Paus Orca Dihormati Dalam Adat Pesisir Gorontalo

Paus Orca (Reference)

DeGorontalo – Asrin Towalu, 49 alias Ka Asi masih ingat, bagaimana para orang tua di kampungnya di pesisir Inengo menggelar prosesi adat jika melihat ada Paus melintasi perairan.

Mereka menebar beras lima warna di pantai, terdiri dari beras merah, ungu, putih,biru dan hitam. Ada juga sesaji berupa sirih, pinang juga rokok.

“Paus dipercaya mendatangkan banyak berkah bagi nelayan, karena saat di melintas, berarti menandakan banyak ikan di situ” katanya.

Belakangan ini, Ka Asih dan sejumlah rekan-rekannya sesama nelayan mendadak terkenal gara-gara video amatir berdurasi 2 menit 49 detik.

Video itu menggambarkan aksi penyelamatan paus pembunuh (Orcinus orca) yang terjerat di pukat kapal penangkap ikan, 15 mil dari pesisir pantai Desa nelayan Inengo, Kabila Bone, Bone Bolango Gorontalo.

Untuk melepaskan Paus putih hitam sepanjang 15 meter itu, Ka Asih dan rekan-rekannya rela merobek jaring pukat, membiarkan ikan hasil tangkapan di kapal “Putra Laut MX” yang diperkirakan mencapai 1 ton, terlepas begitu saja.

Ansar Rahman, 38, sang pemilik kapal juga ingat, terakhir dia menyaksikan prosesi adat itu pada 1993 silam. Neneknya, kala itu yang melakukan prosesi menebar beras tujuh warna itu di laut, sesaat setelah terlihat ada paus melintas .

“Setelah beras ditebar, ikan-ikan sekejap bermunculan,” ujarnya kepada DeGorontalo, belum lama ini.

BACA JUGA: 

Seingatnya, ada tiga jenis ikan besar yang ditindaklanjuti dengan prosesi adat jika mereka melintasi perairan. Ketiganya yakni Paus Orca yang disebut Paupausu, Hiu Paus (Rhincodon typus) atau yang dikena sebagai Munggiango Hulalo, serta Dugong yang dikenal sebagai Sisilai.

Sayang, prosesi itu kini tidak pernah lagi dilakukan.

Menurutnya, Paus Orca bukan sekali ini saja terlihat. Nelayan setempat kerap berpapasan dengan paus yang sanggup membunuh Hiu puth yang ganas sekalipun itu, pada musim-musim tertentu.

Saat musim angin timur yang biasanya terjadi pada bulan Mei, Paus Orca kerap menyeberang dari arah timur ke barat. Lalu pada musim barat yang dimulai pada November, Paus Orca menyeberang dari barat ke timur.

Kehadiran Paus orca itu sekaligus menjadi penanda, di sana banyak ikan berlimpah.

Kepercayaan adat lainnya juga berlaku pada proses pembuatan perahu atau kapal ikan, dimana ukuran panjang perahu itu cenderung ganjil.

Proses pengukuran untuk pembuatan perahu itu disebut sebagai Payango. Ansar mencontohkan, panjang kapal “Putra Laut MX” berkapasitas 20 gross ton yang pukatnya sempat dinaiki Paus Orca itu berukuran 18,75 meter.

“Kapal atau perahu yang tidak di Panyago, biasanya akan mengalami Pombolo, atau sial dan tidak mendapatkan tangkapan,” katanya.

Angka ganjil itu terkait dengan keesaan Tuhan (dalam Islam) yang diyakini menyuai angka ganjil.

Dia mengaku beruntung karena disambangi Paus Orca, meski harus kehilangan sekitar 1 ton ikan tangkapan. Buktinya kata dia, hasil tangkapan berikutnya justru melimpah.

Dia percaya, menyakiti ikan itu akan mendatangkan kesialan. Katanya sudah banyak bukti di kampungnya, ada nelayan kapal ikan yang membunuh paus kemudian bangkrut setelah itu.

Verrianto Madjowa, Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Sarjana Kelautan Indonesia (DPP ISKINDO) membenarkan jika kehadiran Paus Orca, merupakan penanda banyaknya ikan.

Sebab, selain memangsa anjing laut, hiu putih, dan hewan laut, Paus Orca juga memangsa ikan pelagis yang kerap menjadi tangkapan nelayan.

“Bentuk kearifan lokal masyarakat pesisir Gorontalo, sarat dengan nilai konservasi,” katanya (*)

Syam Terrajana
Lahir dan tinggal di Gorontalo setelah berkelana di berbagai kota. Membagi waktunya untuk menulis, membaca,melukis dan bepergian. Sesekali menyanyi jika suara sedang bagus. Dapat dihubungi di syam.terrajana2@gmail.com.

Leave a Reply

twelve + 7 =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top