Manuli Askali (1902-1973), Puisi Terakhir Menjelang Ajal

 

DEGORONTALO – Pasar itu mulai dijejali hiruk pikuk manusia. Di hadapan barang dagangan Manuli Askali duduk bersila, dan tenggelam dalam senandung sendiri. Kepalanya menunduk, tak lama kemudian, kaki-kaki itu mendekat, kian lama kian banyak.

Ketika orang sudah berkerumun, Manuli mengangkat wajahnya. Kata-kata, mimik dan gerak tubuhnya menyentuh hati dan imajinasi penyimak. Melalui Tanggomo yang dibawakan Manuli, kisah yang disampaikan lebih hidup. Orang yang mendengar seolah berada di tempat kejadian dan menyaksikan langsung.

Itulah potongan kenangan yang masih tersimpan baik dalam memori Hasdin Danial, 48 tahun. Hasdin, kala itu, masih seorang pemuda tanggung berstatus pelajar. Setiap Kamis, saat lonceng berdentang tanda istirahat pertama, Hasdin menyelinap diam-diam keluar sekolah menuju pasar Kamis. Pasar ini terletak di jantung kecamatan Tapa (kini Kabupaten Bone Bolango). Bersama kerumunan orang di pasar, Hasdin ingin mendengar Ba Sahala mendendangkan Tanggomo.

Ba Sahala adalah nama panggilan Manuli. Sambil menjual nyiru atau tampi beras dan tikar di pasar tradisional itu, Ba Sahala melantunkan Tanggomo.

“Ba Sahala punya gaya khas, terutama cengkoknya. Saya masih terkesima kalau mengingatnya hingga sekarang,” ujar Hasdin, kini penyiar RRI dan lebih dikenal dengan panggilan “Pa Kuni”. Manuli bertubuh tinggi, mengenakan sejenis baju koko putih yang sudah kusam dan bercelana pendek selutut. Ada lagi, bahunya senantiasa berselempang sarung.

“Bahkan cara jalannya saja saya masih ingat,” kata Pakuni yang juga dikenal sebagai Petanggomo dan komedian ini.

Manuli bukan sembarang pria, maestro Tanggomo patut disandangkan kepadanya. Peristiwa demi peristiwa, baik yang terjadi di dalam dan di luar Gorontalo, dengan cepat digubah dalam untaian cerita bersajak.

Dalam pergaulan sehari-hari pun, Manuli selalu meluncurkan kata berirama. Pa kuni masih ingat kelihaian bahasa Manuli yang terkadang jenaka. Semisal ketika seseorang tamu hendak pamit dan berkata “Ma mo Na’o Ba sahala,” (Mau pamit dahulu Ba Sahala), sang penyair serta merta membalasnya dengan “ Jo, Insya Allah Ja Topotala,” (Iya, Insya Allah anda tidak celaka,”).

Kehidupan Manuli

Di mata keluarganya, Manuli dikenal sebagai Ayah penyayang lagi pekerja keras. Dia menempuh belasan kilometer dengan berjalan kaki, untuk menjajakan nyiru dan tikar. Terkadang ada orang yang memintanya mampir sejenak untuk bertanggomo . Selain di pasar Kamis, “wilayah kerja” Manuli juga meluas hingga kota Gorontalo. Dia mulai turun rumah menjelang subuh dan baru kembali setelah pukul sepuluh malam.

“Sebelum berangkat kerja, Ba Awu membangunkan kami anak-anaknya, hanya untuk makan kue cucur besar-besar yang dibuatnya sendiri, lalu dia menyeruput kopi dan pergi, ” kenang Saida Manuli (56), putri bungsu Manuli. “Ba Awu” adalah sebutan bagi sang ayah.

Sebagai anak buntut, Saida mengaku begitu dimanjakan. Minta uang selalu diberi, meski bandel tak pernah dipukuli. Hidup sederhana di rumah kecil beranyam bambu, dengan tiga belas anak dan seorang istri, kehidupan rumah tangga Manuli tergolong bahagia. “Ba Awu tak pernah berlaku kasar pada anak-anaknya,” ujar Saida kepada Jurnal Kebudayaan Tanggomo.

Selain kue cucur besar dan enak itu, yang paling terkenang oleh Saida tentang ayahnya adalah Tanggomo, yang tak pernah lepas dari keseharian hidupnya.

Menjelang tidur, “musik pengantar” mereka kata-kata indah dalam Tanggomo yang disenandungkan ayahnya. Terkadang terdengar, kedua orang tuanya saling berbalas pantun saat berbicara atau saat menganyam nyiru. Keluarga besar ini seolah hidup bernafaskan puisi.

Kartin Gobel, keponakan Manuli juga sangat terkesan dengan pamannya itu. Terkadang dia dan anak-anak Manuli turut ke pasar, berebut kue atau sen logam yang dilemparkan penonton ke nyiru jualan seusai sang paman bertanggomo.

Bahkan Kartin mengaku, pernah beberapa kali membantu Manuli menyusun Tanggomo. Seperti cara kerja jurnalistik, Kartin melaporkan peristiwa yang dilihat atau didengarnya, lalu dengan cepat Manuli menggubahnya jadi Tanggomo.

“Otaknya terang, tak lama setelah saya bercerita, sebuah rangkaian Tanggomo pun langsung disenandungkan, itu tanpa ditulis terlebih dahulu,” katanya. Kartin mengaku, Tanggomo karya Manuli tentang kisah pemberontakan Permesta, merupakan hasil dari laporannya.

Lain kali Manuli pergi ke pengadilan negeri Kota Gorontalo, mendengarkan peristiwa besar yang menyebabkan seseorang terseret hukum. Di sana, Manuli menyimak baik-baik agenda sidang, sambil berjualan nyiru dan tikar. Lantas , tak lama kemudian “reportase” tentang peristiwa itu, sudah disampaikan dalam bentuk Tanggomo.
“Mungkin kalau sekarang, Ba Awu sudah jadi wartawan,” kata Kartin.

Meski begitu, tak jarang anak-anak Manuli jadi biang ejekan orang sekampung. Saida masih ingat, betapa dia malu sekali saat diejek sebagai anak “Ta Motanggomo,” yang dikonotasikan sebagai pengamen jalanan.

Saking tak tahan dicerca, Saida meminta ayahnya untuk berhenti bertanggomo. “ Saya sudah gadis ketika itu, jadi wajar kalau malu, tapi ba Awu hanya bilang biar saja apa kata orang, dia senang dan akan terus bertanggomo,” Tuturnya.

Tak ada potret untuk mengetahui bagaimana rupa sang maestro semasa hidup. Kartin mengaku pernah menyimpan foto pamannya, yang kemudian dia bawa ke Moutong Sulawesi Tengah, tempat tinggalnya ketika itu. Sayang, suatu ketika rumahnya hangus terbakar, potret itu pun turut serta.

Namun secara fisik, Saida dan Kartin, menggambarkan Manuli sebagai sosok berpostur tinggi, hidung mancung, kulitnya kuning langsat. Dia selalu mengenakan baju koko putih kusam dan bercelana Golpi selutut. Gambaran ini hampir sama disampaikan Hasdin Danial.

Meski tak bisa lagi dilacak potretnya, suara Manuli Askali jadi kekal diingat orang. Itu karena rekaman suaranya masih disimpan di RRI Gorontalo. Salah satu karya yang hingga kini masih diperdengarkan adalah “Teme Jonu”.

Ini kisah mengenai perjuangan kemerdekaan rakyat Gorontalo di bawah pimpinan Nani Wartabone dan Kusno Danupoyo, saat menduduki kantor pemerintahan Belanda di pusat Kota Gorontalo, pada 23 Januari 1942. “Teme Jonu” adalah nama lain dari Pahlawan Gorontalo Nani Wartabone

Peristiwa tersebut, kemudian dikenang sebagai hari patriotik atau hari kemerdekaan Rakyat Gorontalo, senantiasa dirayakan setiap tahun. Rekaman suara asli Manuli yang membawakan “Teme Jonu”, selalu disiarkan RRI Gorontalo, mengiringi peringatan hari bersejarah itu.

“Setiap peringatan 23 Januari, saya selalu menyimak suara Ba Awu di Radio, rasanya ingin menangis,” Saida, bicaranya terseret.

Di antara anak-anak Manuli, tak ada yang menjadi petanggomo. Dari tiga belas anaknya, kini yang masih hidup tersisa tiga orang: Asia Manuli (Putri kesebelas), Rukia Manuli ( Putri kedua belas), dan Saida sendiri. Belum lama ini, saudari kandung Rukia, yakni Runia Manuli, meninggal dunia.

Menurut salah seorang cucu Manuli, Mastin Puasa, 44 tahun, satu-satunya penerus kakeknya adalah Rahim Puasa, kakak kandungnya. “Rahimu”, panggilan sang kakak, sejak kecil ikut Manuli menjajakan nyiru dan tikar, sembari belajar Tanggomo.

“Rahimu yang tahu dan hafal di luar kepala semua Tanggomo karya Manuli dan menciptakan Tanggomo yang bercerita tentang kematian Kakeknya, ” kata Mastin.

Sayang, Rahim yang masih beranjak remaja tak berumur panjang. Rahim meninggal setahun setelah kematian kakeknya.

Kematian Manuli

Manuli meninggal dunia pada 2 November 1973. Kematiannya tragis, sekaligus puitis. Ajal menjemputnya pada sebuah subuh, ketika menyeberang sungai Bulango.

Menurut keterangan keluarga, subuh itu Manuli ditemani cucunya, Rahim Puasa. Mereka hendak menyeberang sungai dari kampung Pilohayanga ke Tapa, untuk menjajakan nyiru dan tikar. Arus sungai itu cukup deras karena musim hujan. Namun Manuli tetap nekat melintasinya.

Sebelum menyeberang, cucunya berteriak “ Bapu, Podaha Molomoto,” (Kakek hati-hati, jangan sampai tenggelam.” Peringatan itu langsung dibalas Manuli “Da mobalango wopo wopoto,” (Jadi menyeberang perlahan-lahan).

Ketika menyeberang, arus sungai segera menyeretnya. Maut pun menjemput pelan-pelan. Yang ditemukan tinggal tubuh yang terbawa arus sungai Bulango hingga ke wilayah Telaga, perbatasan antara Kota Gorontalo dan Kabupaten Gorontalo.

Dialog berima antara cucu dan kakek itu, kemudian diingat banyak orang, tak terkecuali “Pa Kuni” Hasdin Danial.” Bayangkan, dalam keadaan seperti itu saja, Manuli masih sempat berkata-kata indah, itulah kata kata terakhirnya,” ujar Pa Kuni. Saat kejadian itu, Pa kuni turut mencari jasad, bahkan mengayuh sepedanya hingga ke Telaga.

“ Saya merasa sangat kehilangan,” dia menghela nafas dalam-dalam.

Manuli disemayamkan di samping rumahnya, belakang pasar kamis, Desa Talumopatu yang setelah dimekarkan berganti nama menjadi desa Popodu, Kecamatan Tapa, Kabupaten Bone Bolango. Rumah peninggalan itu, kini ditempati oleh keluarga putri bungsunya, Saida Manuli.

Makamnya telah empat kali mengalami pemugaran. Pemugaran ini dibiayai RRI Gorontalo dan pemerintah daerah.

Akhir 2010 yang lalu, Manuli mendapatkan penghargaan dari kerukunan keluarga rantau asal Gorontalo “Lamahu” di Jakarta. Sebuah radio model antik diberikan kepada pihak keluarga sebagai tanda penghormatan kepadanya, tertulis di bawahnya “Dipersembahkan kepada: Temey Manuli, kategori: karya Sastra Gorontalo”.

Keluarga Manuli juga sempat didatangi oleh beberapa orang, mengaku dari pemerintah. Mereka membawa secarik kertas dan minta tanda tangan.

“Tidak usah dibaca, ibu tanda tangan saja,” begitu Saida menirukan. Hingga kini Saida tak tahu apa maksud semua itu..

*Foto. Makam Manuli dan sebuah radio, tropi penghargaan dari Lamahu Award keluarga Gobel (Foto. Syam Terrajana)

 

DEGORONTALO | JURNAL KEBUDAYAAN TANGGOMO

Baca juga:

Ilabulo di Atas Bara (Cerpen Jamil Massa)

Kasimu Motoro, Kisah Moral Ayah yang Makan Anaknya

Risno Ahaya, Perawat Syair Gorontalo Di Tepi Zaman

Komunitas Sastra di Gorontalo Perlu Wadah Bersama Gerakan Kebudayaan

Leave a Reply

3 × 5 =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top