You are here
Home > Berita Pilihan Editor > Natal di Gorontalo, Kenapa PLN Minta Umat Nasrani Siapkan Genset?

Natal di Gorontalo, Kenapa PLN Minta Umat Nasrani Siapkan Genset?

ilustrasi (Merdeka.com)
ilustrasi (Merdeka.com)

DEGORONTALO– Fenny Rumporok sedang khusyuk mendengar khutbah pendeta, pada ibadah menjelang perayaan natal di salah satu rumah jemaat di kelurahan Tenilo, Kota Gorontalo ,pertengahan Desember baru-baru ini.

Di tengah suasana khidmad itu, tiba-tiba lampu padam. Suasana jadi riuh rendah. Padahal ibadah baru dimulai. “Sejak pukul 19.00 sampai
21.30, listrik terus padam dan baru menyala setelah ibadah usai,” ujarnya.

Kejadian ini bukan hanya sekali. Tapi berkali -kali. Pada awal Desember sebelumnya, ada dua kali dirinya mengikuti ibadah dengan
suasana gelap gulita,juga penat karena penuh sesak. Jemaat beribadah sembari berkipas. Pendeta harus sedikit berteriak untuk menyampaikan
khutbahnya. Itu karena jumlah jemaat yang datang terbilang banyak, hingga 200 orang.

“Pemadaman listrik sangat mengangggu ibadah kami, tapi apa boleh buat,”ujarnya.

Hal serupa dialami Jemmy Bambung. Pendeta di gereja Protestan Centrum, Kelurahan Tenda, Kota Gorontalo ini juga ikut merasakan
peadaman listrik saat tengah memberikan khotbah di hadapan ratusan jemaat.

Prosesi ibadah jadi gaduh sesaat, dan baru berlanjut setelah mesin genset dinyalakan.“Untung gereja punya genset, tapi banyak juga umat yang menggelar ibadah di rumah dalam keadaan gelap gulita,” katanya.

Dia mengatakan, minoritas nasrani di Provinsi Gorontalo yang berjuluk “Serambi Madinah” ini, rata-rata mulai menggelar rangkaian ibadah
menyambut Natal, sejak tanggal satu Desember.

Meski tahu jika Provinsi Gorontalo mengalami krisis listrik, namun dia berharap pihak PLN tidak melakukan memadamkan listrik pada
puncak perayaan natal, 25 Desember mendatang.

Menurutnya, meski sebagian besar umat nasrani di wilayah itu memilih mudik ke kampung halamannya, baik di Manado Sulawesi Utara maupun ke
Tana Toraja, Sulawesi selatan. Namun tetap ada umat Nasrani yang lebih memilih merayakan Natal di Gorontalo.

“Sebagian jemaat Nusa Utara yang berasal dari Sangihe Talaud, Sulawesi Utara, memilih untuk merayakan natal di Gorontalo,karena
berbagai alasan.

Sementara itu, Manajer PLN Sulawesi Utara, Tengah dan Gorontalo (Suluttenggo) Putu Eka Astawa mengatakan pihaknya tidak bisa menjamin
sepenuhnya, jika tidak ada pemadaman listrik pada puncak perayaan natal mendatang.

“Yang bisa kami lakukan hanya dua hal, yakni meminta warga untuk menghemat listrik untuk menghindari beban puncak, serta
memprioritaskan jalur gereja untuk tidak padam saat Natal, tapi kami minta pihak gereja tetap menyediakan genset untuk jaga-jaga,” katanya.

Saat ini, katanya, Gorontalo mengalami beban puncak sebesar 325 megawatt perhari, dengan defisit listrik sebesar 60 megawatt.

Kondisi ini diprediksi baru akan berahir pada 2016 mendatang, setelah Kapal apung bertenaga listrik Marine Vessel Power Plant
(MVPP), berkekuatan 120 Mega Watt, dan PLTG berkekuatan 50 Megawatt sepenuhnya dioperasikan.

“Kapal Apung itu akan tiba di Sulut pada tanggal 23-24 Desember, tapi tidak bisa serta merta beroperasi,” ujarnya.

 

SYAM TERRAJANA

(Visited 367 times, 1 visits today)

Leave a Reply

5 × two =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top