You are here
Home > Berita Pilihan Editor > Memori Kuliner Gorontalo, Mengenang Tawa dan Air Mata Kita

Memori Kuliner Gorontalo, Mengenang Tawa dan Air Mata Kita

DEGORONTALO – Tiba-tiba suasana menghening. Semua pasang mata tertuju pada seorang perempuan berpakaian hitam dipadu jilbab kecoklatan. Suaranya bergetar. Dia duduk di deret kursi kedua pada acara diskusi kecil itu.

Debby Mano, perempuan itu, diberi kesempatan bicara oleh pemandu acara, Agus Lahinta. Debby yang biasanya semangat bercerita soal kegemasannya dalam menulis jenis-jenis kuliner Gorontalo, terutama pada acara bertema kuliner semacam ini, di luar dugaan saya, malam itu menjadi “melankolis”. Maklum, saya cukup kenal baik jurnalis perempuan dari kantor berita ANTARA ini sejak pertama kali terjun sebagai buruh media.

“Ketika saya menikah dulu, ibu mertua saya termasuk banyak yang menjelaskan mengenai prosesi adat yang harus dijalani. Waktu itu saya merasa banyak ribetnya. Namun malam ini saya merasa tercerahkan. Saya merasa ingin kembali melakukan prosesi adat itu lagi…”

Sampai di sini, kalimat Debby terhenti karena celetukan dari peserta diskusi lainnya langsung membahana. Macam-macam bunyinya. Tentu saja diselingi dengan tawa.

“Maksudnya, ingin menikah lagi?”

“Debby ingin merasakan menikah lagi!!!” lontar yang lain

Tapi, tawa peserta diskusi malam itu perlahan redup. Sebabnya, Debby tiba-tiba menangis. Mula-mula wajahnya terlihat memerah, tak lama air mata menyusul. Agus Lahinta sigap menyodorkan tisu. Tapi ada yang menganggap Debby sedang berakting.

Sejawat saya, Syam Terrajana yang tadinya merokok di luar ruangan, ternganga ketika masuk, demi   melihat raut Debby malam itu. Barangkali bagi Syam, ini pemandangan aneh selama berkawan dengan Debby.Perempuan yang dikenalnya suka senda gurau, tukang bakusedu.

Tangis Debby bukan tanpa sebab. Bukan karena ia merasa dikerjain oleh peserta diskusi lain. Tapi, saya menangkap ada perasaan bersalah dalam dirinya. Itu ketika kenangannya berkelindan pada awal mula ia menikah.

Suaminya, Ismail Giu, dulu adalah jurnalis televisi di Trans 7, dan kini bekerja sebagai abdi Negara. Mereka punya anak laki-laki, Alil nama panggilannya.

Debby merasa tercerahkan setelah mendengarkan penjelasan D.K Usman,tokoh adat Gorontalo yang turut hadir dalam diskusi itu. Malam itu Debby merasakan betul makna petuah mendiang mertuanya, mengenai tata cara adat saat dirinya menikah dulu. Sebuah hal yang dianggapnya ribet dan buang-buang waktu.

Di sinilah titik kesedihannya itu. Mengenang petuah sang mertua yang telah meninggal sejak beberapa tahun lalu. Membuat kata-katanya tersendat. Debby pun tak mampu membendung air matanya.

D.K Usman, sebelumnya menjelaskan perihal makanan khas Gorontalo yang berkait erat dengan berbagai prosesi. Seperti acara sunatan, pernikahan, atau bahkan kematian. Untuk acara memperingati kematian, ada yang khas di Gorontalo, yaitu bako hati.

Isinya beberapa jenis kue bersama uang koin. Kata D.K Usman, bako hati ini artinya adalah “kotak kerinduan” atas orang yang telah meninggalkan kita untuk selama-lamanya. Saya rasa, inilah yang membuat air mata Debby meleleh.

***
Kesedihan Debby agaknya telah menjadi pangkal cerita untuk kembali pada memori peserta diskusi fokus lainnya yang berjumlah sekitar 15-an orang itu. Tajuk diskusi ini diberi nama “Jejak Kuliner Gorontalo, Merekam Fakta dan Kisah Masa Lalu”. Sesuatu  terkait dengan masa lalu, bisa jadi duka ataupun suka.

Diskusi fokus ini merupakan hajatan dari Omar Niode Foundation yang diampu oleh Amanda Katili. Tempatnya pun digelar sederhana pada sebuah ruang tamu di kediaman keluarga dari putri ilmuwan Jhon Aryo Katili ini.

Ini adalah rumah tua beraksen kolonial. Setiap sudut rumah itu menyimpang banyak cerita lantaran banyak foto-foto “jadul” terpajang. Gambar-gambar  manusia pada awal tahun 1900-an. Catnya dominan putih. salah satu foto adalah  empat orang Jogugu berpakaian setengah eropa, memakai penutup kepala semacam mahkota, jas panjang hitam, dan kain warna putih yang terikat di pinggang.

Kata Amanda Katili, dua orang di tengah itu adalah Rais Monoarfa dan Zakaria Wartabone. Pembesar Gorontalo itu tak lain adalah kakeknya, dan juga kakek dari suaminya. Foto para Jogugu ini kemudian menjadi latar dalam slide yang ia presentasikan mengenai kuliner Gorontalo.

Seperti yang selalu Amanda Katili sampaikan, makanan tidak hanya sebagai pemenuhan rasa lapar saja. Dalam pemaparan malam itu, ia ingin menjadikan kuliner Gorontalo sebagai identitas untuk menyelami masa lalu dengan berbagai macam pendekatan, semisal budaya atau sejarahnya. Intinya bahwa makanan Gorontalo tidak berdiri tunggal atau hanya berhenti pada proses dan resepnya saja, melainkan ada narasi besar di belakangnya yang harus diungkap.

Hadir dalam diskusi fokus ini beberapa orang yang berkompeten dan menjadi “tokoh” di Gorontalo. Yang menarik, diskusi ini telah mempertemukan orang-orang yang sebelumnya berdebat panas mengenai isu-isu kekinian Gorontalo di dunia maya, lalu saling berhadap-hadapan, kopidarat dan malah  bercerita soal makanan.

Perdebatan di Facebook itu sebelumnya berlangsung “panas” di  grup bernama “Gorontalo Menggugat” yang digawangi oleh Thariq Modanggu, akademisi dari IAIN Sultan Amai Gorontalo.

Orang yang paling “dicari” malam itu adalah Hardi Nurdin. Konon, dialah salah satu yang membuat grup “Gorontalo Menggugat” menjadi panas dan ramai notifikasi. Apa-apa yang menjadi pembahasan pasti tidak lari dari kata “menggugat”. Dari hal yang remeh-temeh sampai yang paling substansial mengenai gejala sosial di Gorontalo.

“Bapak pasti Hardi Nurdin?” tanya saya, sebelum diskusi dimulai.

“Iya, betul.”

Hardi Nurdin menjawabnya dengan tertawa. Melihat wajahnya langsung sembari tertawa, saya teringat sampul buku “Muhamad Yamin dan Cita-cita Persatuan”.

Saya merasa Hardi Nurdin seperti Muhamad Yamin diusia 40-an. Yang wajahnya konon adalah cikal-bakal lahirnya tokoh fiksi Gajah Mada dengan konsep Sumpah Palapa dan Majapahit-nya. Ada yang bilang malah, Indonesia hari ini tidak lain adalah Indopahit, jelmaan dari Majapahit. Karena imajinasinya itu, Muhamad Yamin berhasil membuat sejarawan sulit membedakan mana cerita fiktif dan mana cerita fakta mengenai Indonesia. Apalagi celakanya, Muhamad Yamin pernah menjabat sebagai menteri pendidikan. Bisa dibayangkan bagaimana cerita fiktif itu masuk dalam kurikulum pendidikan.

Tapi sejatinya,  Hardi Nurdin  adalah seorang filsuf. Dia, kata Funco Tanipu, adalah seorang sarjana filsafat. Hardi katanya orang pertama di Gorontalo yang menyandang gelar filsuf tersebut. Tentu saja hal ini harus diverifikasi lagi. Karena ada sekitar 1,3 juta lebih penduduk Gorontalo. Belum lagi ada yang bilang 2 jutaan lebih orang Gorontalo hidup di perantauan.
Ketika didapuk oleh host untuk bicara, Hardi Nurdin langsung bercerita, dengan gaya filsufnya.

“Ini penampilan live perdana saya. Saya sebenarnya tidak diundang oleh Ibu Amanda di acara ini. Saya hanya diundang oleh Pak Thoriq Modanggu.” ujarnya disambut derai tawa hangat paa hadirin.

Kalimat awalnya itu memang banyak mengundang tawa peserta diskusi lainnya. Sedikit lama menjelaskan, ia lalu bercerita orang Gorontalo yang kaya akan kosakata, baik rasa maupun bunyi, sembari mempraktekannya langsung. Hardi lalu membandingkan dengan orang Betawi yang ketika ditanya soal rasa permen pada sebuah iklan, tidak mampu menjelaskan apa rasa dari permen tersebut.

“Ketika ditanya apa rasa permen itu, mereka hanya menjawab, ‘Rasanya gimana,..gitu’. Nah, itu artinya kosakata soal rasa itu tidak ada.”

Selain soal makanan, ada juga yang bicara soal kopi Pinogu. Dia adalah Sekretaris Daerah Kabupaten Bone Bolango, Ishak Ntoma, dan Nurdin Maini, warga sekaligus sebagai ketua Asosiasi Kopi Pinogu. Menurut mereka, kopi Pinogu dibawa langsung oleh Belanda tahun 1870-an dan ditawarkan kepada Raja Tangahu ketika itu supaya ditanam warga di hulu sungai Bone. Jenis kopinya adalah Liberica, namun tahun 1970-an mulai dikembangkan jenis kopi Robusta.

“Kalau di tempat lain hanya ada kebun kopi, namun di Pinogu kami menyebutnya hutan kopi,” kata Ishak Ntoma.

“Kalau ada yang membeli kopi Pinogu, itu artinya ikut menjaga hutan, menjaga lingkungan,” ujar Nurdin Maini.

***
Imam Prasodjo, dalam pengantar buku “Jejak Kuliner Indonesia”, pernah bilang bahwa jika ingin menjelajah budaya di Indonesia, maka pintu gerbang yang harus dilalui adalah merasakan beragam masakan yang tersedia dengan segala aroma, rasa, dan fantasi yang tercipta. Sosiolog dari Universitas Indonesia ini mengatakan kalau ingin mengenali Indonesia, mustahil tanpa mengenali dan merasakan beragam jenis masakan yang tersedia.

Di Gorontalo, makanan yang telah menjadi mainstream dengan narasi besarnya adalah Ilabulo dan Binde Bilihuta, meskipun serangan makanan dari luar telah membuat dua maskot kuliner Gorontalo ini menjadi kian terpinggirkan, semisal makanan fast food yang banyak disediakan di Mall. Bukan tidak mungkin, ketika jenis kuliner dari Gorontalo ini hilang, maka sejurus kemudian identitas Gorontalo perlahan akan hilang pula. Jika demikian adanya, sepertinya sulit rasanya merasa bangga sebagai orang Gorontalo.

Ini bisa jadi sesulit mendapatkan jawaban ketika mengajukan pertanyaan, sejak kapan bindu biluhuta dan ilabulo itu ada?
D.K Usman, tokoh adat yang malam itu mengenakan peci putih dan syal putih, bahkan mengatakan bahwa ada satu jenis penganan yang tidak banyak dikenal lagi, yaitu sagu yang telah dimasak pakai santan dan warnanya hijau. Dari cerita ini, orang mulai tergugah. Bahwa ternyata ada banyak kekayaan kuliner dari Gorontalo.

Sebagaimana pada pertemuan malam itu dalam diskusi Jejak Kuliner Gorontalo, banyak memori yang terkuak dari para peserta. Misalkan Arifasno Napu. Pakar gizi ini banyak bercerita mengenai kearifan lokal masyarakat Gorontalo dahulu kala dalam membuat resep makanan, yang jika dilihat dari aspek gizinya, ternyata semuanya memiliki manfaat untuk kesehatan dan fungsi kekebalan tubuh.

Ini pula yang ia jelaskan ketika ada orang yang menikah, anak sunatan atau be’at, atau ketika sedang sakit, maka jenis kuliner yang disajikan akan berbeda sesuai dengan kebutuhan; untuk meningkatkan stamina atau menyembuhkan rasa sakit.

Thoriq Modanggu pun bercerita hal yang sama. Semasa kecilnya, secara jantan ia menegaskan bahwa ia adalah seorang tukang cukur kelapa yang handal, dan bisa meremas kelapa dengan baik, hingga menghasilkan kuah santan yang lezat. Malam itu ia menyebut teknik-teknik mencukur kelapa yang baik dan benar. Dalam kosmologi berpikir kebanyakan orang Gorontalo, mencukur dan meremas kelapa adalah tugas perempuan.

“Waktu saya kecil diajarkan oleh ibu saya bagaimana meremas kelapa. Caranya, meremas dengan jempol ibu jari yang dibalik ke bawah. Lalu air kelapa itu akan mengalir lewat ibu jari.”

Ada juga Rahman Dako, aktivis lingkungan Gorontalo. Semasa kecilnya di Bongomeme, ia bercerita bagaimana orang-orang di daerahnya seperti aneh merasakan ikan laut, karena lebih banyak mengkonsumsi ikan-ikan danau sebagai pemenuhan gizi. Untuk merasakan ikan laut, mereka membutuhkan waktu yang lumayan lama, yang biasa dibawa oleh pamannya dari Batudaa Pantai. Begitu pun sebaliknya, orang Batudaa Pantai yang jarang merasakan ikan danau.

“Ini faktor geografi. Kami waktu itu tidak terbiasa makan ikan laut.”

Kegelisahan dalam melihat masa depan kuliner Gorontalo diungkapkan oleh Dewi Dama dan Funco Tanipu. Keduanya adalah akademisi Universitas Negeri Gorontalo. Dewi bercerita bagaimana anaknya di sekolah ketika ada pelajaran tata boga, ternyata banyak makanan cepat saji yang mendominasi meja makan.

Pun dengan Funco, yang bercerita mengenai konteks kekinian. Secara garis besar ia ingin menyampaikan bahwa begitu banyak kemudahan makanan dari luar masuk dengan modal yang sangat besar, hal ini akan berdampak di masa akan datang. Di mana pada konteks tahun 2030, merupakan usia produktif dari generasi Gorontalo. Namun ia memprediksi generasi Gorontalo akan kalah secara fisik karena banyak mengkonsumsi junk food.

Syam Terrajana, di ujung diskusi bercerita tentang memorinya meliput berbagai peristiwa keracunan makanan di Gorontalo. Isu yang dia kemukakan  bukan  hanya soal higienitas. Tapi juga bagaimana media turut memainkan peran dalam pergeseran nilai -nilai kuliner Gorontalo.

Banyak orang Gorontalo tergiur dengan propaganda iklan bumbu masakan instan, menggunakan  bahan pewarna buatan pada berbagai kuliner, nasi kuning atau penganan lain misalnya. Juga ikhwal santan kelapa murni –  bahan utama pada sejumlah kuliner Gorontalo- yang kini diganti dengan santan kemasan. menurutnya hal itu sesuatu yang ironis mengingat  Gorontalo adalah salah satu daerah penghasil kopra. Negeri nyiur melambai.

Pada diskusi ini, juga turut hadir Gunawan Widjaja, kurator Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA) yang berbagi pengalamannya seputar Food Photography. Mas Gun, demikian dia biasa disapa, bercerita bahwa foto kuliner bukan hanya persoalan makanan belaka, tapi juga soal kehidupan manusia dan kebudayaannya. Bahwa dalam kuliner, kita tidak hanya dapat menikmati cita rasanya, tapi juga mengecap tata cara dan nilai kehidupan masyarakatnya.

Saya merasa, pertemuan Sabtu malam itu, 21 Maret 2015 di Jalan Ahmad Yani nomor 4, merupakan acara pertama yang dikemas secara serius namun hangat  oleh Omar Niode Foundation. Ada banyak memori yang diceritakan oleh peserta diskusi, baik yang dikemas secara lucu maupun sedih, yang kesemuanya berpangkal dari kuliner Gorontalo.

Jejak-jejak kuliner Gorontalo memang sedari sekarang harus dilacak agar tidak lagi menjadi memori sedih yang akan diceritakan kembali kepada generasi Gorontalo mendatang.

*Suasana diskusi jejak kuliner Gorontalo, yang digelar di kediaman keluarga besar Amanda Katili, Sabtu malam (21/3). FOTO Omar Niode Foundation.

CHRISTOPEL PAINO

Baca juga:

Ilepa’o, Kuliner Penambah Kebahagian di Akhir Pekan

Ingin Bergaul Lewat Makanan? Inilah Diplomasi Kuliner Gorontalo

Menemukan Cita Rasa Ideal Kopi Pinogu Menurut Pakar

(Visited 507 times, 1 visits today)

Leave a Reply

twenty + fourteen =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top