Pahit Kopi Pinogu, Tak Sepahit Kisah Ini..

DEGORONTALO – Ningsih Maramis (37) hanya bisa menarik nafas panjang. Betapa tidak, Hampir 30 kilogram bubuk kopi organik hasil produk kelompoknya belum juga terbayar lunas.

Padahal sejak Desember tahun lalu, kopi dalam kemasan 100 dan 200 gram itu, sudah dia setorkan pada salah satu pegawai dinas pertanian Bone Bolango yang bertindak sebagai distributor.

“Uang baru akan dibayarkan setelah seluruh produk terjual. Waktunya tidak bisa ditentukan, itupun dibayar dengan cicilan, ” keluh ibu tiga anak, petani kopi organik dari kecamatan Pinogu.

Pinogu adalah kecamatan enclave dalam Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (TNBNW) . Dihuni 2000 jiwa. Letaknya pun sangat terpencil. Hanya ada dua akses jalan; pertama berjalan kaki menyusuri hutan sejauh 30 kilometer. Kedua dengan menumpang motor ojek sejauh 46 kilometer.

Tapi jangan ditanya medan jalannya; curam dan ekstrim. Juga rawan longsor. Jika berjalan kaki, butuh waktu 8-14 jam.
Nyaris lima tahun belakangan, pemerintah daerah setempat menggadang-gadang Kopi Pinogu sebagai salah satu komoditas unggulan.

Selain dipercaya sebagai tanah leluhur dan muasal orang Gorontalo, Pinogu boleh disebut sebagai “negeri kopi “. Nyaris setiap warga setempat memiliki kebun kopi sendiri dengan luas bervariasi.

Wilhemina

Tanaman kopi di kawasan berketinggian 300 meter dari atas permukaan laut itu, punya rentang sejarah panjang. Pada 1875 silam, kolonial Belanda membawa bibit kopi Liberica. Namun hal itu kemudian mendapat penolakan oleh pihak kerajaan suwawa yang menguasai wilayah itu.

Alhasil, kopi liberika dari Pinogu yang konon disukai ratu Wilhemina, dibiarkan tumbuh liar hingga jadi hutan kopi. Hingga kini hutan kopi itu masih bisa dijumpai di Pinogu. Pada 1970, pemerintah orde baru memberikan bantuan bibit kopi Robusta kepada petani setempat.

Tanah Pinogu yang subur karena sisa endapan lahar gunung berapi, membuat tanaman tumbuh sempurna. Itu sebabnya, petani di sana tidak membutuhkan pupuk kimiawi. Tanaman hanya membutuhkan perawatan seperlunya saja. Organik.

“Kopi Pinogu yang kini dalam kemasan itu, adalah campuran jenis Liberika dan Robusta pilihan,” tambah Nurdin Maini, ketua Asosiasi Petani Kopi Pinogu.

Pada 2012 lalu. Pemerintah daerah memberikan bantuan berupa seperangkat alat pengolahan dan produksi pada petani kopi di Pinogu, bahkan produknya pernah dipromosikan hingga ke Berlin, Jerman.

Tak Adil

Namun demikian, menurutnya hal itu belum sebanding dengan apa yang diperoleh petani. Mekanisme pasar yang berbelit –belit membuat petani kesulitan.

Pasalnya, petani harus “membeli” logo kopi Pinogu yang lebih mirip lisensi, kepada oknum pegawai dinas pertanian Bone Bolango yang mengklaim diri sebagai distributor tunggal.

“Dikatakan oknum, karena dia mendistribusikan kopi pinogu dengan atas nama pribadi,”ungkap Nurdin.

Katanya, harga dasar yang ditawarkan petani pada sang distributor itu berkisar antara 15-25 ribu rupiah, masing-masing untuk kemasan 100 dan 200 gram. Tapi yang diterima petani malah kurang dari itu. Hanya 9.000-19,500 rupiah. Alasannya, harga terpotong biaya logo.

Padahal setelah dijual toko dan supermarket di Gorontalo, harga kopi Pinogu mencapai 17-30 ribu rupiah. Nurdin mengatakan, hingga kini masih ada 4.000 sachet Kopi kemasan milik petani yang belum juga dibayarkan.

Karena itu juga, menurutnya banyak petani lebih memilih menjual kopi biji mentah dengan harga 23 ribu perkilogram, dibayar tunai.
Nurdin kuatir, jika mekanisme pasar yang adil bagi petani tidak tersedia, kebanyakan petani akan beralih menjadi penambang emas seperti dulu. Pinogu memang berdekatan dengan lokasi penambangan emas tradisional.

“Tambang emas tidak selalu menghasilkan, di samping itu, banyak yang percaya jika uang hasil tambang sifatnya “panas”, cepat habis tanpa diketahui, Kami susah payah membujuk warga untuk tetap menanam kopi , agar tidak lagi menambang dan merusak lingkungan, tapi jika keadaannya terus begini, kami tak bisa berbuat apa-apa,” bebernya.

Saat ini, tercatat ada 225 hektar lahan kebun kopi Robusta di Pinogu. Warga juga tengah membudidayakan kopi liberica.

Di tempat terpisah, Bupati Bone Bolango, Hamiem Pou, mengatakan Pinogu memang bukanlah perkara mudah mengingat akses jalannya yang sulit dijangkau. Sebelumnya pemerintah telah membangun jalan beton sepanjang tiga kilometer. tahun ini, akan ada penambahan jalan dengan anggaran satu miliar rupiah.

Terkait mekanisme pasar, menurutnya sementara ini memang masih dikendalikan oleh Pemda, dengan dalih untuk menghindari pembajakan produk. Tapi dia tidak mau mengomentari soal ulah oknum pegawai yang menguasai distribusi kopi Pinogu.

*Foto. Petani Pinogu memperlihatkan biji kopi organik yang telah dijemur (DeGorontalo/Syam Terrajana)

 

SYAM TERRAJANA

Baca juga:

Demi Kopi, Kiki Jalan Kaki 15 Jam!

Menemukan Cita Rasa Ideal Kopi Pinogu Menurut Pakar

Di Pinogu, Durian Boleh Diambil Siapapun Juga

Sekolah Baru di Pinogu ini Terkenal Bernama SMA Macet 2, Kenapa?

Syam Terrajana
Lahir dan tinggal di Gorontalo setelah berkelana di berbagai kota. Membagi waktunya untuk menulis, membaca,melukis dan bepergian. Sesekali menyanyi jika suara sedang bagus. Dapat dihubungi di syam.terrajana2@gmail.com.

Leave a Reply

two × 2 =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top