You are here
Home > Berita Pilihan Editor > Mahasiswa, Reformasi dan Katak Rebus

Mahasiswa, Reformasi dan Katak Rebus

DEGORONTALO– Era reformasi banyak makan tumbal mahasiswa dan aktivis demokrasi. Tapi kini kerapkali dinikmati dengan cara yang salah kaprah. Bagi sebagian besar mahasiswa hari ini, era yang dimulai sejak tumbangnya orde baru pada 1998 silam itu justru jadi perangkap melenakan. Membunuh daya kritis. menggilas akal sehat

Begitu garis besar yang disampaikan jurnalis dan pembuat film dokumenter, Dandhy Dwi Laksono. Selasa sore ( 22/9) dia berbicara di hadapan seratusan mahasiswa jurusan Komunikasi, Universitas Negeri Gorontalo dalam kuliah kreatif bertajuk “meneropong panggung jurnalisme” serta pembahasan mengenai video dokumenter.

“Anda, jangan mentang-mentang hidup di era reformasi, lantas merasa semua baik-baik saja, kenyataannya, Indonesia sampai hari ini masih banyak dirudung masalah,” kata pria yang sudah delapan bulan terakhir mengelilingi Indonesia dengan sepeda motor bekas bersama rekannya, Suparta “Ucok” Arz .

Maka dia meminta mahasiswa untuk tidak tinggal diam. Menurutnya, mahasiswa komunikasi setidaknya harus kembali menggunakan medium pers mahasiswa sebagai laboratorium untuk mengasah daya kritis.

“Mahasiswa komunikasi yang tak pernah menulis atau berkarya di pers mahasiswa, ibarat mahasiswa kedokteran yang tak pernah praktek di rumah sakit, itu berbahaya bagi masyarakat kelak,” tutur pria yang juga anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI) ini .

Baginya, mahasiswa yang kehilangan daya kritisnya pada era reformasi seperti saat ini, sama halnya dengan katak yang mati pelan-pelan dengan cara direbus.

“Anda tahu kan cerita membunuh katak, jangan dicemplungin ke air mendidih. Taruh saja di air dingin yang pelan- pelan dipanasi, katak itu tak akan sadar jika dalam bahaya, lalu akan mati pelan-pelan,”. Dandhy dan Suparta bergantian bicara dan berdiskusi dengan mahasiswa, sembari memutar beberapa film dokumenter pendek bertema demokrasi dan kebebasan pers.

Proyek berkeliling Indonesia yang dilakukannya diberi nama “Ekspedisi Indonesia Biru” bertujuan mendokumentasikan beragam kisah kehidupan orang Indonesia di berbagai pelosok nusantara.

Hingga kini, ekspedisi yang ditargetkan selesai pada 3 Desember 2015 ini telah memproduksi lima film dokumenter yang bisa diakses gratis melalui kanal youtube.

Berikut simak langsung film dokumenter karya tim Ekspedisi Indonesia Biru:

Baduy

Samin VS Semen

Kala Benoa

Lewa di Lembata

The Mahuzes

 

SYAM TERRAJANA

(Visited 141 times, 1 visits today)

One thought on “Mahasiswa, Reformasi dan Katak Rebus

  1. entah profesi wartawan yang tidak menjanjikan ataukah kita yg kurang referensi tentang pekerjaan keren yg ada di luar sana. karena lucu juga dari beragamnya Program Studi yg ada di Perguruan Tinggi hanya mencetak PNS.

Leave a Reply

nineteen − fifteen =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top