Oknum Polisi Jual Hutan Mangrove di Pohuwato Kepada Warga

DEGORONTALO – Alih fungsi hutan mangrove yang berada di dalam kawasan cagar alam maupun hutan lindung untuk dijadikan tambak sudah menjadi rahasia umum di kabupaten Pohuwato.

Tambak ikan bandeng dan udang di sepanjang jalan, mulai dari Kecamatan Randangan hingga di Kecamatan Popayato menjadi pemandangan yang biasa. Namun tak banyak yang tahu kalau kawasan tersebut sebagian besar merupakan wilayah cagar alam dan hutan lindung yang diatur oleh undang-undang.

Temuan terbaru, di Desa Babalonge, Kecamatan Lemito, Selasa, (1/9/2015) di pinggir jalan terlihat plang tentang pelarangan membuka lahan mangrove yang ada dalam kawasan lindung. Namun di belakangnya hutan mangrove telah berubah menjadi tambak.

Saat ditelusuri, ternyata kawasan seluas lima hektar itu milik Daeng Sire. Ia tinggal di sebuah rumah yang lebih mirip pondok bersama istrinya. Pondok itu berada tepat di pinggir tambak udang.

“Kami tidak tahu kalau ini termasuk hutan lindung,” kata Daeng Sire.

Menurutnya, ia bisa berada di lokasi itu membuka tambak karena “jasa” salah seorang oknum anggota kepolisian dari Polres Pohuwato berinisial AA. Mereka membeli kawasan lima hektar itu sebesar Rp 100 juta. Ia lalu memperlihatkan transaski pembayaran itu hanya dibuktikan dengan kwitansi bermeterai 6.000.

“Bapak AA datang ke kampung kami di Pangkep lalu menawarkan kalau ada tambak di sini. Kami bayar Rp 100 juta dari hasil penjualan sawah di kampung. Uangnya kami transfer ke rekeningnya,” cerita istri Daeng Sire.

Daeng Sire mengungkapkan lagi, mereka baru setahun mengelola tambak udang tersebut, dan transaksi pembelian kawasan hutan lindung itu dilakukan pada tanggal 4 Juni 2014.

“Kami baru satu kali panen. Belum balik modal,” ungkapnya.

Seperti diketahui, Kabupaten Pohuwato memiliki luasan mangrove terbesar di provinsi Gorontalo. Di kabupaten yang berbatasan langsung dengan Parigi Moutong di Sulawesi Tengah ini terdapat dua kawasan konservasi, yaitu cagar alam Tanjung Panjang dan cagar alam Panua.

Kedua cagar alam itu mempunyai andil besar dalam menyumbang ekosistem mangrove paling penting di Kabupaten Pohuwato. Namun saat ini, ekosistem mangrove di wilayah tersebut terus mengalami degradasi dan deforestasi yang sangat mengkhawatirkan.

Ekosistem mangrove baik yang berada di luar dan dalam kawasan konservasi rusak secara masif sebagai akibat dari kegiatan perambahan kawasan dalam skala besar.

Berdasarkan laporan Susclam (Sustainable Coastal Livelihood and Management), luasan mangrove di wilayah Kabupaten Pohuwato selang periode 1988 – 2003 mengalami pengurangan sebesar 1.560,14 hektar, dan periode 2003 – 2010 terjadi pengurangan sebesar 4.262,47 hektar.

Sejak akhir tahun 1980-an, berarti dalam kurun waktu dua dekade terakhir, terjadi penurunan areal mangrove lebih dari 50 persen di Kabupaten Pohuwato. Dengan laju pengurangan luasan seperti itu, dapat dipastikan bahwa ekosistem mangrove di Kabupaten Pohuwato telah mengalami perubahan yang sangat signifikan.

Foto: Kwitansi pembayaran tambak sebesar Rp 100 juta.

REDAKSI

Leave a Reply

twelve + twenty =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top