Mau Bermain Apa Hari Ini?

Anak-anak ketika bermain Jelajah Tangga-Tangga Nusantara – (DG/Perpus Taman)

Sentuhan tidak boleh, sentuhan tidak boleh, yang tertutup baju dalam, katakan tidak boleh, lebih baik menghindar, bilang ayah ibu …

Nyanyian seorang bocah di atas, terdengar ekspresif mengikuti Ibuuk. Mayesa Hafsah Kirana nama bocah perempuan dalam video yang sedang aku tonton.

Wajah Kirana, panggilan akrab bocah itu, kembali menghipnotisku agar segera menuntaskan video pendek tersebut.

Sementara yang disebut Ibuuk, adalah Retno Hening Palupi. Ia ibunya Kirana. Retno seorang penulis buku Happy Little Soul, yang juga aktif berbagi cerita tentang putri pertamanya, lewat unggahan video di akun Instagram-nya. Nama akun Instagram-nya: @retnohening. Tentu menarik perhatian bagi yang mengikuti pola asuh Retno.

Suara Ibuuk kembali terdengar pada lirik lagu berikutnya. Pertanyaan mulai bermain di pikiranku, “Pesan apa lagi yang ingin disampaikan Ibuuk, ya?”

Lewat gerak dan lirik lagu menarik itulah, Ibuuk mengajarkan Kirana menjaga diri dari perilaku kekerasan dan kejahatan seksual terhadap anak-anak.

Bernyanyi dan bermain adalah pendekatan menyenangkan. Terlebih ketika kita hendak mengajari anak. Bila usia anak semakin bertambah, cara berpikir mereka pun semakin kreatif.

Elizabeth Hurlock, seorang pakar psikolog dan penulis buku Child Growth and Development, menjelaskan pengertian bermain. Menurutnya, bermain adalah setiap kegiatan yang dilakukan untuk kesenangan yang ditimbulkan, tanpa mempertimbangkan hasil akhir.

Apakah terpikir oleh Anda, konsekuensi yang mempengaruhi anak setelah bermain? Seberapa pedulikah Anda, terhadap impact sebuah permainan? Nah, bagaimanakah cara menyajikan kolaborasi permainan yang mendidik?

Sederet pertanyaan di atas bisa terjawab dengan permainan kreatif, lewat pendekatan literasi kepada anak.

Mengapa harus pendekatan literasi?

Menurut kamus online Merriam-Webster, literasi berasal dari istilah latin literature dan bahasa Inggrisnya letter. Literasi merupakan kualitas atau kemampuan melek huruf/aksara, yang di dalamnya meliputi kemampuan membaca dan menulis. Namun lebih dari itu, makna literasi juga mencakup melek visual yang artinya “kemampuan untuk mengenali dan memahami ide-ide yang disampaikan secara visual (adegan, video, gambar).”

Nah, itulah alasan mengapa pendekatan literasi penting. Karena penyaji informasi akan berpikir lebih kreatif, untuk menyajikan informasinya, sehingga dapat dipahami oleh yang menikmati sajian informasi tersebut.

Untuk Anda yang peduli kualitas generasi bangsa, mulailah berpikir kreatif lewat pendekatan literasi dalam menyajikan permainan kepada anak-anak. Sehingga bermanfaat bagi siapa saja yang melihat, mencoba, dan melakukan permainan yang disarankan.

Bukan hanya itu, membaca adalah poin yang tidak kalah penting, untuk membantu kita menemukan ide.

Keceriaan anak-anak ketika bermain – (DG/Perpus Taman)

Berikut salah satu permainan kreatif, yang bisa menambah referensi Anda.

Nama permainan ini: Jelajahi Tangga-Tangga Nusantara, created by Perpus Taman (pernah menjadi salah satu permainan di Festival Anak Gorontalo).

Ada delapan poin panduan permainan ini. Pertama, permainan ini efektif dilakukan paling lama 45 menit, untuk mencegah rasa bosan pada pemain pemula.

Kedua, permainan ini dilakukan secara kelompok untuk menambah semangat bermain, sambil belajar per seorangan. Ketiga, permainan ini diawali dengan menyebut nama 34 provinsi di Indonesia, yang iramanya disesuaikan dengan lagu Anak Kambing Saya (bisa ditemukan di youtube).

Keempat, dadu dilempar oleh pendamping, dan peserta berlomba menjulurkan tangan untuk menjawab nama ibu kota dari masing-masing provinsi.

Kelima, bagi peserta yang bisa menjawab nama ibu kota, maka diberi kesempatan untuk melangkah sesuai poin dadu. Selanjutnya yang keenam, bila peserta belum mengingat nama ibu kotanya, pendamping akan membantu menyebutkan kembali nama ibu kotanya tersebut. Dengan ketentuan, peserta tidak dapat melangkah ke provinsi tersebut (tujuannya, hanya untuk mengingatkan kembali).

Ketujuh, permainan lempar dadu dilakukan secara terus menerus untuk memperoleh pemenang. Dan yang terakhir, kedelapan, pemenang adalah pemain yang bisa mencapai angka ke-34 dari jumlah provinsi, atau siapa yang langkahnya paling jauh, apabila waktu telah habis.

Mudah kan? Yuk! berpikir kreatif menyajikan permainan edukatif lewat pendekatan literasi.

 

Oleh Sartini Kartikasari (Salah satu pegiat literasi di Perpus Taman, Kota Gorontalo).

Kristianto Galuwo
Sigidad. Duda berputri satu-satunya bernama Sigi. Sering sial seperti Donal Bebek, karena itu dirajahi tato Donal Bebek di lengan kanan sebagai segel anti sial. Suka sekali makan ayam bakar/goreng/santan apalagi yang dibumbui sejumput puisi. Bisa disapa di facebook: Kristianto Galuwo dan diterawang di blog Getah Semesta.
http://sigidad.blogspot.co.id/

Leave a Reply

five × four =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top