Mempertanyakan Keaslian Rumah Panggung Gorontalo

Rumah panggung di Desa Dunggala, Kecamatan Tapa, Kabupaten Bone Bolango. Rumah ini dibangun pada tahun 1835. Foto: Febriandy Abidin
Rumah panggung di Desa Dunggala, Kecamatan Tapa, Kabupaten Bone Bolango. Rumah ini dibangun pada tahun 1835. Foto: Febriandy Abidin

Pada sebuah siang di Kabupaten Bone Bolango. Rumah tua bercat putih dipadu biru langit berdiri di antara pepohonan rindang. Letaknya di Desa Dunggala, Kecamatan Tapa. Rumah itu dibangun pada tahun 1835. Pemiliknya seorang lelaki kelahiran 1940 bernama Mas Katili. Ia merupakan generasi ketiga penghuni rumah panggung dari keturunan Talani.

“Lihat, rumah ini hampir roboh,” kata Mas Katili.

Sejak pertama kali dibangun, rumah itu katanya belum pernah direnovasi. Atapnya berarsitektur Eropa. Sementara rumah ini hanya dibangun dengan satu batang pohon. Katanya, ada beberapa tiang yang terbuat dari besi namun diambil Jepang, ketika menjajah Gorontalo. Tujuannya untuk kepentingan perang.

“Selebihnya tak ada yang berubah dari bentuk rumah ini.”

“Rumah ini dinamakan Bele Botu. Karena rumah panggung pertama yang menggunakan bahan dasar batu atau beton,” ungkapnya.

Nurnaningsih Abdul, peneliti sejarah arsitektur dari Universitas Negeri Gorontalo (UNG) mengatakan,  arsitektur rumah panggung seperti milik Mas Katili bukan lagi asli desain Gorontalo. Bahkan untuk rumah adat itu sendiri. Sebab rumah peninggalan zaman dulu yang ia temui, hanya dibangun pada tahun 1890 hingga 1930-an.

“Karena berdiri pada tahun 1890, maka terindikasi dibangun berdasarkan tradisi arsitektur vernacular. Namun dibalik mirisnya keadaan ini, orang Gorontalo masih bisa berbangga diri. Karena keberadaan sisa-sisa peninggalan masa lalu masih bisa terlihat,” katanya.

Saya mewawancarai Nurnaningsih di loby hotel Damhil UNG. Ia menjelaskan kepada saya apa itu tradisi arsitektur vernacular, yang artinya adalah desain arsitektur lokal yang telah mengalami pencampuran budaya luar. Seperti budaya Cina, Arab dan bangsa kolonial. Serta pembangunannya sudah menggunakan material modern.

Untuk peradaban berarsitektur di Gorontalo, katanya, dimulai sekitar abad ke 5, sebelum zaman kolonial. Waktu itu pusat-pusat pemerintahan seperti istana, berdiri megah di dataran Gorontalo. Namun sangat disayangkan, jejaknya tak lagi ditemukan.

“Penyebab hilangnya istana raja di Gorontalo pun, lebih sering diperoleh melaluli penuturan para orang tua. Mereka mengatakan dahulu Gorontalo mengalami bencana alam, seperti banjir besar yang menghantam, hingga meluluh-lantahkan istana raja. Namun pernyataan itu, hingga kini belum bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah,” katanya.

Menurutnya, jika yang masih tersisa tidak dipertahankan gaya berarsitektur rumah panggung, maka dalam 20 tahun ke depan akan hilang dari peradaban. Padahal jika menoleh ke belakang, ada kisah luar biasa di Gorontalo. Karena pada awal pembentukan kelompok masyarakat Gorontalo, berasal dari Lembo’a menjadi Linula, kemudian Lipu hingga Pohala’a. Ia mengutip penjelasan itu dari buku almarhumah Farha Daulima, tentang terbentuknya Kerajaan Limboto dan Gorontalo.

“Peradaban desain arsitektur Grontalo besar dipengaruhi pergeseran zaman. Sebab daerah ini didatangi bangsa luar, seperti seperti Cina Arab dan pengaruh kolonial.”

Usai menemui Nurnaningsih, saya mendatangi sejarawan asal UNG Jhoni Apriyanto. Dibalik meja kerjanya, dosen berkumis tebal itu menjelaskan, sekitar abad ke 5 hingga 16, Gorontalo mengalami zaman sebelum kolonial. Di abad itu juga, bangsa Cina dan Arab sudah berada di Gorontalo. Cina masuk abad 14, dan Arab masuk abad ke 15.

“Tepatnya pada tahun 1677, Verenigde Oos Indische Compagnie (VOC) masuk Gorontalo. Kemudian tahun 1856, VOC berganti ke sistem pemerintahan langsung yang dinamakan kolonial Belanda. Zaman itu bertahan hingga kemerdekaan di tahun 1945. Namun untuk Gorontalo 1942 sudah masuk kemerdekaan,” kata Jhoni.

Identitas Gorontalo hilang

“Gorontalo punya gejala akan kehilangan identitas khas daerah. Khususnya di bidang arsitektur. Bahkan di tahun 2007, belum ada penelitian gaya arsitektur Gorontalo yang dilakukan. Yang ada hanyalah penelitian tentang arsitektur Jawa Tondano yang berlokasi di Kampung Jawa, Kabupaten Gorontalo,” ungkap Nurnaningsih.

Karena keperihatinannya, Nurnaningsih memilih meninggalkan kosentrasi arsitektur lanskap (arsitektur pertamanan), dan memutuskan mengambil sejarah arsitektur Gorontalo. Padahal arsitektur lanskap sudah ia tekuni sejak menyelesaikan pendidikan S1 di Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar. Sementara untuk menyelesaikan gelar masternya, ia memilih sejarah arsiterktur Gorontalo. Dan pada tahun 2009 ia berhasil mendapatkan gelar tersebut, sembari menjadi dosen arsitektur di UNG.

Nurnaningsih menyebutkan bahwa ia baru akan memulai untuk menemukan kesejatian arsitektur Gorontalo.

“Kesejatian di sini adalah, arsitektur tradisional Gorontalo yang sebenarnya itu seperti apa? Seperti yang saya sebutkan di awal. Bahwa rumah panggung yang kita lihat sekarang dan masyarakat tahu itu adalah rumah tradisional Gorontalo. Padahal itu sebenarnya sudah bukan aslinya lagi,” tegasnya.

Menurutnya dari gaya berarsitektur memang sudah mengalami pencampuran budaya. Namun ada rumah panggung yang masih memiliki filosofi Gorontalo.

Di Gorontalo, katanya, rumah panggung disebut Bele Molanggato. Dan itu terbagi atas dua jenis; berbentuk panggung dan yang tidak tidak berbentuk panggung dengan gaya berarsitektur sama. Keduanya sudah mengalami pencampuran budaya. Akan tetapi pada bentuk panggung, masih memiliki makna filosofi adat istiadat budaya Gorontalo.

Ciri Rumah Panggung Gorontalo

Secara garis besar, Bele Molanggato masih memiliki makna filosofi yang dapat dilihat dari bentuknya, baik secara vertikal dan horizontal. Untuk vertikal terbagi atas tiga. Yaitu ruang bawah/kolong (Walungo Bele) dengan ketinggian bervariasi. Kedua ruang tengah (Pongawa’a Lo Bele) dengan fungsi hunian. Sementara ketiga ruang atas di bawah atap (Watopo) atau loteng. Dahulu itu berfungsi sebagai gudang, kini sudah tidak difungsikan.

Untuk horizontal kata Nurnaningsih terbagi atas tiga. Pertama bagian petak atau teras depan. Orang Gorontalo menyebutnya Hihibata atau surambe. Kalau untuk bagian ke dua,-dalam pembagian vertical disebut ruang hunian,-terdiri dari petak pertama sebagai ruang tamu dan petak dibelakangnya sebagai kamar tidur. Umumnya kamar tidur itu berjumah ganjil, antara 3, 5 atau 7. Susunannya ke belakang dan saling berhadapan.

Karena berjumlah ganjil, dengan sendirinya satu kamar tidak memiliki kamar lain untuk saling berhadapan. Untuk itu, satu sisanya ada yang diletakan pada ruang peralihan menuju dapur. Pada kamar ini pula, tangga menuju loteng diletakan. Sementara yang dimaksud dengan ruang peralihan adalah yang disebut ruang belakang sebelum dapur atau dulawonga dalam penyebutan orang Gorontalo.

Sementara jika dilihat dari struktur dan bahan bangunan. Terdiri dari bagian bawah, yakni kolong rumah dengan tiang yang tersusun dari batu bata. Untuk bagian badan rumah terdiri dari lantai dengan material kayu. Namun Nurnaningsih mengaku, ada juga rumah yang ia temui lantainya sudah menggunkan keramik.

Pada keseluruhan rumah yang ditelitinya sudah memiliki dinding dan plafon dengan material kayu. Dan masih asli sejak pertama dibangun. Sementara sambungan dari badan rumah tersebut menggunakan sistim pasak. Artinya tidak menggunkan paku sebagai penyambung.

Untuk struktur bagian atas bangunan, sebagian besar kata Nurnaingsih menggunakan kayu. Dengan konstruksi kuda-kuda yang kemudian ditutupi seng. Dimana pada bagian ini kebanyakan desainnya belum berubah sejak pertama kali dibangun.

Untuk model atap, Nurnaningsih mengaku menemui model perisai pada sebagian kasus. Sebagian lainnya adalah gabungan perisai dan pelana yang bersusun dua dan ada yang tidak. Bahkan pada sebagian atap rumah ada yang berbentuk segitiga dengan kemiringan sekitar 30 derajat. Di situ terdapat jendela kecil atau ventilasi dengan jumlah bermacam-macam. Ada hanya satu jendela hingga tiga.

“Dengan desain seperti itu, berfungsi memberikan udara pada ruang bawah atap. Secara pasti mampu memberikan kesejukan bagi penghuninya. Sementara untuk bentuk pada pintu dan jendela berbentuk jalusi. Pada beberapa kasus berbentuk papan yang dipasang berjejer secara vertikal,” katanya.

Untuk sistim peletakan tangga, ada yang diletakan berhadapan pada bagian kiri dan kanan rumah. Sebagian lainnya hanya satu tangga. Letakna tepat ditengah badan rumah dan tegak lurus dengan pintu masuk. Jumlah tangganya bervariasi. Antara lima hingga tujuh disesuaikan dengan tinggi rumah.

Ia mengaku menemukan hiasan rumah pada pinggiran lisplank atau bis yang ada pada atap. Lainnya terdapat pada ventilasi pintu dan jendela. Secara umum merupakan garis yang diawali bentuk sederhana. Berupa garis-garis lurus bersilang. Kemudian berkembang dengan berbagai variasi bentuk geometris.

Berdasarkan penelusurannya, Nurnaningsih mendapati bahwa sebagian besar bangunan berdiri sendiri. Yakni bangunan induk termasuk teras, ruang tamu dan ruang tidur, sengaja dibangun secara terpisah dengan dapur, sumur, kamar mandi atau wc.

Sementara pada beberapa kasus, ditemukan penentuan ketinggian rumah. Antara lantai dan plafon tidak kurang dari tiga dan tidak lebih dari lima meter. Sedangkan ketinggian antara lantai dan bumbungan tidak boleh lebih dari tujuh meter.

“Adapun gaya berarsitektur seperti itu, tidak membutuhkan pendingin udara tambahan. Dengan begitu desain arsitektur Bele Molanggato mampu menahan lajunya pemansan global, serta sangat sesuai dengan daerah tropis seperti Gorontalo,” katanya.

Penelitiannya ini akan terus digali demi mendapatkan kesejatian gaya berasitektur orang Gorontalo. Sehingga identitas dan jari diri orang Gorontalo bisa tergambar dari cara mereka berarsitektur.

“Saya sudah memulai dan berharap bantuan informasi terkait penelitian ini nantinya. Kendala pada penelitian sebelumnya karena kurangnya informan, serta narasumber yang mengetahui sejarah ini secara pasti. Namun kami di UNG tetap komitmen untuk menelusuri dari apa saja yang sudah diperoleh saat ini. Jika tak dimulai, sejarah ini hanya tinggal cerita yang lambat tapi pasti hilang dari ingatan anak cucu. Salah satu yang dilakukan sekarang adalah komitmen bersama untuk menjaga yang sudah ada. Meski gaya berarsitektur rumah panggung di Gorontalo sudah mengalami pencampuran budaya,” tandas Nurnaningsih.

Tanggapan Dewan Adat

Ketua Duwango Adati Lo Hulondhalo atau Ketua Dewan Adat Gorontalo, Karim Pateda tak menampik kebenaran penelitian Nurnaningsih. Menurutnya itu bisa saja terjadi, namun pencampuran itu bukan pada keseluruhan dari desainnya.

“Pada pembangunan itu mungkin saja terpengaruh dari bangsa kolonial. Untuk menambah atau mengurangi desainnya. Tapi tidak merubah bentuknya,” kata Karim Pateda.

Selaku ketua dewan adat, Karim menambahkan bahwa bele di Gorontalo terbagi atas dua; Bandayo Poboide dan Yiladia. Sementara Bandayo Poboide itu katanya, memiliki fungsi sebagai tempat pertemuan dan memutuskan peraturan adat atau dipakai dalam acara pernikahan keturunan raja. Kalau Yiladia adalah rumah tinggal raja.

“Secara fisik, kedua bangunan itu tampak sama. Yang beda hanyalah fungsi dan isi dari bangunan tersebut. Dengan begitu, dapat dibuktikan bahwa bangunan Bandayo Poboide punya ruang tengah yang luas. Serta dua kamar dibagian belakang dengan fungsi sebagai tempat rias pengantin. Sementara Yiladia memiliki ruang tengah yang tak begitu luas. Karena di dalamnya sudah terdapat beberapa kamar tidur untuk raja dan para selirnya, jika raja menikah lebih dari satu.”

Dengan penjelasan itu, Karim menyatakan bahwa bangunan Dulohupa yang berada di Kota Gorontalo itu sebenarnya bernama Bandayo Poboide. Sementara bangunan yang berada di Kota Limboto itu adalah Yiladia atau rumah raja. Dengan melihat bentuk ruang tengah dan fungsinya.

“Meski mengalami pencampuran budaya, namun kedua bangunan itu adalah milik Gorontalo,” tandasnya.

Budayawan Gorontalo Alim Niode menambahkan, struktur dari rumah panggung masih asli. Namun kedepannya bisa saja ada perubahan. Tetapi nilai dari adatnya masih dipertahankan. Maka sejauh perubahan itu terjadi, hanya berkisar pada tampilan luar saja. Sementara struktur utama untuk tata ruang, belum ada perubahan.

“Namun saya berharap, agar masyarakat Gorontalo mengetahui pasti perubahan itu. Sehingga tidak tenggelam pada arus perubahan. Pegangannya ada pada nilai budaya yang telah teruji menyejarah,” ungkapnya.

Febriandy Abidin

Leave a Reply

one × four =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top