You are here
Home > Berita Pilihan Editor > Meracik Kopi Pinogu, Memuliakan Petani?

Meracik Kopi Pinogu, Memuliakan Petani?

Seorang Barista menuangkan air di gelas kopi pada Lomba Meracik Kopi Pinogu yang digelar oleh Gerakan Kopikan Gorontalo, baru-baru ini. (DG/Syam Terrajana)

DeGorontalo – Baru kali ini, Yudhistira Negara merasakan sensasi kopi Robusta yang benar-benar berbeda. Sudah sepuluh gelas kopi Robusta disajikan oleh peserta lomba, dia cicipi. Tapi Co.Founder Baristahood Community Makassar ini belum kunjung mual.

Padahal selama ini, dia kurang suka dengan jenis kopi ini. Robusta, dominan dengan rasa getir dan pahit. Baginya itu cukup menganggu untuk dikonsumsi. Lebih cepat menyerang penyakit lambungnya.

“Tapi kali ini beda, kopi Robusta dari Pinogu ini ternyata nyaman di lidah dan lambung,” ujarnya di Gorontalo, belum lama ini.

BACA JUGA:

Pada Sabtu ( 19/08/2017) lalu, 1st Winner Bali Regional in Indonesia Barista Championship 2015 ini menjadi salah satu juri pada lomba meracik kopi Pinogu, di museum pendaratan Soekarno, desa Iluta, Tepi Danau Limboto, Gorontalo.

Ini adalah kompetisi meracik kopi yang pertama kalinya di Gorontalo. Ada sekitar 13 barista yang ikut berpartisipasi. Mereka berasal dari Gorontalo dan Kotamobagu, Sulawesi Utara.

Sesuai namanya, Kopi Pinogu berasal dari sebuah kecamatan terpencil bernama Pinogu. Letaknya di tengah-tengah hutan tropis Taman Nasional Bogani Nani Wartabone, di Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo. Butuh waktu berjalan kaki antara 15-20 jam untuk mencapainya.

Di Pinogu, kopi tumbuh subur tanpa bantuan pupuk pestisida. Organik.
Menurut Yudi, kunci cita rasa khas yang ditawarkan Kopi Pinogu, terletak pada proses pasca panennya yang benar-benar memenuhi standar premium.

“Cara petik buah kopinya benar, seperti memetik buah Cherry, tidak ditarik serabutan dan dipilih yang matang,” katanya.

Pada lomba yang diinisiatifi oleh Gerakan Kopikan Gorontalo ini, peserta memang dibekali jenis kopi Pinogu yang sama. Dengan teknik roasting yang cenderung premium. Untuk mendapatkan cita rasa standar itu, Gerakan Kopikan Gorontalo sampai harus meraciknya sendiri.

Aria Wahastrana Sae, juri lainnya di lomba ini menambahkan ciri khas lainnya yang bisa dijual dari kopi Pinogu, adalah varian jenis Liberika yang terdapat di dalamnya.

Liberika, menurutnya adalah jenis kopi yang kian langka di dunia. Di Indonesia, jenis kopi ini hanya tumbuh di tiga tempat, yakni di pulau Sumatera, Jawa Tengah dan di Sulawesi, yakni Gorontalo dan Kotamobagu, Sulawesi Utara.

Di Pinogu sendiri, Liberika yang dulu ditanam sejak zaman kolonial kini tumbuh liar menjadi hutan kopi.

Untuk mendapatkan biji kopi Liberika, petani setempat harus menebangnya karena pohonnya sudah menjulang tinggi.

“Kopi Liberika ini, pernah jadi anak emas di Eropa, kalau dikelola dengan baik, bisa menguntungkan petani,” kata Barista pendiri Kawanua Menyeduh, Manado, yang penah memenangkan sejumlah kompetisi meracik kopi tingkat regional ini.

Hal serupa dikemukakan Andi Syaldi Z, juri lainnya. Menurutnya, mutlak dibutuhkan peran pemerintah untuk kembali mengatrol kembali kopi Liberika di Pinogu.

“Perlu ada peremajaan kembali kopi Liberika, petaninya perlu diedukasi, bagaimana memperlakukan tanaman kopi yang baik dan benar,” ujar pria peraih runner up Toraja international barista competition 2016 ini.

Kiki Rahman, 23 tahun, salah peserta kompetisi mengaku mendapatkan banyak pengetahuan dan berharga dari ajang tersebut.

“ Memang agak gugup, karena baru kali ini ikut kompetisi, tapi saya jadi tahu, bagaimana mengolah kopi dengan benar, dan ikut bangga, Gorontalo punya kopi dengan cita rasa khas,” ujar pemilik kedai kopi Sapae, di Kabupaten Bone Bolango ini.

Bupati Bone Bolango, Hamim Pou yang ditemui pada kesempatan yang sama, mengatakan pihaknya terus berupaya mempromosikan potensi Kopi Pinogu ke berbagai level.

Pihaknya pernah mempromosikannya hingga ke Jepang, Belgia dan Jerman. Terakhir pada awal Maret lalu, pihaknya menggeber acara pemecahan rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) , minum kopi Pinogu terbanyak, melibatkan 6.517 orang.

Di Pinogu, ada sekitar 150 hektar kebun kopi Robusta dan Liberika. Jumlah penduduknya ada sekitar 3000an jiwa. Setengah populasinya menggantungkan hidupnya pada tanaman kopi.

Di sisi lain, mulai tingginya permintaan, membuat banyak penjual memanfaatkan branding Kopi Pinogu untuk mengeruk keuntungan. Padahal yang mereka jual bukanlah Kopi Pinogu.

Pemenang lomba meracik kopi Pinogu (memegang plakat dari kiri) 1. Wahyu Rivaldi 2. Dennis Polapa, 3. Fadlan Alamri (Photo courtesy Gerakan Kopikan Gorontalo)

Karena itu juga, pihaknya berupaya melakukan upaya proteksi. Misalnya dengan membeli langsung produk kopi dari petani. Memberikan pelatihan pengemasan produk pada kelompok petani kopi . Meski untuk itu, pihaknya terkendala dengan anggaran yang masih terbatas.

Tahun ini misalnya, program pemberdayaan untuk petani Kopi Pinogu yang mencakup pelatihan, sosialisasi dan pengadaan alat penunjang terbilang kecil. Hanya berkisar 200an juta rupiah.

Sementara itu, Nurhikmah Biga, pendiri Gerakan Kopikan Gorontalo mengatakan kompetisi ini memang bertujuan untuk mempromosikan potensi Kopi Pinogu yang tak kalah cita rasanya dengan kopi dari daerah lain.

Selain itu, kompetisi ini memiliki misi edukasi. Agar para Barista dan pemilik coffee shop bisa mengolah kopi Pinogu dengan lebih baik. Termasuk memuliakan petani.

“Kondisi petani kopi Pinogu itu miris, promosinya sudah kemana-kemana, tapi kondisi kesejahteraan mereka belum kunjung membaik,” katanya.

Menurutnya yang paling mendesak, pemerintah sebaiknya memperbanyak pelatihan pada petani kopi setempat. Fokusnya cukup pada cara memperlakukan tanaman. Tentu saja dengan memberikan fasilitas memadai.

Cara ini dinilainya dapat memperbaiki kualitas Kopi Pinogu secara merata. Sehingga harga jualnya bisa dikatrol tinggi.

Sedangkan untuk pengolahan produk, sebaiknya diserahkan pada pihak roaster, barista yang bisa memperlakukan kopi Pinogu dengan lebih baik.
“Kasihan petani kalau harus mengurusi dari hilir ke hulu, kalau rugi, ditanggung sendiri,” katanya.(*)

 

SYAM TERRAJANA

(Visited 286 times, 3 visits today)
Syam Terrajana

Lahir dan tinggal di Gorontalo setelah berkelana di berbagai kota. Membagi waktunya untuk menulis, membaca,melukis dan bepergian. Sesekali menyanyi jika suara sedang bagus. Dapat dihubungi di syam.terrajana2@gmail.com.

Leave a Reply

14 + 5 =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top