Mengapa (Mahasiswa) UNG Tak Sudi Berganti Nama?

Kain spanduk putih dibubuhi tanda tangan penolakan perubahan nama UNG – (DG/Defry)

Alkisah …
Di sebuah negeri di timur Indonesia..
Kami kuliah …
Kampusku yang kucinta, kampus peradaban namanya
Sampai suatu hari …
Di bulan Agustus tepat di tahun prestasi
Innalillahi …
Kampus kami mati, namanya dibunuh pimpinan sendiri
Itu kan namanya jan … (cuk…)
Lembaga kampus kami …
Jan … (cuk …)
Senat Akademik kampus kami …
Jan … (cu k…)

Bikin putusan seenaknya …

Sepotong puisi di atas, terakhir dibacakan Reynaldie Maliki pada aksi penolakan pergantian nama Universitas Negeri Gorontalo (UNG) menjadi Universitas BJ Habibie, pada malam Sabtu (25/8), di depan gerbang utama kampus.

Suara rendah musik latar yang keluar dari dua buah pengeras suara menghiasi puisi Reynaldie yang berjudul “Lembaga Kampus Kami”. Mungkin karena kehabisan baterai, mic tidak bisa menangkap jelas suaranya. Reynaldie tetap melanjutkan dengan khidmat walau hanya menggunakan megafon. Nyala lilin juga menerangi mereka yang membaca puisi. Seperti yang lainnya, kebanyakan puisi yang dibacakan dibuat masing-masing pada hari itu juga.

Puisi demi puisi yang bercampur pidato bernada menolak pergantian nama UNG, dibaca bergantian. Malam mulai larut, mereka lalu berkumpul, menutup aksi malam itu dengan pentas teatrikal yang menggambarkan aksi penolakan yang dilakukan menjadi sia-sia karena keputusan kerap dikeluarkan sepihak, oleh pihak lembaga dan mengabaikan aspirasi mahasiswa.

Aksi spontan ini dilakukan setelah mereka mengetahui nama UNG resmi diputuskan akan diganti oleh Senat Universitas (24/8). Mereka yang melakukan aksi ini tidak lain adalah mahasiswa dan alumni UNG yang merasa tidak sepakat dengan keputusan Senat itu.

Afandi Ismail Wakil Presiden BEM UNG, yang hadir pada malam itu mengatakan alasan utama mereka melakukan aksi itu karena kaget dengan keputusan kampus yang sepihak dan tiba-tiba. Dia juga mengakui sudah lama mendengar isu pergantian nama ini, apalagi setelah UNG dikunjungi oleh BJ Habibie dan memberikan bantuan pembangunan masjid kampus serta tanah.

“Tapi ini semua hanya isu, belum tentu ini alasan pergantian nama,” katanya.

Mereka yakin pergantian nama bukanlah cara yang tepat dilakukan oleh kampus, masih banyak hal yang lebih penting.

“Pergantian nama ini tentu menghabiskan banyak anggaran. Saya tidak bisa bayangkan, lebih baik dirikan satu kampus.”

Selama ini, menurutnya mahasiswa hanya sekadar mendengar desas-desus kampus mereka akan diganti namanya, tanpa sosialisasi, tiba-tiba sudah ada keputusan yang dikeluarkan oleh Senat Univeritas untuk mengganti nama UNG dengan Universitas BJ Habibie, nama Presiden RI ketiga.

Kemudian pada besoknya, Sabtu (26/8), pukul 12.30, diskusi terbuka digelar membahas masalah pergantian nama. Kantin Humaniora kompleks Fakultas Hukum menjadi tempat berlangsungnya diskusi. Yang menjadi pembicara utama adalah Syamsu Qamar Badu, Rektor UNG sendiri.

Demi mendengar penjelasan resmi dari Rektor, halaman kantin hingga lapangan parkir menjadi ramai. Bukan hanya dari mahasiswa dan alumni, masyarakat dan wartawan juga turut menghadiri diskusi itu. Tampak juga hadir Wakil Rektor 3, Fence M. Wantu duduk di sebelah Rektor.

Para penanya alumni dan mahasiswa, kebanyakan kurang sepakat dengan pergantian nama UNG.

“Kami sudah terlalu cinta dengan UNG,” kata salah satu penanya. Selain itu mereka juga mempertanyakan apakah ada kaitannya bantuan 50 hektare tanah dari BJ Habibie, pendirian Fakultas Kedokteran, dengan digantinya nama.

Rektor pun mengatakan bahwa tidak ada kaitannya hal itu dengan pergantian nama

“Terlalu rendah jika hanya dengan sumbangan 50 hektare UNG berganti nama,” ujarnya. Menurutnya pergantian nama ini tak ada sangkut pautnya dengan politik.

Rektor juga mengatakan bahwa pada rapat dengan Senat Universitas itu, ada beberapa nama yang telah mereka pertimbangkan. Ada John Ario Katili ahli geologi asal Gorontalo, HB Jassin dijuluki Paus Sastra, Nani Wartabone pahlawan nasional asal Gorontalo, tapi yang diputuskan adalah BJ Habibie.

Menurutnya dengan menggunakan nama teknokrat itu bisa membuat UNG go internasional. Dia bersikeras bahwa hanya dengan mengganti nama UNG dengan nama BJ Habibie barulah pada tahun 2035, kampus itu bisa menjadi leading university di Asia Tenggara.

“Nama itu menjadi penting begini contohnya, Anda ranking 1 di UNG dengan IPK 4, kemudian dibandingkan dengan lulusan UNHAS dengan IPK 3, menghadap ke satu perusahaan yang sama, siapa yang akan diterima?” tanya dia retoris.

Suatu waktu saat Rektor selesai menjawab beberapa pertanyaan dia berucap, “Saya tidak tahu lagi bagaimana mengatakan kepada adik-adik sekalian. Saya bisa diskusi seperti ini setiap saat, yang jelas yang saya harus katakan ini sudah dirapatkan senat, sudah disetujui. Saya terus terang kemarin sudah ditelepon Pak Menteri. Seperti yang saya katakan tadi, ini (pergantian nama) sudah di dalam Istana!” katanya, mengisyaratkan kepastian nama UNG akan diganti.

Dia nampak geram dengan banyak yang menganggap dengan pergantian nama ini, UNG juga ikut mati. Yang dia harapkan justru spirit dari nama tokoh itu bisa membuat orang lebih beremangat.

Diskusi itu berlangsung selama 2 jam, yang hadir saat itu masih banyak yang tidak menerima dan tetap mengusulkan hal berbeda; ada yang menolak diganti, ada yang menerima asal jangan menggunakan nama BJ Habibie, ada juga yang bertanya berapa anggaran biaya yang dibutuhkan ketika nama kampus diganti namun hal ini tidak sempat dijawab Rektor, hanya beberapa kali Rektor mengingatkan kepada Moderator agar hanya menerima pertanyaan yang berbeda.

Banyak yang tampak belum puas dengan keterangan Rektor tersebut. Murdiono Mokoginta, seorang lulusan baru dari Jurusan Sejarah, mengatakan dia tidak sepakat dengan nama BJ Habibie karena jika UNG memang harus diganti nama, masih ada nama yang lebih layak digunakan. Hal ini karena dinilainya, tokoh BJ Habibie sebagai Presiden ketiga adalah antek Orde Baru yang notabene telah ditentang oleh gerakan mahasiswa kala itu.

Dia juga memandang BJ Habibie yang seorang insinyur pesawat terbang itu, tidak sesuai dengan UNG yang belum mempunyai jurusan yang berkaitan dengan bidang keilmuan BJ Habibie.

Murdiono juga mengatakan keputusan pergantian nama ini adalah keputusan sepihak. Katanya sambil mengutip UU Nomor 12 tahun 2012 pasal 63, tentang otonomi pengelolaan perguruan tinggi ditekankannya pada aspek transparan.

Tepuk tangan dan sorak-sorai bergema saat pendapat-pendapat kontra pergantian nama seperti ini diutarakan.

Banyak juga kejadian salah alamat antara UNG dan UG. “Beberapa kali saya di forum nasional selalu mengingatkan kalau di Gorontalo itu ada UG dan UNG, tapi selalu saja salah,” aku Rektor, namun menurutnya ini bukan alasan digantinya nama. Dia mengaku semua pertanyaan telah terjawab.

Setelah diskusi ditutup, belum Rektor beranjak, tiba-tiba ada kain spanduk putih polos dibentangkan. Affandi Wakil Presiden BEM UNG kemudian mengumumkan bahwa siapa saja yang menolak nama UNG diganti, silakan tanda tangan. Sontak saja banyak yang berdiri lalu menandatangani kain itu. Kumandang salawat disenandungkan beramai-ramai, banyak orang yang berkerumun agar bisa membubuhkan tanda tangannya.

Melihat semua itu Rektor hanya tertawa. Lalu beberapa wartawan mengerumuninya untuk sesi wawancara. Dalam wawancaranya dengan wartawan dia mengatakan, putusan ini belum resmi karena masih harus diajukan ke Kementrian, dan dia akan menyampaikan apa saja yang telah didiskusikan pada sore itu kepada BJ Habibie. Juga untuk kajian akademik mengenai pergantian nama ini terbuka, bisa diakses siapa saja.

Para mahasiswa dan alumni itu kemudian melanjutkan aksinya dengan berjalan ke depan gerbang kampus. Mereka berorasi menolak nama kampus mereka diganti. Kain spanduk telah penuh dengan tanda tangan. Namun karena masih banyak yang ingin menandatangani mereka lalu mengumpulkan uang dan membeli kain yang lebih besar. Pada hari itu mereka berjanji akan terus melakukan aksi penolakan, seluruh tanda tangan itu mereka rencanakan akan dikirmkan ke Kemenristekdikti.

Organisasi mahasiswa, Badan Eksekutif Mahasiswa, Senat Mahasiswa dari hampir seluruh fakultas, mengkoordinir massa agar bisa sama-sama ikut aksi. Alhasil mereka terkumpul pada Rabu (30/8) tepat pada saat pelaksanaan wisuda. Kampus yang biasanya selalu ramai pada momen-momen wisuda, dimanfaatkan agar aspirasi mereka bisa didengar dan dipertimbangkan.

Namun saat mereka berorasi di depan gedung Auditorium, tempat dilaksanakannya wisuda, sesaat sebelum prosesi wisuda dimulai. Rektor memanggil masing-masing perwakilan organisasi ini untuk membicarakannya secara tertutup. Setelah massa disuruh membubarkan diri.

Beberapa massa aksi kecewa karena hari itu mereka menemukan jalan buntu. Affandi, salah satu yang dipanggil Rektor saat itu mengakui bahwa Rektor tetap bersikukuh dengan keputusan pergantian nama UNG. “Keputusan Senat itu mutlak, tidak bisa diganggu-gugat. Silakan aksi, keputusan sudah tetap,” katanya meniru Rektor.

Menurut pengakuan Afandi ada beberapa anggota Senat Universitas yang tidak setuju dengan keputusan itu, namun entah bagaimana prosesnya sampai keputusan itu dibuat.

Dia menyebut ada beberapa nama yang menolak UNG diganti dengan Universitas BJ Habibie, ada Wakil Dekan III Fakultas Pertanian, Wawan Tolinggi, Wakil Dekan III Fakultas Ilmu Pendidikan, Sukirman Rahim, dan Guru Besar Fakultas Olahraga dan Kesehatan mantan Rektor Universitas Gorontalo, Prof. Hariadi Said.

Afandi menginginkan agar nama-nama ini tetap pada pendiriannya dan bisa membantu mereka memperjuangkan penolakan pergantian nama ini. Terakhir dia mengakui jika hanya dengan demo Rektor tidak akan terpengaruh,

“Peluang kita ibarat lubang jarum, kecil.”

 

DEFRY HAMID

Defri Hamid
Masih mahasiswa, ingin cepat wisuda biar bisa jadi wartawan.
http://defryhamid.blogspot.com

Leave a Reply

12 − eight =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top