima perlakuan dsikriminatif bgmna tanggapn anda,untung kalu anda berduit,kalu nggak?apakah anda akan mrnjadi sumber pengahancur masa depan orang lain?penghancur impian orang?
    wahai rektor ung,sebelm mengambil kebijakan fikir dan telaah baik2,jangan seenaknya saja memanfaatkan posisi anda sebagai rektor,lalu anda semena2 dengan semua kebijakan anda yg sangat tidak logis dan tidak berdasar,
    saya rasa anda adalah org yg cerdas,dunia semakin maju,belum lagi kita akan mengahdapi MEA.saya sdah bisa tegaskan anda memang belum siap untuk hidup di era tekhnologi yg makin canggih,jangan melihat sesuatu hanya dari satu sisi saja,pertimbangkan semua dari sisi apa saja yg kemungkinan ada sisi positifnya,
    anda saja belum tentu adalah seorang lgbt atau bukan.
    siapa yg tau,itu kan pribadi anda,yg tau hnya anda dan tuhan saja,
    stop diskriminasi perlakuan bapak yg tidak berakar.

Leave a Reply

8 − 5 =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top