You are here
Home > Bumi Manusia > “Mengapa Aku Begini ? (Pengakuan Biseks Gorontalo)

“Mengapa Aku Begini ? (Pengakuan Biseks Gorontalo)

 

"Kak, Aku Cantik Sampai Sedih." (Oilpastels on A4 Paper) karya Syam Terrajana
“Kak, Aku Cantik Sampai Sedih.” (Oilpastels on A4 Paper) karya Syam Terrajana

 

DEGORONTALO – Belum lama ini, degorontalo.co berkesempatan melakukan wawancara ekslusif dengan empat mahasiswa biseks di sebuah Perguruan Tinggi di Gorontalo. Tiga di antara mereka mengaku mengalami perubahan orientasi seksual karena pernah mengalami pelecehan dan trauma pada masa lalu.

X , salah satu mahasiswa yang diwawancarai mengaku menjadi biseks ketika tahun pertama menjadi mahasiswa. Itu bermula pada suatu malam di tahun 2011, ketika dirinya berkenalan dengan salah seorang mahasiswa seniornya dari fakultas berbeda.

Singkat kata, keduanya cepat menjadi akrab, pada malam itu juga, sang senior meminta ijin dirinya agar dapat tidur bersama di kamar kost X. tanpa menaruh curiga sedikitpun, X pun mengizinkannya.

“Keesokan paginya, saya mendapati celana saya sudah melorot ke bawah, ketika saya tidur, dia mengoral saya,” ungkapnya.

Perasaan marah bercampur malu berkecamuk dalam dirinya, tapi X mengaku tidak bisa berbuat apa-apa, terlebih setelah seniornya itu mengancam akan memberitahukan apa yang terjadi pada malam itu kepada orang -orang terdekatnya.

Sejak saat itu, X mengaku orientasi seksualnya berubah, menjadi penyuka laki-laki dan perempuan. Kejadian serupa kembali terulang. Kali ini dengan senior mahasiswa lainnya. Pada suatu ketika, lanjutnya, keduanya berkesempatan mengikuti sebuah kegiatan mahasiswa di Jakarta.

L, mahasiswa seniornya itu, kemudian menawarkan dirinya untuk bersetubuh. Menurut X, hal itu terjadi begitu saja, hanya untuk kesenangan semata. “Kami melakukannya karena murni having fun saja,” kata dia.

Selanjutnya, dia terus berpetualang, X bahkan mengungkapkan pernah melakukan kontak seksual sejenis dengan salah satu dosen laki laki di kampusnya, juga dengan seorang dokter, pria yang sudah berkeluarga di Ibu kota Jakarta.

Dia mengaku mendapatkan jaringan seluas itu dari jejaring blackberry, X mengaku bahkan PIN smartphonenya itu telah tersebar luas melalui daftar broadcast, yang terang-terangan menyatakan bahwa daftar pemilik PIN sebagai pria biseks.

“Saya tidak tahu, siapa yang menyebarluaskannya, yang jelas, dari situlah jaringan terbangun, kami tersebar di seluruh indonesia dan berasal dari berbagai macam profesi, dokter, mahasiswa, guru agama, anggota TNI dan polisi, kami saling bertemu, dan jika cocok, maka hubungan dilanjutkan hingga ke hubungan seksual, baik terikat maupun sekedar having fun,” ungkapnya.

Di tengah-tengah situasi itu, dia mengaku kerap didera perasaan bersalah. Sebelumnya, dia mengaku merupakan laki-laki biasa yang hanya memiliki orientasi seksual pada perempuan..

Tapi X sendiri menduga, bibit-bibit biseksnya terpupuk sejak kecil, dia mengaku memiliki trauma dan perasaan benci kepada sang ayah, yang nyaris selalu pulang rumah dalam keadaan mabuk dan ringan tangan kepada ibunya.

X, yang merupakan bungsu dari delapan bersaudara itu, juga mengaku kerap dibully oleh kakak-kakaknya, setiap tindakannya selalu disalahkan. Kalau sudah begitu, ia selalu berlindung pada ibunya yang dianggapnya sebagai satu-satunya anggota keluarga yang bisa memberikan rasa aman.

Beberapa bulan belakangan, X mengaku tidak lagi menjalin komunikasi apapun dengan komunitas biseks, baik yang ada di Gorontalo maupun di luar daerah, dia menonaktifkan nomor seluler dan blackberrynya. Selain perasaan bersalah, dia mengaku takut tertular HIV.

“Salah satu rekan saya, meninggal karena HIV, dia disembunyikan oleh keluarganya yang malu, kondisinya sangat menyedihkan , tinggal tulang dibungkus tulang dan kelihatan sekali butuh teman bicara,” katanya,

Sebagai pengalih perhatian, dia mencari berbagai kesibukan. Kuliah atau bergabung dengan rekan-rekan lain di luar jaringan Biseks. Banyak rekannya mengetahui statusnya. X juga kerap membagikan kisahnya itu kepada rekan-rekannya.

“Saya pernah menceritakan kisah saya di hadapan teman-teman dan dosen dalam sebuah kelas, semuanya nyaris menangis, saya tidak ingin apa yang saya alami akan menjadi mereka, menjadi korban pelecehan seksual dan disakiti keluarga tidak boleh terjadi pada mereka,” katanya.

Sementara itu masih di kampus yang sama, tiga mahasiswa pelaku biseks lainnya membagikan kisah berbeda. Z, salah satu dari ketiganya misalnya mengaku, menjadi biseks karena terpengaruh lingkungan sekitar.

“Tadinya saya adalah laki-laki tulen, dulu malah sempat jadi pemain sepak bola, tapi semuanya berubah ketika saya berusia 15 tahun, semenjak saya bergabung dengan sebuah sanggar tari, kebetulan banyak pelaku biseks di sana, saya pun terpengaruh,”.

Tapi Z mengaku tidak pernah sama sekali dilecehkan, dia menjadi biseks secara sukarela.saat berada dirumah, pria yang berasal dari Kabupaten Boalemo itu berlaku sebagaimana pria normal. Orientasi seksualnya itu dia sembunyikan rapat-rapat.

Pun kelak kalau lulus dan diharuskan menikah nanti, dia mengaku akan menjalaninya. “Saya akan menikah dengan perempuan, kerja, punya anak, seperti laki-laki normal lainnya,” kata dia.

W dan M, dua rekan Z juga mengaku menjadi biseksual karena pengaruh lingkungan, dua pria yang hobi menyanyi dan menari itu mengaku sejak kecil memiliki ketertarikan pada sesama jenis, tapi juga memiliki ketertarikan seksual pada perempuan.

“Kami dibesarkan dalam lingkungan perempuan, empat kakak saya perempuan, “ujar W. tapi dia menyembunyikan orientasi seksualnya itu.

Baik W dan M mengaku pernah mengalami pelecehan seksual, namun keduanya tidak bersedia membagi kisahnya dengan alasan privasi.

Keempat narasumber yang diwawacarai mengungkapkan, pelaku biseks di kampus tersebut cukup banyak , mulai dosen dan mahasiswa. Dalam skala yang lebih luas, para pelaku biseks di wilayah itu kerap bertemu seminggu sekali di alun-alun kota Gorontalo, lapangan taruna remaja. Mereka saling mengetahui satu sama lain, meski belum terorganisir secara resmi.

Sebelumnya, dalam siaran pers dalam rangka memeringati International Day Against Homophobia and Transphobia atau Hari International Menolak Homophobia dan Transphobia (IDAHO), Forum LGBTI Indonesia, 17 Mei lalu menyebutkan secara umum, di seluruh dunia keberadaan kelompok marginal LGBTI masih sangat rentan terhadap berbagai bentuk stigma, diskriminasi dan kekerasan yang masih berlangsung secara terus menerus.

Dalam siaran pers yang dikutip hukumpedia.com itu, juga disebutkan dukungan Badan Dunia (PBB) terhadap penegakan HAM masyarakat LGBTI di seluruh dunia hingga saat ini masih terus berlangsung dan tetap akan terus berlangsung.

PBB menyebutkan sekurangnya masih ada 76 negara di dunia yang mengkriminalisasi konsensual hubungan sesama jenis, bahkan beberapa di antaranya masih menerapkan hukuman mati bagi homoseksual.

Fakta riset yang ditemukan oleh Arus Pelangi (LSM untuk advokasi dan penegakan HAM LGBTI di Indonesia) tahun 2013 menyatakan bahwa, 89,3% LGBT di Indonesia pernah mengalami kekerasan karena identitas seksualnya, 79,1% responden menyatakan pernah mengalami bentuk kekerasan psikis, 46,3% responden menyatakan pernah mengalami kekerasan fisik, 26,3% kekerasan ekonomi, 45,1% kekerasan seksual, 63,3% kekerasan budaya. Bahkan kekerasan yang biasa dialami sudah diterima pada saat usia sekolah dalam bentuk bullying. 17,3% LGBT pernah mencoba untuk bunuh diri diri, dan 16,4%nya bahkan pernah melakukan percobaan bunuh diri lebih dari sekali.

Karena itu, forum ini mengajukan sejumlah seruan kepada Pemerintah Indonesia, di antaranya mengakui keberadaan kelompok marginal LGBTI di Indonesia, dengan pemenuhan hak rasa aman, memberikan ruang untuk berekspresi dan bersikap kritis, serta memenuhi hak-hak  lainnya sebagai warga negara Indonesia.

Negara juga diminta menghapus stigma terkait orientasi seksual, identitas dan ekspresi gender serta mempromosikan keadilan dan kesejahteraan psiko-sosial masyarakat terhadap berbagai orientasi seksual, identitas dan ekspresi gender, sesuai dengan standar Badan Kesehatan Dunia (WHO), serta memastikan akses yang sama ke layanan publik.

Forum ini juga meminta negara menghentikan tindak-tindak diskriminasi dan kekerasan dalam bentuk apapun berdasarkan orientasi seksual, identitas dan ekspresi gender, baik yang dilakukan oleh aparat negara maupun oleh masyarakat umum.

Sementara itu, Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Gorontalo, belum lama ini merilis tren penyebaran HIV/AIDS di wilayah itu yang mengalami pergeseran. Jika sebelumnya, penularan terbanyak terjadi melalui jarum suntik narkotika, kini yang terbanyak ditemukan berawal dari hubungan seksual.

Sekretaris KPA Provinsi Gorontalo, Irwansyah mengungkapkan dari 150 kasus HIV/AIDS di wilayah itu yang terungkap rentang 2001-Februari 2014, tercatat 86 kasus bersumber hubungan seks laki-laki dan perempuan, homoseks 14 kasus, biseksual satu kasus, IDU’S 22 kasus, ibu ke anak tiga kasus, transfusi darah dua kasus, jarum tato satu kasus dan tidak diketahui 21 kasus.

“Seks tidak aman menjadi penyebab utama penularan HIV/AIDS di Gorontalo, ” ujarnya.

Pihaknya menyediakan sejumlah outlet kondom di sejumlah hotel dan penginapan untuk mencegah penularan penyakit itu lebih luas. KPA di Kota Gorontalo juga pernah membagi-bagikan Al Quran dan kondom di sejumlah penginapan sebagai langkah antisipasi.

 

 

SYAM TERRAJANA

 

 

 

Syam Terrajana
Lahir dan tinggal di Gorontalo setelah berkelana di berbagai kota. Membagi waktunya untuk menulis, membaca,melukis dan bepergian. Sesekali menyanyi jika suara sedang bagus. Dapat dihubungi di syam.terrajana2@gmail.com.

One thought on ““Mengapa Aku Begini ? (Pengakuan Biseks Gorontalo)

Leave a Reply

one + 20 =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top