You are here
Home > Berita Pilihan Editor > Nurani (ke)Manusia(an)

Nurani (ke)Manusia(an)

 

Ilustrasi. Pixabay.com (Creative Commons)

Oleh. Pramono Pido

(Orang Tilamuta, Boalemo, Gorontalo)

FIAT justitia ruat coelum. Sekalipun esok langit akan runtuh, keadilan harus tetap ditegakkan. Setiap kalimat adalah ungkapan pikiran. Setiap ungkapan pikiran adalah kualitas merasa yang dikongkritkan dalam bentuk bahasa. Palung terdalam perasaan manusia selalu diisi oleh hal – hal yang menggertarkan semesta.

Keadilan, kejujuran, keberanian. Adalah hasrat yang hakiki terdalam sesosok manusia. Cipratan keagungan pecipta memang menghuni secara alami pada setiap ciptaan. Keagungan tersebut menetaskan berbagai rumusan kata, susunan kalimat, paragraf-paragraf yang termuntahkan dalam jejak tinta kemanusiaan. Verba volant, scripta manent : Apa yang terkatakan akan segera lenyap, apa yang tertulis akan abadi. Dua pepatah Latin di atas adalah semangat yang tetap terjaga kemurniannya. Semenjak manusia belajar mengenali siapa dirinya. Peradaban kuno telah mengerti nilai – nilai itu. Pertanda bahwa melintang sejarah waktu, hasrat kemanusiaan tersebut tetap terawetkan baik dalam bentuk tulisan maupun perasaan.

Mengingat sejarah, bukan semata untuk mengenang kepahlawanan. Tapi berusaha untuk memahami penderitaan. Mendirikan sebangun rumah, membutuhkan pondasi yang kokoh, bahan bangunan yang berkulitas, serta pekerja yang telaten. Rumah itu sekarang kita diami, setiap 17 agustus kita menyebutkan sacara fasih nama rumah tersebut. “Indonesia raya.. merdeka.. merdeka.. hiduplah.. indonesia raya…,” Teriakan lantang menggema seantero negeri. Membius warga negara, euforia dirayakan, bendera negara dikibarkan. Masyarakat sipil, masyarakat militer, masyarakat intelektual, dan semua golongan hanyut dalam suka cita.

Namun sebelum seremonial itu kita laksanakan, setiap pagi, anak – anak sekolah dasar sedang belajar mengeja nama – nama pahlawan. Guru mereka memperkenalkan satu per satu tokoh – tokoh bangsa. Apakah yang dijarkan adalah ketokohannya.? Anak – anak sekolah dasar tersebut akan menjawab : mereka pahlawan bangsa karena pernah berjuang melawan penjajah. Tanpa sadar dia sedang mengucapkan bahwa anda tidak akan pantas dikenang bila tak pernah melawan.

BACA JUGA:

Namun siapa yang mereka lawan.? Dan untuk apa mereka melawan.? Seorang mahasiswa akan menjawab, mereka melawan penindasan, kesewenang-wenangan terhadap bangsa kami. Mereka melawan karena motif kemanusiaan. Jijik melihat ketidak-adilan, terusik mendengar rintihan, merasakan sakit meski hanya dengan menyaksikan sesamanya disiksa.

Moral force adalah bahan dasar bagi pondasi bangsa ini. Berjuang tanpa imbalan apapun, tanpa iming – iming materiil apapun, tetapi begitu tergerakkan. Bahkan kuatnya kekuatan emosional itu, mampu membuat orang menitikkan air matanya. Buku, koran, majalah, bahkan bendera negara adalah saksi bisu yang memberi kesaksian terhadap setiap tindakan kemanusiaan tersebut.

Pada bulan Mei, tentara menembak mati empat mahasiswa yang terlibat dalam demonstrasi menentang pemerintah di Universitas Trisakti Jakarta. Penembakan itu memicu terjadinya demonstrasi yang lebih besar dan penuh kekerasan di Jakarta, Solo dan berbagai kota lainnya. Di tengah situasi penuh kekacauan ini, tuntutan keadilan dan reformasi politik kepada pemerintah semakin kuat sehingga mendorong terjadinya demonstrasi besar-besaran menuntut transisi menuju demokrasi. Pada 21 Mei 1998, dua minggu setelah peristiwa penembakan Trisakti, Soeharto lengser.

Tragedi Trisakti tersebut hanya segelintir, tragedi kemanusiaan di negeri ini. Kejadian Trisakti mempunyai banyak variabel yang memicunya. Namun yang terpenting untuk dikenang adalah bahwa dalam peristiwa ini, wafat beberapa mahasiswa, kaum muda yang sebernanya merupakan pewaris negeri ini. Mereka dengan sengaja dan sadar berjuang dengan payung kemunusiaan. Kesan heroik, pesan keadilan, meninggalkan jejak keberanian.

Konsistensi dan persistensi, dua hal ini tampak jelas dalam kepribadian seorang Munir. Ia mengetahui betul resiko perjuangannya. Namun demikian, Munir tidak gentar dan mengambil sikap setia melawan. Ia tidak ingin mengambil sikap diam dan menyerah pada tekanan. Tudingan, intrik, intimidasi kerap menimpanya. Dituduh ‘PKI’, ‘Yahudi’, ‘Anti-Islam’, ‘Provokator’, Munir tak surut langkah.

Keberanian dan kegigihannya mampu menepis hantaman-hantaman tersebut.

Apa yang dilukiskan dalam kertas kerja KontraS, menggambarkan seorang tokoh kemanusiaan yang sekali lagi merenggang nyawa akibat idialisme yang dipegannya sebagai motif perjuangan. Tentu tak akan ada kata yang mampu merangkum keberanian dan ketulusan orang – orang yang mengorbankan nyawa di atas. Mereka berjuang tanpa syarat. Meninggalkan keluarga tercinta. Merelakan ibunda menangis mengenang kematian mereka. Agar ibu pertiwi dapat memancarkan senyum keadilan.

Untuk bertumbuh menjadi bangsa yang besar butuh manusia – manusia tangguh sebagai pekerja, yang mengerjakan pondasi rumah indonesia. Butuh nilai – nilai kemanusiaan untuk manjadi bahan pondasinya. Dengan sendrinya rumah itu akan kokoh, megah terlihat. dekorasi kejujuran, lantai yang dibersihkan dengan darah pengorbanan, menambah sakral dan sucinya rumah indonesia.

Pada akhirnya tidak ada yang dapat membendung niat tulus, nyawa dapat dihilangkan, namun ingatan kekal mengingatkan. Bahwa ada suatu masa dimana suatu bangsa didik menjadi beradab dan berkemanusiaan oleh anaknya – anaknya sendiri. Perubahan selalu butuh pengorbanan, dengan cara itu bangsa tumbuh dengan bertenaga.

Pada mereka kita memanjatkan doa agar setiap apa yang Munir dan kawan – kawan lakukan akan mendapat balasan tidak hanya dari penciptanya, namun juga anak – anak muda setelahnya dengan terus mengenangnya, sebagai pembelajaran keberanian menuntut terang, dalam gelap cengkraman kebusukan moral.

“Apakah anda mau mengingat, atau melupakan?” Demikian saya pernah bertanya kepada seorang pegawai pemerintahan Rwanda pada akhir 1995, hanya satu tahun setelah genosida di negeri itu menyebabkan kematian lebih dari 500.000 orang. Ia telah kehilangan tujuh belas anggota keluarga dekatnya selama tiga setengah bulan aksi pembunuhan. Kebetulan saja ia sedang tidak negeri itu ketika tragedi itu terjadi, dan karena itu hanya ia satu-satunya yang tertinggal dari seluruh keluarganya. Ketika ia menggambarkan kejadian itu, ia mengungkapkan dengan perasaan pasrah yang mendalam, “Seiring perjalanan waktu setiap hari, kita mampu melupakan lebih.” Maka saya pun bertanya, “Apakah anda mau mengingat, atau melupakan?” Ia ragu. “Kami harus mengingat apa yang telah terjadi supaya mencegahnya dari keterulangannya,” demikian ia menjawab dengan pelan. “Tetapi kami harus melupakan perasaan, emosi, yang menyertainya. Hanya dengan melupakanlah kita mampu berjalan terus.”

Percakapan antara Priscilla B. Hayner dengan seorang pegawai pemerintah Rwanda di atas,   menjadi penutup kisah memilukan tetapi menyadarkan. Kita harus menatap hari esok dengan bekal dan pelajaran masa lalu.(*)

 

Bahan bacaan

Hayner, P. B. (2005 ). Kebenaran Tak Tebahasakan : Refleksi Pengalaman Komisi-Komisi Kebenaran, Kenyataan dan Harapan . jakarta: ELSAM – Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat .

KontraS. (2006). Bunuh MUNIR . jakarta: KontraS.

KontraS, I. (2011). Keluar Jalur : Keadilan Transisi di Indonesia Setelah Jatuhnya Soeharto . jakarta: laporan bersama ICTJ dan KontraS.

(Visited 135 times, 6 visits today)

Leave a Reply

nine − 4 =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top