You are here
Home > Berita Pilihan Editor > Maju Tak Gentar Membela yang Bayar

Maju Tak Gentar Membela yang Bayar

Mulyadi Pontororing. Foto: koleksi pribadi
Mulyadi Pontororing. Foto: koleksi pribadi

Oleh: Mulyadi Pontororing (freelance)

Berjibaku dengan media massa sudah saya lakukan sejak beberapa tahun belakangan ini. Sejauh ini, tak ada syarat khusus yang dibebankan—di hampir seluruh—perusahaan media di daerah saya kepada calon wartawan.

Calon wartawan—hanya perlu—harus dan wajib belajar di lapangan. Tidak ada teori atau prinsip-prinsip dasar jurnalistik yang diajarkan. Bahkan untuk pengetahuan dasar kepenulisan pun minim diajarkan.

Profesionalisme wartawan sejatinya sama seperti profesi ahli-ahli di bidang ilmu lainnya. Ibarat seorang dokter yang hendak mengambil profesi ahli, tentu harus menempuh berbagai macam prosedur rumit demi mendapatkan gelar keahliannya. Mulai dari prinsip-prinsip dasar, hingga sumpah jabatan. Begitu pun wartawan. Masalahnya, banyak para pelaku jurnalistik dan perusahaan media massa ‘mengesampingkan’ muruah profesi ini.

Pertumbuhan perusahaan media bak jamur di kotoran ternak. Subur di mana-mana. Siapa saja bisa mendirikan dan mengatasnamakan corong masyarakat. Namun, apa tujuannya? Sampai saat ini yang bisa terbaca ada dua faktor penunjang: eksistensi dan ingin kebagian “kue”. Eksistensi di sini yang saya maksud adalah hanya sekadar gagah-gagahan.

Saya teringat dengan pertanyaan seorang pejabat di Polda Sulut saat saya pertama kali bertugas sebagai pemburu berita.

“So brapa lama jadi wartawan?’’ tanya pejabat berpangkat dua melati.

“Baru hari ini saya ditugaskan, Pak,” jawab saya canggung.

Ia tertawa kemudian sedikit bercanda, “Jadi wartawan lantaran ndak dapa trima di tampa karja laeng so?”

Memang tak bisa dipungkiri, profesi wartawan oleh beberapa pihak hanya dianggap sebagai pelarian saja. Secara akal sehat, siapa yang mau kerja siang dan malam dengan gaji yang tidak layak?

Pernyataan lain yang menurut saya paling menohok dari beberapa teman saya, adalah wartawan diidentikkan orang yang memunyai kekayaan melimpah ruah. Pertanyaannya: bagaimana bisa kaya jika gaji per bulan saja tak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari? Kaya dari Hong Kong?

Saya ingin menjelaskan wartawan seperti apa yang dimaksud oleh teman saya itu. Sejak 5 tahun lalu berkenalan dengan profesi ini, setidaknya terdapat dua kategori wartawan yang umum di daerah saya. Pertama, wartawan sebagai pemburu berita. Kedua, wartawan pemburu cash in.

Saya pun tak bisa membantah jika ada pertanyaan: pernahkah anda terlibat dengan cara-cara itu? Saya akan menjawab dengan tegas, ‘’Ya, saya pernah!’’ Kenapa seperti itu? Jawabannya sederhana: perusahaan butuh duit untuk menjalankan operasional, membayar gaji karyawan dan lain-lain.

Lagipula wartawan sering dianggap sangat kompeten dalam urusan duit. Kedekatan wartawan dengan para pejabat dan orang-orang berduit seperti pengusaha, menjadikan alasan bagi bos-bos di kantor media membebankan pekerjaan yang, tidak ada sangkut pautnya dengan dunia kewartawanan itu.

Di sisi lain, wartawan cash in menurut saya merupakan bentuk lain dari wartawan amplop. Merujuk pada pasal 6 huruf e UU No 40 Tahun 1999, pers diharuskan memperjuangkan keadilan dan kebenaran. Sekali lagi: keadilan dan kebenaran.

Pertanyaannya, bagaimana bisa bertindak adil dan benar jika seorang wartawan dibebankan dengan mencari cash in, yang urusannya tentu penuh dengan keberpihakan? Mengapa berpihak? Karena dibayar.

Di sini saya tidak sedang bersikap sok suci. Saya mafhum dengan sikap wartawan seperti itu. Biaya operasional kantor berita yang sangat besar, membuat tak ada jalan lain bagi pihak perusahaan, selain menjalankan strategi pasar terhadap para wartawannya. Belum lagi persaingan dengan kompetitor yang membuat bagian “kue” yang diperebutkan semakin kecil.

Di sisi lain juga, gaji yang sangat tidak sesuai membuat wartawan mau tidak mau melacurkan diri atas nama profesionalismenya. Dan pada akhirnya profesi ini hanya dipandang sebagai gagah-gagahan semata. Bahkan paling buruk dipandang sebagai profesi pelarian karena tak diterima di perusahaan lain.

(Visited 178 times, 1 visits today)
Kristianto Galuwo
Sigidad. Duda berputri satu-satunya bernama Sigi. Sering sial seperti Donal Bebek, karena itu dirajahi tato Donal Bebek di lengan kanan sebagai segel anti sial. Suka sekali makan ayam bakar/goreng/santan apalagi yang dibumbui sejumput puisi. Bisa disapa di facebook: Kristianto Galuwo dan diterawang di blog Getah Semesta.
http://sigidad.blogspot.co.id/

Leave a Reply

15 − fourteen =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top