Mengapa (Anak) Indonesia Perlu Mencintai Papua Sejak Dini

 

Bocah Papua (DG/Christopel Paino)
Bocah Papua (DG/Christopel Paino)

Milastri Muzakkar (Pegiat Gerakan Gorontalo Meliterasi, Founder Perpustaman Limboto, Gorontalo.

 

MASIH  teringat betul, kala itu hampir delapan bulan aku berinteraksi dengan anak-anak di salah satu Sekolah Dasar Pedalaman Aceh Utara. Tahun 2011 tepatnya. Ketika itu aku mengikuti program pengabdian mengajar. Dalam proses belajar sehari-hari, mau tak mau dan suka atau tidak, mesti berhubungan dan menyinggung soal Indonesia, di dalamnya termasuk Papua.

Ketika mengajarkan pelajaran PPKN dan Bahasa Indonesia, maka adat-budaya, juga gambar anak-anak Papua, segera menjadi perbincangan heboh di antara anak-anak sekelas.

Menyebut kata “Papua” saja, mereka langsung tertawa. Sebagian bahkan terlihat benci dan jijik. “Ih hitam, kribo,” sahut beberapa anak.

Terus terang, dalam hati aku kesal dengan lontaran para bocah itu. Rasanya, aku ikut terhina. Meski tak ada keturunan, pun hubungan saudara dengan orang Papua. Namun perasaan itu segera kulawan dengan menghadirkan rasa keprihatinan.

Prihatin dengan keadaan orang Papua, yang sejak dulu selalu diposisikan sebagai “makhluk aneh bin ajaib”, dianggap entah datang dari planet mana. Para guru dan orang tua jarang menyentuh ranah ini. Padahal, tanpa disadari sejak inilah benih-benih kebencian, intoleransi, dan konflik mulai tertanam.

Tentu bukan berita baru, mendengar diksriminasi, penangkapan, pengusiran, pemenjaraan, termasuk keinginan masyarakat Papua melepaskan diri dari Indonesia, seringkali mewarnai media.

Lalu apa yang kulakukan ketika itu? Mengenalkan murid-muridku dengan anak-anak Papua pun mulai kulakukan. Di dalam kelas terdapat pohon ilmu (terbuat dari ranting-ranting pohon layu) tempat menggantungkan gambar rumah, pakaian, perkakas, lagu, tari, dan rumah ibadah, yang ada di beberapa daerah di Indonesia.

Khusus untuk Papua, kugantungkan juga gambar seorang anak berambut kribo yang sedang tersenyum. Dari sinilah metode edukasi mengenalkan Papua kepada para murid dilakukan. Sebelum, saat berlangsung, dan setelah pelajaran berakhir, tak henti-hentinya setiap mata pelajaran selalu kukaitkan dengan keragaman Indonesia yang justru melahirkan kekayaan dan keindahan.

Upaya lainnya adalah dengan mengikutkan murid-muridku dalam program Sahabat Pena yang juga menjadi bagian dari aktivitas pendukung dari program pengabdianku. Dalam sekelas, para murid dibagi menjadi dua.

BACA JUGA:

Satu kelompok mengirim surat untuk anak-anak di Aceh dan lainnya mengirim untuk anak-anak Papua. “Hallo, namamu siapa? Katanya rambutmu kribo ya? Hehe…tapi tidak apalah, aku mau kok menjadi sahabatmu,” salah satu isi surat murid yang sempat kubaca.

Memang bukan hal luar biasa. Bisa jadi hasilnya belum signifikan. Namun cara-cara sederhana di atas paling tidak dapat mengubah cara pandang anak-anak yang sudah terlanjur keliru terhadap Papua.

Paling tidak, dalam beberapa bulan selama proses pembelajaran “Pengenalan tentang Papua” berjalan, tak ada lagi murid yang menampakkan wajah aneh atau cekikikan tertawa mendengar kata Papua. Meluangkan waktu menulis,menghias kertas surat untuk sahabat penanya dengan indah dan rapih. Ini juga bentuk penerimaan mereka terhadap teman barunya di Papua. Dari sinilah bibit mengenal, memahami, hingga mencintai ditanamkan.

Tak hanya di Aceh, anak-anak di Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, yang sempat berinteraksi intens denganku sekitar tahun 2012 juga “alergi’ dengan Papua. Belajar dari Aceh, metode pengenalan Papua dan Indonesia melalui pohon ilmu dan sahabat pena juga kuterapkan pada muridku di sini.

Empat tahun lebih berlalu, namun pandangan yang sama juga kutemui pada anak-anak Gorontalo. pemandangannya lebih nyata lagi sebab kebetulan aku tinggal tak jauh dari asrama mahasiswa Papua. Beberapa dari mahasiswa itu kerapkali lewat di depan rumah, termasuk mampir ke rumah menawarkan jasa apa saja untuk sekedar mencari makan sehari-hari.

Anak-anak yang sering bermain di rumah segera tertawa melihat mahasiswa Papua itu. Mereka bahkan mengikuti mahasiswa itu layaknya makhluk aneh yang menarik dijadikan tontonan. Seorang anak pernah berlari mendekatiku, “Kak Mila, mau apa itu orang Papua ke sini?” tanyanya dengan wajah heran.

Rangkaian pengalaman itu menggambarkan kebencian, diksriminasi, hingga konflik yang tak pernah usai dalam membincang soal Papua telah berakar pada generasi kita sejak dini.
Sejak mereka duduk di bangku sekolah paling dasar. Idealnya, sekolah menjadi wadah edukasi yang sistematis dan masif untuk mengenalkan kekuasaan Tuhan berupa kekayaan dan keberagaman budaya Indonesia, yang patut disyukuri dan dijaga keindahannya.

Menjadi guru di sekolah sesungguhnya sebuah keberuntungan. Sebab begitu banyak kesempatan dan kebebasan mengeksplor metode kreatif nan menyenangkan untuk menggali bahkan mendoktrin murid-murid kita untuk menghidupkan nilai-nilai kemanusiaan (kasih-sayang, penghargaan, peduli, tolong-menolong, kerjasamaa, damai, dll) yang sudah ada dalam diri tiap orang. Sebab mengajarkan cinta dan kasih-sayang mesti dimulai sejak dini. (*)

 

Leave a Reply

seventeen − 4 =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top