Natal, Daseng dan Demokrasi

Themmy Aditya Nugraha. Foto: Koleksi pribadi
Themmy Aditya Nugraha. Foto: Koleksi pribadi

Oleh Themmy Aditya Nugraha (Anggota AJI Kota Gorontalo dan jurnalis di Mongabay Indonesia)

Saya membunuh malam Natal di Daseng Panglima, yang berada tepat di pesisir pantai kota Manado. Ada captikus, nyanyian dan ledakan kembang api di langit malam.

Daseng Panglima merupakan sekretariat Asosiasi Nelayan Tradisional (Antra) Sulawesi Utara. Ia menjadi simbol penolakan reklamasi teluk Manado. Di sebelah kanan dan kirinya, timbunan reklamasi telah menghadirkan pusat-pusat perbelanjaan. Jadi, Daseng membatasi gerak timbunan batu. Ia merupakan ruang simbolik nelayan yang menolak disingkirkan.

“Kalian timbun, kami hajar.” Adalah istilah yang saya hafal betul.

Perkenalan dengan resource centre nelayan di Sulawesi Utara ini, dimulai sejak saya merampungkan studi strata satu di jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Sam Ratulangi, sekitar 2011-2012 silam.

Saat itu, saya meneliti soal komunikasi nelayan dalam menolak reklamasi di kelurahan Sario Tumpaan.

Sebelum riset skripsi, saya sempat ikut aksi okupasi lahan reklamasi. Ketika itu, kami berusaha menghalangi upaya eskavator untuk menggelindingkan batu ke laut. Tapi, tak lama kemudian, polisi dan sekuriti bersatu. Jumlah kami kalah banyak. Mereka lalu menggiring peserta okupasi ke Polres Manado.

Tapi, menyerah tak pernah menyerah. Kami pikir, solidaritas adalah kekuatan masyarakat yang termarjinalkan.

“Kalau investor berkoalisi dengan aparatus negara, harusnya gerakan masyarakat sipil tak boleh terpecah. Kita harus bersatu!”

Lewat kejadian itu, saya mulai dekat dengan nelayan tradisional dan masyarakat di Sario Tumpaan. Kami menghabiskan waktu dengan diskusi, (minum captikus dengan anak-anak muda), juga berkonflik melawan investor penimbun laut.

Banyak cerita di sini. Selain melawan reklamasi, ada pula kisah soal kedewasaan melihat perbedaan agama. Misalnya, saat banyak penghuni Daseng – sebagian besar beragama Islam – menjalankan puasa, mereka memberi makan di siang hari. Saya merasa tidak enak. Lalu, dengan malu-malu, memutuskan untuk makan di ujung pantai, dan tentu saja diam-diam.

Beberapa waktu kemudian, seorang teman, merokok di depan orang-orang yang sedang berpuasa. Saya menegur. Mereka – penghuni Daseng yang berpuasa – marah, lalu menegur.

“Biasa aja, deh, Them. Nggak pa-pa, kok!”

Saya diam, tak habis pikir. Mereka puasa, memberi makan (pada yang tidak puasa) dan santai ketika ‘cobaan’ hadir di depan mata. Sementara, di tempat lain, televisi menyiarkan razia warung makan yang buka di bulan puasa.

Malam ini, (24/12/2016), kami minum-minum. Ngobrol banyak hal. Tepat jam 00.00, langit mulai warna-warni. Kembang api jadi semacam polusi yang dianggap biasa. Sementara, teman-teman di Daseng menyalami saya: memberi ucapan selamat Natal.

“Besok bawa alkitab,” kata Didi.

“Aku nggak punya, bro.”

“Nanti aku cariin deh,” tambahnya.

Ah, semakin edan saja!

Ketika puasa, mereka memberi makan. Saat Natal, ucapkan selamat dan memfasilitasi open house. Agama mereka apa, sih?!

Selain cerita-cerita tadi, saya juga dapat informasi, sebagai peringatan Natal, Daseng akan bikin open house. Saya, dan dua teman yang di KTP beragama Kristen, ditugaskan untuk menyambut tamu.

“What the fuck!”

Saya terkejut, tentu saja. Meski sudah sejak masa riset skripsi informasi itu sudah lekat di telinga, tapi ‘ujian’ sebenarnya akan segera datang.

Jelas saja, saya tak tahu guna alkitab yang dimaksud. Sebab, sudah lama – jangan ‘kan membaca – melihat dan menyentuhnya saja tidak pernah.

Lalu, saya teringat, ungkapan Rignolda Djamaluddin, ketua Antra Sulut, “Daseng adalah tempat yang merepresentasikan demokrasi. Segala macam keputusan disepakati bersama. Agama tak pernah jadi soal di sini. Setiap orang yang berusaha mengusik ketentraman, akan dilawan.”

“Pembangunan, apa pun jenisnya, tak boleh menggusur hak hidup nelayan tradisional,” kata Rignolda.

Ah, sekali lagi, fuck!

Ketika banyak orang mempersoalkan simbol-simbol absurd, mereka justru mempraktikkan demokrasi. Saya kira, inilah kemanusiaan itu. Tiap-tiap orang, harusnya berkawan dengan manusia, bukan atribut.

Ya, kita memang berkawan dengan manusia, yang ditindas dan melawan. Bukan simbol-simbol yang diam, meski diperkosa.

Kristianto Galuwo
Sigidad. Duda berputri satu-satunya bernama Sigi. Sering sial seperti Donal Bebek, karena itu dirajahi tato Donal Bebek di lengan kanan sebagai segel anti sial. Suka sekali makan ayam bakar/goreng/santan apalagi yang dibumbui sejumput puisi. Bisa disapa di facebook: Kristianto Galuwo dan diterawang di blog Getah Semesta.
http://sigidad.blogspot.co.id/

Leave a Reply

two × four =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top