You are here
Home > Mantra > Manifesto Kaum Organik: Mendiskusikan Kembali Pendidikan Indonesia

Manifesto Kaum Organik: Mendiskusikan Kembali Pendidikan Indonesia

Ilustrasi: umayaika.wordpress.com.
Ilustrasi: umayaika.wordpress.com.

Oleh: Stenli Nipi

Pengajar sekolah rakyat di Pohuwato
Mahasiswa Pasca Sarjana Hukum Jayabaya Konsentrasi Tata Negara

Surat Ali-Imran ayat 110: Engkau adalah umat terbaik yang diturunkan/dilahirkan ditengah-tengah manusia untuk menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah kemunkaran dan beriman kepada Allah.

Seresahan di ruangan asrama mahasiswa Gorontalo di Jakarta. Dimana diametrikal diskusi setiap pagi dan malam menjelang membuat cerita tersendiri hingga saya melakukan pencatatan tersendiri dari apa yang banyak terucap. Baik tentang pengembangan modal negara melalui ekonomi profetik, sporaditas figurisme, integritas sosial, kemandulan hukum dalam prespektif penegakan. Semua sering terkaji dalam aspek humanisme, liberasi, dan transendensi, senikmat rajikan kopi hangat yang kental.

ST29. Itulah rangkaian kode sebagai identitas asrama mahasiswa Gorontalo Salemba yang masih sering terjaga nilai historis dari beberapa senior asrama bahwa tempat inilah tokoh-tokoh revolusi seperti Dipa Nusantara Aidit dan Soekarno, dalam hal merancang kekuatan kekuatan politik basis massa dalam mengolah struktur negara bangsa melalui kepartaian terlarang arit dan sabit sebagai simbol merah dirancang sedemikian rupa hingga akhirnya terkudeta. Beberapa minggu ini hampir sebulan diskusi mengalihkan pemikiran secara pribadi dan kawan-kawan menjadi gelisah pada personal integritas bangsa, moralitas figur dan popularitas pemimpin, dan hancurnya bahasa tua Gorontalo, menjadi topik yang selalu hangat di musim hujan di Jakarta.

Setelah akad politik lokal yang telah usai di seluruh Indonesia, dimana hampir seluruh bupati semua telah diambil sumpah dan telah melaksanakan sertijab sebagai estafet perjuangan dalam memimpin daerah, tidak menurunkan tensi diskusi kajian kelompok kecil di gubuk mahasiswa ST29. Makhluk-makhluk berdarah keturunan raja (yotama: sangat sulit mengalah) .

Peralihan wacanan mengenai integritas negara bangsa, kita sadari bahwa intergritas bangsa kita dimata dunia, belum begitu memperlihatkan bahwa kita bangsa yang sudah solid, yakni bangsa yang tidak selesai secara diri pribadi (berkesadaran) sebagai negara bangsa, ini bukan soal pemimpinnya dan masyarakat secara individu yang harus dinilai terpisah, tetapi secara kolektif, sebagai keserasian dalam tatanan sosial yang memiliki tugas dan fungsi tersendiri. Mungkin sangat penting mendudukkan persoalan keadilan sosial dan keadilan ekonomi, tentang keberadaan pemerintah dan masyarakat. Dimana Negara adalah bentuk masyarakat yang terpenting, dan pemerintah adalah susunan masyarakat yang terkuat dan berpengaruh.

Oleh sebab itu pemerintah yang pertama berkewajiban menegakkan keadilan. Maksud semula dan fundamental daripada didirikannya negara dan pemerintah ialah guna melindungi manusia yang menjadi warga negara daripada kemungkinan perusakan terhadap kemerdekaan dan harga diri sebagai manusia sebaliknya setiap orang mengambil bagian pertanggungjawaban dalam masalah-masalah atas dasar persamaan yang diperoleh melalui demokrasi (NDP Bab IV). Dimana kontrak sosial antara pemimpin dan masyarat harus terjalin secara utuh. Tidak cukup hanya mengandalkan politik blusukan, politik keartisan, rebut menunggang jabatan, dan siapa yang terbaik antara pimpinan dan wakil pimpinan. Toh negara ini masih terjebak dengan menggantung pada hutang luar negeri (masih menyombongkan diri tidak takut atau tidak malu).

Metodologi sistem kepemimpinan dan persoalan virus syahwat libido harus segera diretas dan diperbaiki. Kehadiran pemimpin negara harus memang benar terasa dan begitu pula pemimpin daerah .  Sangat penting pula pemerintah, di dalam trias politik mengevaluasi catatan catatan kotor bangsa ini (korupsi, ujian nasional, proyek fiktif, perusakan hutan, RTRW, dan problematika konstitusi), ini semua adalah pembelajaran sebagai pendidikan terapan bernegara yang bersih walaupun “tak suci” bukan menghabiskan waktu mengkerumuni diri untuk pencitraan, yang tentunya itu bukanlah praktik politik indentitas bangsa ini.

Kedua moral figure, berbicara soal moral ini cukup luas dan kompleks, tetapi kefiguran seorang pemimpin sangat cukup berpengarus secara psikologis. Tidak heran umat manusia di Indonesia gemar memfigurkan keartisan dari negeri lain mampu meleburkan kedalam evolusi sosial kebangsa kita sebagai primodialitas global dan kini masyarakat kita (kekinian) pada sebagian banyak menyukai figure berlabel apakah memiliki integritas, capable, ber agama dan bermoral itu urusan kedua yang utama dialah tokoh penghibur dan memiliki peran yang sangat diminati masyarakat khususnya para ibu ibu dan remaja.

Namun di sisi lain kita lupa bahwa ada figur-figur bergerak tanpa jasa. yang mungkin tidak berharap dukung “sms” dan kini masih berjuang diterik matahari untuk mendapatkan haknya, masih tak kenal waktu dengan gaji kecil tetapi bersemangat 45 yakni para guru dan termasuk para honorer pengajar yang setia menunggu murid datang terlambat dan setiap malam menyusun jadwal materi pelajaran hanya untuk berharap bisa memberi pengetahuan yang terbaik untuk anak anak didik, entah sempat kita berfikir bagaimana nasib bangsa ini tanpa seorang guru. Lalu dimana cara kita berterimakasih kepada mereka, lalu dimana negara hadir diantara mereka mengadu status mereka sebagai honorer.?

Berita soal bom sarinah, kopi sianida dan fenomena LGBT, sampai-sampai menjadi tren di dunia medsos dengan berbagai bentuk editan dan karikaturnya. Walau sudah basis tetapi kita bisa mengambil hikmah dari beberapa rentetan yang diberitakan. Khususnya kehadiran negara dalam persoalan persoalan seperti itu melihat perkembangan media di indonesia, Secara pribadi ini implikasi dari sikap pemerintah negara yang lambat dan hanya terhanyut pada politik an sich. Yang pada kenyataanya secara praktek keamanan negara dan pengelolaan sistem keamanan dan kenyamanan pendidikan tidak selesai dan membuatnya lebih kompleks “lebay analisa” dari persoalan yang dibuat sendiri pemerintah.

Tidak dipungkiri ini pembiaran yang masif dan tidak terkontrol seperi model pertelevisian yang short adegan ciuman dan telanjang tetapi membiarkan adegan pekekelahian dan gang motor sekolah hingga yang tak nyata itu di ikuti oleh remaja yang disebut kekinian, seolah negara bangsa ini seperti telenovela setiap rentetan kejadian didramatisir dan keparahan itu sudah menjadi candu.

Sekiranya kita lebih bijak mendiskusikan arah fikiran para pendiri bangsa ini yang pernah duduk dibangku pendidikan (baik sekolah dasar, sekolah rakyat dan taman pengajian anak-anak) dengan maksud bukan sebuah pengkultusan dan ceremonial akan tetapi lebih aplikatif, responsibily dan terorganisir (yang bukan hanya menyelamatkan uang negara yang dimalingin anak bangsa sendiri, tetapi yang lebih utama menyelamatkan aset pendidikan bangsa yang selama ini terkoptasi dengan sistem pendidikan birokratif dan feodalis dimana para guru dipaksa mengajar oleh sistem regulatif negara dan pemerintah sibuk membagi proyek dana pendidikan lalu sisanya dipakai stuband plesiran dan fasilitas pribadi.

Parahnya liga pemerintah menggadai kampus kampus untuk agar guru besar (pimpinan) menerapkan kapitalistik dan berproduksi seperti industrialistik mengelolah pendidikan perguruan tinggi, dimana pelajar adalah objek penindasan (pemerasan) pendidikan bukanlah subjek yang harus dicerdaskan (Paulo Freire).

Para pemimpin bangsa hari ini dan para pemimpin daerah sudah harus mendiskusikan kembali road map bagaimana pendidikan bangsa ini kedepan. Terlalu naif berbicara 20 sampai 50 tahun, cobalah diukur seberapa lama anda menjabat 5 atau 10 tahun (perode ke 2). Dimana memberi Tindakan Yang lebih responsif, memahami persoalan arus perubahan budaya import masuk secara nasional dan atau lokal mengenai pendidikan, bergerak di tengah atau di antara rakyat apa sudah mengenyam pendidikan yang layak, mampu memprakarsai dari setiap ide, memahami sejarah leluhur pendirian bangsa yang harus segera diracik secara konseptual dan diselesaikan bersama untuk melihat visi besar pendidikan bangsa ini dari ketertinggalan pembangunan pendidikan yang sangat jauh dari bangsa dan negara tetangga.

(Visited 631 times, 5 visits today)
Syam Terrajana
Lahir dan tinggal di Gorontalo setelah berkelana di berbagai kota. Membagi waktunya untuk menulis, membaca,melukis dan bepergian. Sesekali menyanyi jika suara sedang bagus. Dapat dihubungi di syam.terrajana2@gmail.com.

Leave a Reply

five + fourteen =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top