You are here
Home > Berita Pilihan Editor > Mengenal Mangasu, Tradisi Berburu Warga Desa Karangetang

Mengenal Mangasu, Tradisi Berburu Warga Desa Karangetang

Ilustrasi Perburuan/Degorontalo
Ilustrasi Perburuan/Degorontalo

 

DeGorontalo- Mangasu adalah  sebuah tradisi  berburu yang masih dipertahankan oleh masyarakat desa Karangetang, kecamatan Dengilo, Pohuwato. Desa ini dihuni mayoritas etnis Siau, Sangihe, Sulawesi Utara. Warga etnis Sangihe ini sudah mendiami tempat itu sejak berpuluh tahun  silam. Meski  hanya jadi pekerjaan sampingan, namun mampu membantu perekonomian masyarakat.

Adalah Hendrik Galoman, pria 35 tahun yang sudah ikut berburu sejak duduk di bangku sekolah menengah. Menurutnya berburu itu pekerjaan yang disenanginya, karena selain perginya berkelompok, berburu juga dapat memberinya sedikit penghasilan.

Tradisi Mangasu bagi masyarakat Karangetang  biasanya dilakukan pada akhir pekan. Sasaran buruan adalah hewan -hewan yang menjadi hama tanaman di kebun, paling banyak adalah  babi hutan. Selain itu, juga ada yakis, yaitu sebutan lokal untuk macaca hecki. Untuk setiap buruan dijual dengan harga Rp17 ribu per kilonya, walau ada beberapa menjadi komsumsi di rumah. Yakis dikenal sebagai hama bagi kebun, suka menjarah dan merusak hasil kebun.

Baca Juga :

 

“Kalau yakis, harganya sangat murah dibandingkan dengan babi hutan, karena hanya dibeli tujuh ribu per kilonya, dan itupun kami jarang memburu yakis karena memang dia susah diburu,” tutur pria yang punya nama panggilan Arif tersebut.

Mangasu, menurutnya  sangat membantu para petani yang tanamannya sering diserang babi. Oleh karena itu, biasanya mereka berburu berdasarkan juga dari informasi masyarakat akan adanya babi di wilayah mereka berkebun.

“Desa tetangga kerap melaporkan kepada kami jika di kebun mereka ada babi. Dan setelah itu kami pergi ke tempat itu berkelompok, biasanya enam sampai tujuh orang, dan dibantu anjing untuk melacak buruan,” kata Arif.

Lanjut Arif, saat ini babi hutan sudah sulit ditemukan, penyebabnya karena jumlah mereka yang berkurang serta beberapa faktor lainnya.

Kepala desa Karangetan, Simon Panamba, di tempat yang sama berkisah, dulu dirinya juga sering ikut mangasu beberapa kali.

Mangasu itu ada seninya, karena kita harus cerdik dalam melihat pergerakan hewan buruan,” kata Simon.

Belakangan, masyarakat Karangetang sudah mengetahui  jenis-jenis satwa  yang dilindungi, terutama  setelah masuknya organisasi Burung Indonesia ke desa mereka, sehingga mereka sudah lama tidak berburu hewan-hewan langka.

 

WAWAN AKUBA

(Visited 175 times, 1 visits today)
wawan akuba

Mahasiswa dan pecinta, seorang yang telah mencoba melibas semak belukar rinjani tapi tetap tunduk pada keindahannya.

http://wawannakuba.blogspot.com

Leave a Reply

3 × three =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top