Pak…

Ilustrasi dari sinarharapan.net

Cerpen oleh Elias (Bergiat di Persma Merah Maron, Universitas Negeri Gorontalo)

Sore, matahari perlahan bergeser ke ufuk barat. Cahayanya mendekap sekumpulan awan hingga berubah warna menjadi tembaga.

Jumat itu, kakiku menginjak di tanah yang belum kukenal. Sebuah desa yang dikelilingi lahan persawahan. Tampak di beberapa petak masih meninggalkan bebatang padi, pertanda panen baru saja selesai. Persawahan itu dikelilingi rindang pepohonan.

Tak jauh dari situ, berdiri gedung kantor desa bercat hijau. Aku dan kawan-kawan disambut seorang pria paruh baya. Ternyata ia telah menunggu kedatangan kami sejak siang hari. Kehadiran kami kesannya seperti telah dinanti-nantikan.

Aku saat itu adalah salah satu mahasiswa yang mengikuti Kuliah Kerja Sumbermas (KKS). Selama 45 hari kami peserta KKS akan mengabdikan diri di desa tersebut. Nama desa itu Limehu.

Aku dan teman-teman menghampiri pria berseragam dinas itu. Kami menanyakan keberadaan Bunda (panggilan kepala desa perempuan di Gorontalo).

“Bunda sudah pulang rumah,” katanya.

“Mana yang lain, kenapa hanya ini yang datang? Katanya ada 22 orang?” tanyanya.

“Yang lain masih dalam perjalanan naik bus kampus,” jawabku.

Setelah itu, dia menyarankan agar kami langsung menuju ke kediaman Bunda, mengingat hari akan segera malam. Kami pun bergegas menuju kediaman Bunda sore itu.

Selang beberapa menit perjalanan, kami sampai di rumah Bunda. Tiga kali kami mengucap salam, muncul seorang perempuan paruh baya. Ia menjawab salam lalu bertanya kepada kami.

“Ada apa, Dik?’

Ti Bunda ada, ibu?”

“Bunda lagi salat, tunggu sebentar ya,” katanya ramah, lalu mempersilakan kami menunggu di teras rumah.

Selang beberapa menit, Bunda keluar dari dalam rumah.

“Kenapa baru datang? Bukannya pembimbing tadi menelepon, kalau jam tiga kalian sudah harus di sini?” tanyanya dengan nada kesal. Ia mengajak kami kembali ke kantor desa.

Seiring perjalanan kami menuju kantor desa, rombongan KKS yang berada di bus pun sampai. Sinar matahari sudah mulai redup kala itu, menandakan malam akan segera menggantikan sore.

Melihat hari sudah mau malam, Bunda mengantarkan kami ke rumah yang akan kami tempati selama di desa. Saat itu kami juga dibantu pria tadi, yang ikut membawa perlengkapan kami.

Sesampainya di rumah yang akan kami tinggali, aku berbincang-bincang dengan pria yang sudah membantu membawa perlengkapan kami.

“Pak, sudah lama kerja di kantor desa?”

“Belum lama, sejak terpilihnya Ti Bunda jadi kapala desa, baru saya kerja,” jawabnya.

“Nama bapak siapa?”

“Hardi.”

“Oh, pak Hardi. Salam kenal ya.”

Setelah itu, aku mengucapkan terima kasih kepadanya, karena sudah membantu kami.

Malam tiba. Di teras rumah, aku mendengarkan kisah pak Hardi dan pak Ako. Pak Ako adalah pemilik rumah yang kami tinggali sementara. Pak Hardi malam itu bercerita tentang pengalamannya, bagaimana dia bisa sampai ke Gorontalo dan menikah di sini. Gaya bicaranya sedikit gagap. Cerita yang sama pula dituturkan pak Ako. Aku menjadi pendengar setia kisah mereka, kendati kantuk sudah mulai menyergap.

“Besok saya kembali ke sini, kalau ada keperluan apa-apa segera hubungi saya,” kata pak Hardi, memungkas pembicaraan kami malam itu.

Paginya, kami peserta KKS jalan sehat sekaligus melihat-lihat rutinitas di desa. Selesai jalan sehat, kami bersantai di depan halaman posko. Saat itu ada koordinator desa di sana.

Aku bertanya kepadanya, “Pak Hardi kerjanya apa di kantor desa?”

“Hardi cleaning service di kantor desa,” jawabnya.

Seiring berjalannya waktu, kami mulai akrab dengan pak Hardi. Dia selalu bersama kami, membantu segala kegiatan kami di desa. Dari penuturannya malam itu, pak Hardi berasal dari Bolaang Mongondow Selatan. Dan di desa Limehu, ia memang dikenal rajin di kalangan masyarakat setempat.

Minggu siang, matahari terasa panas menembus kulit. Siang itu kami dan pak Hardi sedang berjalan menuju kantor desa. Di tengah jalan, kami bertemu dua anak kecil yang sedang memainkan ban bekas sepeda motor, yang mereka gelindingkan di jalan. Tiba-tiba anak-anak itu berteriak memanggil pak Hardi dengan sebutan lain.

Komdan! Komdan! Mauuu, ke ma… na?” teriak anak-anak kecil itu seakan mengejek gaya bicara pak Hardi yang gagap.

“Awas ya!” teriak pak Hardi.

Pak Hardi sudah berusia di atas 50-an. Tak pantas sebenarnya ia diperlakukan seperti itu. Ah, dasar anak-anak, pikirku.

Pada suatu malam, kami mengadakan rapat dengan Rema (Remaja) Muda, dengan maksud akan mengadakan kegiatan tambahan di desa. Di sela-sela kami diskusi, ada seorang teman Rema Muda menawarkan rokok kepada pak Hardi.

“Har… Har… Hardi, ini rokok,” kata remaja itu dengan nada mengejek.

Pak Hardi segera mengejar remaja itu. Suasana malam itu penuh dengan tawa. Namun seorang remaja lain seperti tergerak hatinya, lalu dia menegur  remaja yang mengejek pak Hardi.

Aku pun mulai mempertanyakan, tak adakah yang memanggil bapak atau om, kepada pak Hardi? Semua anak-anak, remaja dan orang tua, memanggil dia hanya dengan namanya saja. Terkadang dia juga dipanggil “komdan”. Semakin lama aku mengenal dia, aku merasa iba. Pak Hardi seperti tidak dihormati sama sekali.

Suatu pagi kami pergi menjemput pak Hardi di rumahnya. Kami akan pergi mencari bambu untuk kegiatan pentas seni dan olahraga Hulude Da’a Cup.

Kami bertanya-tanya kepada penduduk desa di mana rumah pak Hardi. Setelah mencari, kami menemukan rumah bercat putih di samping warung kecil di tikungan jalan. Ada seorang perempuan paruh baya sedang menyapu halaman rumah itu.

“Pagi ibu, ini rumahnya, pak Hardi?”

“Iya, kenapa, Dik?”

“Tadi malam sudah janjian dengan pak Hardi, mau cari bambu.”

“Oh, mari masuk. Bapak sedang makan.”

Kami juga ditawari makan, tapi kami dengan sopan menolak karena kami sudah sarapan.

Selagi kami menunggu, pandanganku menyapu seisi rumah. Aku duduk di kursi plastik hijau yang warnanya telah memudar. Sandarannya patah. Di samping kursi ada setumpuk pakaian yang baru dicuci dan belum dilipat. Dalam hati, saya merasa iba dengan kondisi rumah pak Hardi. Jendela rumahnya tak lagi berkaca, hanya ditutupi tirai putih yang kusam. Cat dinding terkelupas di sana-sini. Ada foto presiden pertama Indonesia, Bung Karno, terpampang di sana. Juga foto mantan presiden Megawati saat sedang serah terima jabatan bersama para petinggi negara. Ada juga foto-foto pernikahan keluarga.

Tak lama kemudian pak Hardi muncul dari dapur. Kami segera diajaknya pergi mencari bambu.

Di perjalanan aku bertanya kepadanya, “Pak Hardi, berapa gajinya?”

“Tiga ratus ribu,” jawabnya.

“Cukup untuk kebutuhan rumah tangga?” tanyaku lagi.

“Cukup tidak cukup, ya, harus dicukupin.”

“Bagaimana biaya anak sekolah?”

“Saya pelihara sapi, kalau ada kebutuhan mendesak, dijual sapinya,” jawab pak Hardi.

“Tidak ada kerja sampingan?”

“Ada, kalau musim panen, saya kerja di gilingan padi,” katanya.

Seiring waktu berlalu, kegiatan kami di desa semakin padat dan hubungan kami dengan masyarakat menjadi semakin intim. Tapi kami kehilangan sosok pak Hardi. Ia mulai jarang terlihat di posko. Entah apa kesibukannya akhir-akhir ini.

Tibalah waktunya kami beranjak pergi dari desa itu. Setelah selesai salat Jumat, kami berkumpul di kantor desa. Kami akan foto bersama sebagai tanda perpisahan.

Kami mencari-cari pak Hardi untuk diajak foto bersama. Ia kami temukan tengah bersandar di pagar halaman kantor. Ia terlihat merenung.

“Ayo, foto bersama,” ajak kami.

Pak Hardi akhirnya berfoto bersama kami. Setelah itu aku bertanya kenapa tadi ia memilih berada di halaman kantor. Saat itulah, aku melihat matanya berkaca-kaca. Pak Hardi menangis.

“Jangan sedih pak Hardi, nanti kami akan berkunjung lagi ke sini,” hiburku.

“Selama saya tinggal di desa ini, hanya kalian yang memanggil saya dengan sebutan bapak,” katanya pelan. Ia masih menangis.

Langit yang sebelumnya cerah dengan matahari yang begitu menyengat, seolah tertutup sekumpulan awan hitam.

Aku… kami… ikut menangis.

Kristianto Galuwo
Sigidad. Duda berputri satu-satunya bernama Sigi. Sering sial seperti Donal Bebek, karena itu dirajahi tato Donal Bebek di lengan kanan sebagai segel anti sial. Suka sekali makan ayam bakar/goreng/santan apalagi yang dibumbui sejumput puisi. Bisa disapa di facebook: Kristianto Galuwo dan diterawang di blog Getah Semesta.
http://sigidad.blogspot.co.id/

Leave a Reply

19 − 18 =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top